
Sembari menahan sakit akibat luka bakar ditangannya, Denny berpamitan untuk pulang pada Mariam dan Shaka.
"Shaka, Paman harus pulang. Jaga Ibumu baik-baik, ya!" pinta Denny lalu bergegas menuju sepeda motornya.
"Baik Paman! Shaka akan menjaga Ibu dengan baik" jawab Shaka patuh.
"Mas Denny!" panggil Mariam yang membuat langkah Denny terhenti lalu menoleh ke belakang.
"Ada apa lagi Mariam? baru beberapa langkah saja aku bergegas dari hadapanmu, kamu sudah rindu!" ujar Denny percaya diri.
"Berhentilah bergurau Mas! aku hanya menitipkan ini untuk Ibu" tandas Mariam.
"Apakah ini bolu gosong yang kau masak tadi? Mariam...," ledek Denny saat melihat yang di bawakan padanya adalah kue bolu.
"Apa Mas pikir aku sebodoh itu? membuatku kesal saja!" ketus Mariam.
"Baiklah...'Lihatlah Denny, dia mengirikan Ibumu kue bolu tapi dia sangat tidak ramah padamu' ya sudah," gerutu Denny sengaja suaranya dikeraskan agar Mariam mendengarnya.
Mariam yang mendengar itu tetap diam dengan wajah datar. Setelah selesai dengan urusannya, Mariam langsung kembali ke dalam rumah. Denny memperhatikan langkah kaki wanita yang dicintainya itu hingga luput dari pandangannya.
Sembari menahan rasa panas dan pedih di tangannya, Denny kemudian melajukan sepeda motornya. Mariam melihat Denny dari balik gorden dan tersenyum.
"Ibu... apa Ibu sangat menyayangi Shaka?" tanya Shaka mengalihkan fokus Mariam.
"Tentu saja Nak, Ibu menyayangi Shaka lebih dari diri Ibu sendiri," ucap Mariam seraya mengusap lembut kepala bocah itu.
"Kalau begitu, apa boleh Shaka meminta sesuatu pada Ibu?" lanjut Shaka.
"Asalkan Ibu mampu melakukannya, pasti Ibu turuti... katakan, Shaka ingin apa?" kata Mariam.
"Ibu, apa orang dewasa boleh menikah lagi setelah diceraikan suaminya?" entah dari mana anak seusia Shaka mengerti tentang sebuah kata cerai.
__ADS_1
Pertanyaan Shaka meredupkan pancaran senyum di wajah Mariam. Apa yang harus ia katakan pada Shaka? sementara Mariam sendiri tidak yakin bahwa Shaka akan mengerti penjelasan dari Mariam.
"Emm... Shaka, Ibu buatkan kue bolu yang sangat enak untuk Shaka, Shaka makan dulu ya Nak!" bujuk Mariam berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Baik bu! tapi Shaka ingin tahu dulu, apa benar orang dewasa yang sudah bercerai boleh menikah lagi?" kekeh Shaka.
"Ya...," Mariam tak meneruskan kata-katanya dan hanya mengangguk saja.
"Bu... Shaka ingin Ayah, bukankah Ayah sudah menceraikan ibu? Shaka sudah mendengarnya, Bu. Kalau begitu menikahlah dengan paman Denny, Bu."
"Shaka! jangan lancang...," bentak Mariam hingga bocah itu hampir melompat karena kaget.
"Shaka, Ibu tidak pernah mengajari Shaka untuk ikut campur pada masalah orang dewasa, waktumu belum cukup untuk mengerti semua ini," papar Mariam bagai lebah yang menyengat mangsanya.
Ia mencoba menyengat Shaka dengan bentakkannya, tapi sebenarnya dialah orang yang paling terluka. Mariam menangis menyesali dirinya, sambil bersimpuh memegangi kaki putranya.
"Ibu minta maaf, Nak" ucap Mariam diiringi tumpahan air mata yang tak dapat ia bendung.
" Ibu... Shaka minta maaf, Bu. Shaka janji tidak akan seperti itu lagi" ucap bocah laki-laki itu berharap dapat memghentikan tangisan Mariam.
Dengan tangan yang bergetar Mariam memeluk Shaka. Ada sesal yang mendera di lubuh hatinya, andai Mariam bisa menahan sedikit saja untuk tidak membentak Shaka, pasti dirinya tidak akan dilanda kepiluan.
Mariam menyeka kasar wajahnya yang penuh air mata, lalu mengajak Shaka untuk makan kue yang telah ia janjikan tadi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Di atas sebuah piring kecil, Mariam memberikan 2 potong kue bolu yang sudah ia iris lalu menyuguhkannya pada Shaka.
Bocah kecil itu memasukan perlahan kue bolu ke dalam mulut mungilnya.
"Ibu... ini kue bolu terenak yang pernah Shaka makan," tuturnya menghibur Mariam.
"Makanlah, Nak. kalau masih kurang nanti nambah lagi."
"Bukankah kue bolu ini untuk dijual, Bu? tanya Shaka yang terus mengunyah dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kalau Shaka suka dan ingin semuanya... Ibu tidak akan menjual kuenya" jawab Mariam seraya tersenyum pada Shaka.
Meski keadaan hatinya masih sakit tertusuk duri yang ia ciptakan sendiri, Mariam berusaha untuk menutupinya lagi dengan senyuman yang mengembang di setiap kali Shaka mengajaknya bicara.
"Ibu... Shaka menyayangi Ibu" ucap Shaka menatap sendu raut wajah Mariam.
"Kalau begitu, Ibu lebih menyayangi Shaka," timpal Mariam.
"Oh duhai nestapa, mengapa engkau lama sekali hinggap dalam hidupku ini? tidak bosankah engkau mendera jiwa dan ragaku," batin Mariam merutuki deritanya.
Usang bagai rumah tua yang tak berpenghuni, jiwa dan raga Mariam hanya dipenuhi rasa hampa yang menggerogoti keyakinan dirinya. Kata tak pantas mengeluh seringkali Mariam ucapkan pada dirinya sendiri. Namun, tak jarang Mariam merasa benar-benar tak berdaya dan lelah hati.
Andai waktu dapat diulang kembali, ingin rasanya dirinya tetap jadi putri kecil ayahnya yang kini telah tiada 2 minggu setelah kepergian ibunya menghadap Ilahi. Andai janji itu Santana tepati, atau andai Denny datang lebih dulu pada hidupnya, mungkin nasibnya tak akan begini.
Namun, takdir tak bisa diubah, nasib tak mampu ditolak. Nyatanya kemalangan itu kini tengah menimpa dirinya dan Shaka. Langkah kaki yang gamang terkadang tak mampu membuat badannya tetap tegak menopang beban di pundak.
"Kemarilah, Nak. Ibu akan ajarkan Shaka cara menulis nama dengan benar," ucap Mariam sembari menyodorkan sebuah buku dan pensil ke hadapan Shaka di waktu senggangnya.
"Dengan telaten Mariam mengajari putra terkasihnya itu menulis namanya... 'A-N-A-N-D-A S-H-A-K-A' Mariam menuntun setiap titik dan garis yang digoreskan oleh jemari Shaka seraya menyebutkannya.
Mariam juga Memberi tahu huruf besar dan kecil lalu mengulanginya lagi. Di usianya yang sudah 6 tahun, seharusnya Shaka sudah masuk PAUD atau Pendisikan Anak Usia Dini. Namun, karena keterbatasan biaya yang Mariam miliki, akhirnya Mariam mengajari sendiri anaknya untuk membaca, menulis, dan menghitung.
Syukurlah dulu Mariam sempat mengenyam pendidikan meski hanya sampai tingkat SMP. Ilmu yang ia dapatkan tak disia-siakan oleh Mariam, meski tak cukup tinggi untuk sebuah pendidikan setidaknya cukup bisa mengajari anakya menulis dan membaca.
Mariam menikah muda di usianya yang ke 19 tahun kala itu, saat itu Mariam telah 3 tahun tidak bersekolah atau melanjutkan ke SMA, karena sang Ayah tidak mampu membiayainya. Akhirnya Mariam tak melanjutkan dan sehari-harinya membantu ayah dan ibunya berjualan keripik.
Sampai Santana datang meminta dirinya pada kedua orangtua Mariam, lalu tak lama Ibu Mariam meninggal dan disusul sang sang Ayah 2 minggu kemudian. Mariam dipinang Santana dan menikah dengan seorang wali dari pihak keluarga ayahnya yang kala itu masih hidup.
Namun, saat ini Pakde atau kakak dari Ayah Mariam, sang wali yang menikahkan Mariam, juga telah berpulang ke hadirat-Nya. Entah apa yang direncanakan Tuhan untuk hidup Mariam, hingga jalan takdirnya begitu terjal.
Bersambung....
__ADS_1