
Seminggu berlalu, tak satu haripun Denny lewatkan tanpa memikirkan Mariam. Sampai raganya tak mampu untuk menahan diri lebih lama lagi.
"Den, Ibu perhatikan belakangan ini kamu sering sekali melamun... sebenarnya ada apa Nak?" tanya ibu Denny seraya menghampiri putranya yang sedang berbaring di sebuah sofa.
"Tidak bu... Denny tidak apa-apa!" tandasnya.
"Jangan berbohong, belum ada yang memahami dirimu lebih baik, selain Ibu!" tandas Ibu.
"Apa ini soal Mariam? Ibu katakan ini padamu! temuilah dia, karena semakin kamu menghindar perasaanmu akan semakin kuat," tutur Ibu lagi.
"Tapi Bu... bagaimana kalau Mariam mengira Denny mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tanya Denny meragu.
"Asalkan niatmu tidak begitu, tidak perlu terpaku pada penilaian yang belum terjadi. Ibu tahu sejak dulu kamu sudah memiliki perasaan terhadap Mariam. Pergilah Nak, kejar cintamu sebelum terlambat untuk kedua kalinya."
Ibu memberi nasehat dan saran pada Denny panjang kali lebar. Sebagai seorang ibu yang memahami sifat dan karakter anaknya, tentu Ibu Denny sangat paham betul apa yang sedang Denny pikirkan.
"Baik bu, kalau begitu Denny akan pergi menemui Mariam...."
Ibu Denny tersenyum mengusap pundak Denny, pertanda memberi semangat dan restu dalam doanya. Lagi pula Ia sudah tahu bahwa Santana telah menceraikan Mariam. Di sisi lain, 4 tahun tanpa diberi nafkah lahir dan bathin tanpa alasan yang dibenarkan. Tentu sudah cukup bagi Mariam jika ingin melepaskan ikatannya.
Dengan sepeda motor kesayangannya, Denny pun pergi untuk menemui sang pujaan hatinya itu.
Tiba di rumah Mariam....
Seperti biasa, Denny menyapa dengan salam, kemudian Mariam menjawabnya. Tanpa berbasa basi lebih lama, Denny langsung mengutarakan maksud hatinya.
"Mariam... apakah kamu tidak pernah terpikir untuk menikah lagi?" tanya Denny.
"Apa maksud pertanyaanmu Mas?" Mariam balik bertanya.
"Aku ingin menikahimu, Mariam!" tandas Denny.
"Maaf Mas, tapi aku tidak ingin terburu-buru" jawab Mariam.
"Untuk penantian mu yang sangat panjang dan lama itu, rasanya tidak tepat kalau dikatakan terburu-buru, Mariam!" ungkap Denny dengan yakin.
"Bagiku ini sudah terlalu lama Mariam. Aku selalu mencintaimu bahkan sebelum kamu memutuskan menikah dengan mas Santana," lanjut Denny.
Mendengar penuturan Denny itu, Mariam sangat terkejut. Namun, Mariam tidak lantas bermudah-mudahan mengiyakan pinangan Denny tersebut.
"Tapi Mas... aku tidak mau Mas menikahiku hanya karena merasa kasihan padaku," tampik Mariam.
__ADS_1
"Mariam, kamu terlalu tangguh untuk aku kasihani, bahkan aku tahu bagaimana gigihnya perjuanganmu merawat Shaka sendirian," papar Denny.
"Tolong kamu tanyakan pada hatimu sendiri Mariam. Apakah aku seorang yang bahkan tak bisa mengungkapkan perasaanku sendiri ini, pantas merasa kasihan padamu?"
Mariam diam tertunduk mendengar semua penuturan Denny.
"Baiklah Mas, beri aku waktu untuk memikirkannya," ucap Mariam setelah menghela napas panjang.
"Baik Mariam, tentu saja!" lalu "Kali ini aku akan sedikit memaksamu, Mariam" batin Denny.
"Terimakasih Mas, kalau begitu Mariam mau melanjutkan pekerjaan Mariam dulu," tukas Mariam.
Mariam masih bingung karena Denny masih terus berdiri dan tidak terlihat niatan untuk pergi atau pulang. Denny masih tetap berdiri seperti mengharapkan sesuatu. Sampai Mariam tidak jadi masuk ke dalam rumahnya dan kembali bertanya.
"Mas?" Mariam memasang wajah penuh tanya.
"Aku sedang menunggu Shaka, mana jagoanku itu?" ucap Denny tanpa memperdulikan kebingungan yang melanda Mariam.
"Shaka sedang tidur, Mas!" tegas Mariam yang agak risih karena Denny terus saja berdiri tidak bergeming.
"Ya sudah, aku akan menunggunya bangun!" tandas Denny. Mariam sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia bingung harus memberikan alasan apa lagi pada Denny.
Saat Mariam menggerakkan bibirnya untuk mengatakan sesuatu, Denny selalu memotongnya.
"Tidak apa, Mariam. Akan aku katakan kalau kita memang ada apa-apa," pungkas Denny seolah mempermainkan kekhawatiran Mariam.
"Mas! tolonglah mengerti posisiku, telingaku bisa tersumbat oleh gunjingan mereka kalau Mas tetap di sini!" tegas Mariam mulai merasa kesal.
"Baguslah kalau telingamu tersumbat, itu artinya kamu tidak akan mendengar suara bising itu dengan jelas," jawab Denny membuat Mariam menekuk wajahnya.
"Kamu salah bicara, nona...," ucap Denny. Tenang saja aku akan menawarkan solusi terbaik padamu," lanjutnya.
"Solusi apa mas? tidak ada solusi untuk mulut nyinyir tetangga!" pungkas Mariam dengan nada suara yang menunjukkan dirinya sudah malas untuk bicara lagi.
"Kita menikah Mariam, dan para tetanggamu tersayang itu akan diam...."
Mariam terdiam sesaat, lalu dia benar-benar masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Denny dengan celotehan konyolnya. Mariam berharap dengan sikapnya itu Denny akan menyerah dan pergi. Namun, ternyata tak semudah yang dipikirkan Mariam.
Denny yang semula berdiri, kini duduk mencari posisi Nyaman. Di teras rumah Mariam yang sederhana, Denny terus menunggu. Matanya kini mulai menunjukkan binar keputusasaan.
Mariam yang mengintip dari balik Gorden, yang menutupi jendela kaca rumahnya mulai merasa sedikit bersalah. Tapi pikiran lain menepis rasa bersalahnya itu, 'toh dirinya dan Denny memang belum ada ikatan.'
__ADS_1
"Ibu... apa yang sedang Ibu lihat?" suara Shaka mengagetkan Mariam yang sedang mengintip Denny.
"Ti... Tidak ada apa-apa Shaka, Ibu harus menyelesaikan masakan Ibu dulu," gagap Mariam yang langsung melenggang menuju dapur.
Bocah kecil itu tidak yakin pada jawaban Ibunya, akhirnya ia memastikan sendiri ada apa di luar sana.
"Paman Denny!" ujar Shaka sembari berlari menuju Denny.
"Pamaaan... kenapa tidak masuk? apakah paman takut pada tetangga, seperti Ibu?" cetus bocah kecil itu seraya bergelayut manja di tangan Denny.
Kehadiran Shaka itu mengembalikan semangat Denny lagi.
"Tidak sayang, tentu saja paman Denny tidak takut pada tetangga," sanggahnya. "Sini paman bisiki, 'Paman takut pada Ibumu' begitu Shaka!" tutur Denny berbisik di telinga Shaka.
"Oh seperti itu paman?" ujar Shaka dengan polos.
Mariam yang mulai curiga, kembali mengintip dari balik gorden jendela. "Sedang apa dua laki-laki itu?" gumam Mariam yang terdengar samar-samar oleh Denny.
"Shaka, coba perhatikan! apakah Shaka mendengar sesuatu dari dalam sana?" ucap Denny yang menyadari keberadaan Mariam di balik gorden itu.
"Tidak paman, Shaka tidak mendengar apapun," jawabnya memasang wajah serius.
Mendengar itu Mariam tersentak, sepertinya keberadaannya mulai tidak aman karena sudah diketahui oleh Denny.
"Baiklah Mariam. Kita lihat saja sampai kapan kamu akan bersembunyi di balik gorden itu," Denny mengerlingkan kedua bola matanya sambil membatin.
"Paman, kenapa Paman lama sekali tidak ke sini, mengajak Shaka bermain?" tanya Shaka.
Seminggu yang lalu Denny memang sama sekali tidak mengunjunginya, karena ia sedang berperang dengan batinnya sendiri.
"Paman tidak takut pada Ibu kan?" lanjut Shaka yang belum juga mendapat jawaban dari Denny.
Denny tersenyum mendengar pertanyaan polos itu, lalu mengelus kepala Shaka dengan lembut. Berbeda dengan Mariam yang sedang deg-degan khawatir bocah itu berkata yang tidak-tidak.
"Mangkanya Paman, paman jadi anak kecil saja seperti Shaka," celotehnya mengundang gelak tawa Denny.
"Itu tidak mungkin sayang, kalau sudah tumbuh dewasa tidak bisa menjadi kecil lagi seperti Shaka...," papar Denny di tengah gelak tawanya.
"Yah, tidak asik pama! kalau paman tetap menjadi orang dewasa, berarti paman tetap tidak berani mengatakan pada Ibu, kalau paman mencintai Ibu."
*Jlep!
__ADS_1
Benar saja, kekhawatiran Mariam kini benar-benar menjadi kenyataan.
Bersambung....