Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 102


__ADS_3

Ke esokan harinya, sepulang dari masjid Vino kembali mendengar Belvi memuntahkan makanannya. Vino segera mencari sumber suaranya Lalu dia pijat tengkuk sang istri. "Sudah buang air kecil, sayang?" tanya Vino


"Belum, kenapa kau tanya begitu?" tanya Belvi sambil menyipitkan matanya.


"Kalau begitu, jangan buang air kecil dulu tunggu aku ya!" pintanya.


Mata Belvi terbelalak mendengar ucapan Vino.


"Apa maksudnya? Jangan macam-macam, ya!" teriak Belvi


Vino hanya tertawa sambil berjalan masuk ke dapur mencari wadah untuk menampung urine dan dia menemukan lalu membawanya ke kamar mandi.


"Sayang, tolong tampung urine mu di sini!" pintanya


"Buat apa?" tanya Belvi mengerutkan dahinya.


"Ck, sudah menurut saja, harusnya istri ku yang lebih tahu dariku," katanya


"Baik lah terserah kamu lah, sekarang kamu keluar dulu," kata Belvi.

__ADS_1


"Ngak mau aku mau lihat kamu menampung urine di wadah itu," jawab Vino.


Belvi menatap tajam suami. "Jika kau tetap di sini aku tidak akan bisa keluar," katanya lagi.


"Baik lah, tetapi janji ya kau menampungnya di wadah itu," pinta Vino.


"Iya," jawab istrinya dengan mengulum senyum dia pun keluar dari kamar mandi.


Tak lama kemudian Belvi keluar sambil membawa wadah berisi urine. Seketika itu Vino tertawa dengan kerasnya sambil menerima wadah itu pasalnya Belvi menampung urinenya satu wadah penuh.


"Ya, tidak sepenuh ini, sayang," kata Vino


"Iya, aku salah," katanya sambil membuang sebagian urine yang ada di wadah itu lalu di di letakan testpack di wadah itu dan menunggu beberapa menit lalu mengambilnya.


"Nanti sore kita ke dokter, ya," kata Vino sambil tersenyum pasalnya ia melihat garis dua walaupun samar.


"Kenapa kita ke dokter? Tidak perlu aku hanya masuk angin, Mas," jawabnya.


"Ayolah sayang menurut saja!" pinta Vino.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu mas? Dari tadi memaksa terus," kata sambil memberengut dia duduk di depan meja makan mengambil dua Roti dan mengisinya dengan selai kacang lalu di satukan di taruh di piring kecil kemudian menaruhnya di depan meja sang suami.


Vino tersenyum. "Jangan marah dong, sayang, ini untuk ke baikan mu juga, jika kita tahu lebih awal, itu lebih baik agar kita bisa menjaganya, sayang," kata Vino.


"Mas aku hanya tanya kenapa harus ke dokter? Namun, jawabanmu bertele-tele," jawab Belvi sambil mengigit rotinya


"Nanti setelah bertemu dokter, Mas akan kasih tahu kamu, sekarang kamu istirahat saja, tidak usah masak beli saja," kata Vino pada istrinya.


Setelah menghabiskan sarapannya dia pun berpamitan untuk pergi kekantor, dengan langkah tegap berjalan keluar dari apartemennya.


Belvi beranjak dari tempat duduknya berjalan ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang, tak lama kemudian dia terlelap


Dia terbangun saat adzan dzuhur berkumandang, dia mengerjapkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu wanita itu melaksanakan sholat zuhur.


Setelah sholat, dia mengetik di kolom pencarian dian ingin tahu apa yang di kawatir Vino.


Hingga terlihat olehnya tulisan testpack. Bukankah orang yang sedang hamil, Belvi melebarkan matanya dan mengelus perutnya, 'Apa aku hamil?' batinnya,


Dia tersenyum alangkah bodohnya dia hingga tidak tahu apa yang dinamakan testpack. 'Oh semoga saja aku memang hamil,' batinnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2