
Hans terus mengungkung gadis yang telah membuatnya frustasi karena setelah malam itu, Hans tak punya gairah pada wanita manapun yang dia lihat selain gadis ini. Dia terus bermain tak kenal lelah selalu mengulang tanpa mau mendengarkan rintihan Cahaya yang menyuruhnya berhenti.
"Tuan, tolong hentikan aku tidak kuat," kata Cahaya dengan tatapan mata memohon.
"Maaf aku tak bisa berhenti terlalu nikmat untuk di tinggalkan, Milikmu benar-benar nikmat Cahaya, apa setelah ini kau akan lari dariku?" tanya Hans pada gadis itu di tengah-tengah aktifitasnya.
"Apa aku sanggup berada di sisi Anda sementara Anda seperti iblis," kata Cahaya dengan sorot mata terluka dan penuh kebencian.
"Hahaha kenapa kau berkata begitu? Banyak wanita yang mendamba untuk bisa di posisi seperti dirimu saat ini dan kesempatan itu ku berikan hanya untukmu, Haya. Ku tanya sekali lagi padamu apa kau akan pergi dariku setelah ini?" tanya sambil terus menggerakan tubuhnya tenaga menjadi berlipat ganda seperti tak punya rasa lelah, di lepas di masukan begitu berulang kali.
"Tolong hentikan, Tuan, saya sudah tidak kuat lagi, Anda punya kuasa, bisa lari kemana saya, apalagi saat ini Anda sudah mengambil milik saya yang paling berharga yang selama ini saya jaga untuk suami saya," katanya terbata-bata, Cahaya merasakan area bawah terasa perih juga nikmat, tubuhnya benar-benar tidak memungkiri rasa itu berulang kali dia berada di puncak dan saat itu terjadi pria yang berada diatas tubuhnya tersenyum menyeringai seolah mengatakan. 'Lihat Haya, kau kalah kau menikmatinya,' pikir gadis itu, tatapan mulai meredup, dia sudah tidak kuat dengan rasa itu, berulang kali melenguh, hingga tenggorokannya kering tubuh seperti tak bertulang, Hans mengerang kembali bersama dengan Cahaya yang terkulai pingsan.
Hans menatap gadis itu, diciumnya keningnya lalu melepaskan senjatanya kemudian dia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya, hampir enam jam dia mengungkung gadis ini dan saat ini dia benar-benar sangat puas, dia turun dari tubuh itu, dan memandang kembali tubuh gadis pujaannya itu karya indah bertebaran mewarnai tubuh putih nan mulus itu.
__ADS_1
"Sebentar yaa sayang, aku siapkan air hangat untukmu," katanya lirih sambil berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, lima belas menit kemudian dia kembali dengan balutan handuk yang menutupi area bawahnya lalu menghampiri wanitanya dan menggendong kedalam kamar mandi, dan memasukkan gadis itu ke dalam bathtub serta memandikannya dengan lembut tak lama kemudian menggendongnya kembali dan di baringkan di sofa lalu dikeringkan tubuh itu, setelah itu memakaikannya kemeja miliknya.
Has menatap ranjangnya, ada noda darah yang cukup banyak, ia menarik seprei itu, dan menyimpan di lemari pakaian, ia mengambil pakaiannya dan segera memakainya, lalu mengambil sprei yang baru dan digelar begitu saja pada matras tempat tidurnya, kembali pria itu menghampiri Cahaya yang masih pingsan karena ulahnya.
Dia mengangkat tubuh wanita itu dan dibaringkan di atas ranjangnya. di periksa bagian tubuh sensitif wanitanya dengan seksama dia membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang diperbuatnya, Hans menarik napas dan membiarkan kaki Cahaya merenggang lebar, lalu keluar menutup pintu kamarnya dan mengambil handphonenya dan mulai menelpon seseorang.
"Brain, keruangan Ari ambil salep yang ku butuhkan dan siapkan infus juga peralatan lainnya dan bawah gadis yang bernama Nina keruangan ayahku, aku mencurigainya," perintah pada asistennya lalu dia menelpon sang adik yang saat itu masih berada di ruangannya bersama Belvi
Belvi duduk semakin gelisah jam sudah menunjukkan dua siang, dia hanya bisa keluar untuk sholat selebihnya dia harus kembali, ingin rasanya Belvi pergi dari sini, tetapi ternyata sangat sulit dilakukan ketika setelah sholat dia telah di tunggu oleh suruhan Dokter Ari.
"Siapkan salep dan obat yang ku butuhkan berikan pada Brain, apa gadis itu masih di ruanganmu?Jika iya serahkan pada Brain jangan ikut campur urusanku!" suara Has terdegar diseberang sana dengan nada tegas.
Dia menghembuskan nafas, menatap sekilas lalu menjawab, "Iya." Kemudian pria itu mematikan teleponnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan dirimu, kakakku bertindak cepat, lari dan sembunyi pun tidak ada gunanya buatmu," kata Dokter Ari sambil menyiapkan obat yang di butuhkan kakaknya itu.
"Lalu kenapa kau menahan ku, agar aku benar-benar bisa diserahkan pada ayahmu, Anda sama saja dengan mereka, ku kira Anda berbeda," kata belvi sambil mengaktifkan alat penghubung dengan Vino.
Vino yang mendengar itu mulai berusaha mencari jalan untuk bisa keluar dari sini.
'Sial, belum apa-apa sudah terendus, jangan-jangan beberapa orang sudah tertangkap,' pikirnya. Dia membersihkan lantai sambil berpikir keras.
Sementara itu di ruang Dokter Ari pun tengah berpikir bagaimana menyelamatkan gadis ini jika kakaknya sudah merasakan curiga maka dengan alasan apapun dia tak akan bisa menyelematkan seseorang walaupun dengan alasan perasaannya itu pernah terjadi ketika dulu dia menyelamatkan gadis yang dia cintai justru gadis itu pergi dari sisinya setelah itu kepergiaan gadis itu terjadi kekacauan, rumah sakit dan bisnis Daddy-nya itu. Hingga ketukan pintu membuatnya terkesiap.
"Masuk!" perintahnya.
Brain masuk dengan seorang perawat pria yang membawa infus dan peralatan lainnya, bisa ku tebak apa yang terjadi di ruangan kakakku itu, Brain menghampiri Dokter Ari sambil melirik Nina yang berusaha tenang.
__ADS_1
Dokter Ari, memberikan obat yang di butuhkan kakaknya lalu berkata, "Biarkan gadis ini menjadi milikku, kau cari yang lain saja untuk Daddy."