
Vino menatap tajam pada Belvi. "Sudah pesan?" tanyanya pada Belvi.
"Belum, aku baru mau pesan dan bilang ke kamu dulu," kata Belvi sambil menunduk.
"Jangan pesan! Akan aku antar kesana," jawabnya sambil meninggalkan Belvi dan berjalan menuju motornya.
"Vi!" panggil Vino.
"Iya!" teriak gadis itu sambil berlari kearah Vino mengambil helm dan memakainya lalu naik ke motor Vino tak lama kemudian kuda besi itu meluncur meninggalkan sekolah menuju jalan raya dengan kecepatan tinggi dan tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di restoran itu.
Belvi turun dari motor dan memberikan helm pada Vino.
__ADS_1
"Trimakasih," ucap Belvi namun tak mendapatkan jawaban dari Vino, langsung melesat meninggalkannya, Belvi terdiam lalu mendesah pelan kemudian masuk kedalam restoran itu, dia melihat ke kanan dan ke kiri tak ada yang istimewa, tidak ada suatu perayaan layaknya resepsi pernikahan, sang Ayah melambaikan tangannya untuk menunjukkan keberadaannya. Belvi berjalan mendekati meja sang ayah setelah sampai dia pun mencium punggung tangan sang ayah juga Naila yang sekarang menjadi ibu ayahnya.
Belvi duduk di kursi kosong di depan mereka. "Kok cuma Dadd dan tante, yang ada di sini? Yang lainnya mana?" tanya Belvi pada mereka,
"Kok Tante sih sebutnya, bunda dong sayang?" pinta Naila sambil menyentuh jemari tangan Belvi.
Belvi terkekeh. "Iya, Bun, maaf belum terbiasa."
"Harus dibiasakan yaa," perintah Naila penuh penekanan.
"Oh, manisnya, bunda aku sangat tersanjung di perlakukan seperti ini," kata Belvi.
__ADS_1
"Ayo, kamu pesan apa pesan saja," kata Albert pada putrinya itu.
Mereka pun makan bersama dengan sambil mengobrol, Albert begitu antusiasnya menceritakan masa kecil Belvi dengan tatapan yang tak lepas dari ibu sambungnya, entah kenapa hatinya sedikit berdenyut nyeri seolah takut kasih sayang Ayah berpindah pada wanita tambatan hatinya, terlalu cepat, itu menurutnya.
Belvi pun meminta ijin untuk pergi ke toilet, di sana dia berusaha memperbaiki hatinya yang sedang kacau. Kenapa dia harus cemburu bukankah pantas jika Ayahnya menikah lagi karena sudah lama menduda, rasanya tidak adil jika pada akhirnya ia menghalangi kebahagiaan pria yang selama ini membesarkannya sendirian, toh setelah lulus dia pun akan mendaftar sebagai seorang polisi dan akan meninggalkan sang ayah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Setelah merendahkan hatinya dia pun kembali ke tempat dia duduk.
Naila menyambutnya dengan sangat senang, setelah selesai makan mereka pun berjalan keluar dan masuk kedalam mobil yang kemudian meninggalkan restoran menuju rumahnya.
Setelah sampai di depan pintu gerbang rumahnya, yang ayah pun berbicara padanya.
"Maaf Belvi hari ini sampai dua hari ke depan, kamu mungkin akan sendiri di rumah, karena kami akan menginap di hotel selama 3 hari hadiah dari teman sayang kalau tidak di pakai," kata Albert sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa Ayah silakan, toh, Belvi juga sudah besar, Selamat bersenang-senang Daddy" katanya sambil mencium punggung tangan mereka sambil tertawa lalu keluar dari mobil dan masuk kedalam rumahnya. Belvi melambaikan melambaikan tangannya berdiri di depan pintu pagar menatap kepergian sang Ayah, kemudian dia pun masuk ke dalam rumah lalu masuk ke dalam kamarnya.
Dia pun segera berganti pakaian lalu menunaikan kewajiban sholat duhur, sebagai seorang muslim, setelah itu dia merebahkan dirinya di atas ranjang.