Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 96


__ADS_3

"Aku Serius, Vi, aku belum pernah merasakan seserius ini, aku sangat yakin kali ini, Vi," jelas Vino.


"Aku bukan wanita yang lembut seperti kak Glo, walau aku bertemu dengannya hanya beberapa jam saja sebelum dia pergi untuk selamanya, saat itu aku sudah siap untuk di ambil tulang sumsumku untuk dia, hanya menunggu tiga hari saja untuk bisa melakukan operasi. Namun, takdir bicara lain, Allah lebih mencintai kakakku itu. Kau tidak tahu Vin betapa sakit hati aku dan Daddy waktu itu, aku sempat marah pada takdir yang memisahkan kami sedari kecil dan mempertemukan kami hanya beberapa jam saja dan aku tidak bisa lagi melihatnya, berbicara dengannya bahkan berharap untuk bertemu kembali tidak ada," terang Belvi dengan mata yang berkaca-kaca.


Gadis itu menghembuskan nafasnya. "Perlu kau tahu aku memang mengejar mu, tetapi bukan karena permintaan kakakku tetapi aku yang ingin mengejar mu berharap kamu mencintaiku, aku akan mengirim video pesannya terakhirnya untukmu. Dia berpesan padaku Video itu hanya bisa kuberikan padamu saat benar-benar kau mencintai ku, Vin," katanya kembali sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, kirimkan padaku, aku tidak akan berubah, Vi, sebab aku benar-benar tertarik padamu saat kau berbeda dengannya, memang di awal-awal pertemuan kita aku begitu marah padamu kenapa kau mirip sekali dengannya membuatku selalu ingat luka itu, tetapi seiring waktu berjalan aku menyukai mu, mungkin aku bersama denganmu begitu lama, setiap kali bertugas selalu bersama, sementara aku dan Gloria hanya satu Minggu bersama dan aku merasa cintaku begitu kuat padanya," kata Vino Belvi.


"Jika kau berubah pikiran karena video itu tolong hapus saja, karena Gloria berpesan padaku, tidak boleh memberikan padamu untuk selama-lamanya jika kau tidak bisa mencintaiku," kata Belvi sambil membuang tatapannya kearah luar jendela kaca pesawat.


"Kita lihat saja besok apakah aku berubah saat melihat video itu apa tidak, jika ternyata aku tidak berubah maka saat itu kau harus bersedia menikah denganku, setelah melihat bagian tubuhmu saat menjahit lukamu itu aku sudah tidak bisa menundanya lagi, setiap kali melihatmu aku ingin segera memiliki mu dalam konteks lain," kata Vino menatap gadis itu.


Wajah Belvi merona dengan apa yang di paparkan Vino, dia tidak mengira pria itu akan semesum ini padanya padahal selama ini dia selalu membuang muka saat bertatapan langsung dengannya.


Vino tertawa. "Kau sangat cantik kalau sedang tersipu, oh tuhan tolong kuatkan aku sebab aku benar-benar tergoda oleh gadis yang ada di sebelahku ini," katanya sambil terkekeh dia sandarkan tubuhnya di sandaran kursi Belvi tersenyum lalu mencoba memejamkan matanya menghalau debaran jantung yang berdetak semakin cepat.


"Tidurlah Vi, perjalanan kita masih lama," kata Vino ikut memejamkan matanya.


Hatinya serasa legah setelah mengatakan yang sesungguhnya pada Belvi, ya, debaran hati ini memang untuk Belvi bukan Gloria lagi, jodoh Gloria bukan di dunia tapi diakhirat dan itu bukan dirinya, berulang kali dia menantang maut tetapi maut itu tidak jua merenggut nyawanya, justru Belvi lah yang terluka dan dia tidak ingin wanita yang ada dalam hatinya kembali meninggalkan dirinya selama-lamanya.

__ADS_1


Vino mencoba memejamkan matanya agar perjalanannya nyaman. Tidak teringat saat dia harus menjahit luka di tubuh Belvi, itu sama sekali tidak dapat dia lupakan.


Mereka pun terlelap dalam perjalanan pulang hingga pesawat mendarat dan terdengar pemberitahuan mereka pun baru terbangun.


"Apa kau kuat berjalan, Vi, seharusnya kau tidak pulang dulu dan di rawat selama satu bulan di sana atau kita ikut helikopter Brigjen Yuda," kata Vino menguwatirkan gadis itu.


"Aku tidak apa-apa, aku tidak mau satu helikopter dengan Vivi, aku terluka karenanya tetapi seenaknya saja dia memintaku jadi mak comblang antara dia dan kamu," keluh Belvi pada Vino.


"Jadi kau tidak bersedia?" tanya Vino menggoda gadis itu.


"Jelas saja tidak, apa kau ingin mendekatinya?" tanyanya pada Vino sambil menoleh ke arah pria itu.


Belvi terdiam dengan ucapan Vino dan kembali meneruskan langkahnya.


Vino tersenyum, dia melihat kecanggungan Belvi padanya.


"Vi, apa kau tidak pernah berfikir kenapa kita selalu di tugaskan dalam misi yang sama saat pertama kita bergabung di pasukan elit bagian kriminal, semuanya itu tidak kebetulan, karena tidak ada kata kebetulan dalam sebuah takdir, mungkin iya takdirku adalah dirimu dan Gloria adalah jalan pertemuan kita, jika aku tidak bertemu Gloria maka aku tidak akan bertemu dengan mu, menjadi orang yang menyebalkan bagiku juga bagimu," katanya sambil menahan tubuh Belvi agar tidak terjatuh.


Belvi hanya diam saja dia mengingat moment di saat pria itu menjadi orang yang menyebalkan bagi dirinya lalu dia tersenyum, saat mengingat dia harus sembunyi saat pria itu datang di sirkuit.

__ADS_1


Setelah keluar dari pesawat dan berjalan sedikit jauh dia pun sampai ke terminal kedatangan, sebuah mobil hitam telah terparkir di sana dan seseorang melambaikan tangannya memberi isyarat kalau dia sudah datang menjemput. Siapa lagi kalau bukan Natan dan Roan.


"Kamu meminta mereka menjemput?" tanya Belvi pada Vino


"Ya, kau terluka, aku tidak mau Om Albert terkejut, karena putrinya terluka, aku akan membawamu pulang dulu, aku sudah berjanji menjagamu tetapi ternyata aku tidak bisa menjagamu, Vi," kata Vino penuh penyesalan


Mereka pun sampai di mobil Natan lalu mereka pun masuk kedalam mobil. Natan menoleh pada mereka berdua. "Kita perlu ke rumah sakit dulu apa langsung ke rumah Belvi.


"Kita ke rumah sakit dulu, dia tidak mau ku periksa biar dokter saja yang memeriksa lukanya, harusnya dia tidak boleh pulang dulu tapi dia begitu memaksa," kata Vino pada sahabatnya itu.


"Kita langsung pulang saja aku tidak apa-apa, Tan," protes Belvi.


"Rumah sakit dulu. Vi, tolong hargai aku, aku bertanggung jawab padamu, jika terjadi sesuatu dengan mu apa yang ku katakan padamu ayah dan ibumu," jelas Vino menatap tajam pada gadis itu.


Belvi pun menatap pria itu, dia tahu dari dulu Vino tidak suka di banta bahkan dia pun tidak sanggup membantah apa yang menjadi keinginannya.


"Baik lah kita ke rumah sakit dulu untuk memastikan lukaku baik-baik saja," kata Belvi pada akhirnya.


Natan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang, sambil mengemudi dia pun mulai mengeluh. "Begitu lah perempuan, Vin, mulai sekarang kau harus membiasakan diri mendengar perdebatan kecil mereka, mereka pasti akan berdebat dulu baru mengiyakan." Natan tertawa disela-sela keluhannya.

__ADS_1


__ADS_2