
Santana pergi ke kamar membawa benda yang diberikan oleh Dicky. Keringat dingin Santana menetes dari pelipis kepalanya. Seluruh pori-porinya merapat, bulu-bulu halus di tubuhnya meremang. Santana merinding mengingat peristiwa beberapa tahun lalu yang membuat dirinya tak bisa berkutik di bawah ancaman Arifin.
Sebilah belati yang Arifin gunakan untuk mengancam Santana, kini benda itu ada padanya. Tangan Santana gemetar menyentuh dan mengangkat belati itu sejajar di depan matanya. Giginya gemeratak mengingat wajah Arifin.
Masih segar dalam ingatan Santana. Saat di mana Arifin menggunakan belati itu untuk mengancamnya. Arifin berkata 'Mariam, dan juga Shaka akan Arifin habisi dengan benda itu' bila Santana tak mau menuruti kemauannya.
Kulit santana memucat dengan keringat yang terus bercucuran. Hatinya geram tiada tertahan, ingin rasanya ia menghajar Arifin yang sudah menghancurkan biduk rumah tangganya dengan Mariam. "Aku tidak akan pernah lupa duri macam apa yang sudah menusuk dan membuat hatiku berdarah" gumam Santana penuh amarah.
"Lihat saja, Arifin... hidupmu akan aku buat tidak baik-baik saja. Setelah semua yang kamu lakukan padaku dan keluargaku," batin Santana mendendam penuh kerisauan. Santana menaruh belati itu, mengepalkan kedua tangannya lalu memukul tepian ranjang hingga tangannya terasa perih dan sakit.
Santana membulatkan tekadnya untuk membuat perhitungan dengan Arifin. Bukan atas dirinya saja tapi, atas Mariam, atas Shaka, dan juga Dicky. Bocah-bocah tak berdosa yang menjadi korban keegoisan dan nafsu Arifin yang membabi buta.
"Baiklah, Santana, sekarang simpan dulu rencana itu. Sampai tiba saat yang tepat untuk memberi Arifin efek jera atas perbuatannya," gumam Santana mengajak jiwanya berbicara. Dada itu kini telah penuh oleh keinginan untuk menemukan keberadaan Arifin yang kini entah di mana.
Santana ingin menyusun kembali kepingan hatinya yang telah hancur. Merangkai kembali perasaannya yang berserakan bak daun kering yang tertiup angin. Memperjelas kebahagiaan yang tampak samar dan nyaris memudar dari pandangan mata dan hatinya.
***
Klek!
Handle pintu kamar Asih bergerak lalu pintu pun terbuka. Asih masih berbaring dengan sesak yang memenuhi ruang dadanya. "Asih bisakah kita bicara?" tanya Santana dengan mode serius.
Asih bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya. "Bicarakan saja, Mas, bukankah kamu tidak perlu persetujuanku untuk mengatakan apa pun sesuai keinginanmu?" lirih Asih yang kali ini tampak pasrah. Santana menghela napas dalam untuk mengatur emosinya agar tetap stabil.
"Begini, Asih, apa kamu tahu di mana Arifin tinggal?" tanya Santana dengan hati-hati. Asih menatap lekat wajah Santana lalu mengerutkan dahinya merasa heran. "Untuk apa kamu menanyakan hal itu, Mas?" Asih membuang pandangannya.
__ADS_1
"Tolong katakan saja, Asih, ini semua demi Dicky juga!" Santana memohon. "Apa benar begitu? Benarkah kamu perduli terhadap Dicky?" cecar Asih seolah meragukan Santana. " Bukankah sejahat-jahatnya aku tidak pernah membuang Dicky?" hardik Santana mengingatkan perbuatan yang dilakukan Arifin pada Asih.
"Tentu saja, kamu hanya ingin menjelaskan betapa aku, dan Dicky adalah orang yang terbuang, begitu 'kan?" Asih menahan sakit hatinya atas kata-kata Santana. "Asih, perdulilah sedikit tentang hak Dicky. Aku melakukan hal ini karena aku masih punya perasaan, aku bukan Arifin yang tidak punya hati dan semaunya sendiri!" Santana mencoba memberi pengertian untuk meyakinkan Asih.
Asih menundukkan wajahnya, menyadari betapa kejam perbuatan Arifin terhadapnya. Kini pikiran Asih terbuka akan hal itu. Di mana dirinya hanya dijadikan pelampiasan nafsu Arifin yang dibalut dengan kata-kata rayuan nan manis dan janji-janji dustanya.
"Baiklah, Mas!" Asih beranjak mengambil sebuah buku catatan yang terdapat alamat tempat tinggal Arifin, lalu memberikannya pada Santana. Santana mengambil kemudian menyalinnya pada selembar kertas yang lain. "Terima kasih, Asih!" Santana berjalan keluar dari kamar Asih.
Di bilik rumah Denny....
Terlihat Shaka yang sedang duduk termenung sembari melihat ke arah luar jendela dengan tatapan yang kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bocah itu. Ia tampak begitu menghayati lamunannya.
Sebuah tangan yang kekar namun halus, menyentuk pucuk kepala Shaka dengan sebuah usapan lembut. "Jagoan... jika ada yang ingin kamu keluhkan maka, katakanlah pada Ayah," urai Denny. Shaka mengalihkan pandangannya lalu menatap wajah ayah sambungnya itu.
"Tidak ada, Ayah, Shaka hanya takut Ayah meninggalkan Shaka, dan juga Ibu seperti Ayah Santana dulu," tutur Shaka. Denny tersenyum getir meresapi kata-kata Shaka yang bermakna dalam itu. "Apa Shaka sangat takut kehilangan Ayah?" tanya Denny seraya memegang kedua belah pipi bocah itu.
Denny menyeka air mata Shaka dengan jemari tangannya. Ia membawa Shaka ke dalam pelukannya lalu menggendong bocah itu penuh kasih sayang. Tanpa mereka ketahui ada Mariam yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
Bulir-bulir bening menerabas dan berhasil lolos membasahi pipi Mariam. Ia sedih mengetahui Shaka yang masih menyimpan trauma karena kepergian Santana dulu. Namun, ia juga terharu menyaksikan betapa Denny dengan tulus menyayangi Shaka yang hanya seorang anak sambunggnya.
Hembusan napas yang tertahan menjadikan tangis Mariam tersedu dan akhirnya terdengar oleh Denny, juga Shaka. Denny menurunkan Shaka dari gendongannya lalu menghampiri Mariam. "Kemarilah, Ibu, jangan menangis" Denny merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sebuah pelukan.
Mariam langsung menghamburkan diri memeluk Denny, disusul oleh Shaka. Kini mereka bertiga saling berdekapan. Satu pundak yang menopang dan menjadi sandaran kala hati risau, kini hadir lagi dalam hidup Mariam setelah sebelumnya sempat hilang lalu berganti.
Ternyata setiap kesakitan tidak semudah itu di sembuhkan. Walau kadar kepedihannya telah berkurang. Namun, torehan luka yang terlanjur membekas rupanya tak serta-merta dapat terhapus begitu saja.
__ADS_1
Mungkin hal itu juga yang sedang dirasakan oleh Shaka saat ini. Meski telah nyata ada Denny yang hadir untuk mengobati luka pada batinnya. Rasa sakit akibat kerinduannya yang terdahulu masih kerap terasa dan membentuk rasa khawatir.
"Sudah, apa semua kesayangan Ayah ini tidak yakin pada Ayah?" ujar Denny mencoba menepis kesedihan Mariam, dan Shaka. "Tentu saja tidak begitu, Ayah ... Kami sangat percaya pada Ayah!" Shaka melingkarkan tangannya memeluk Denny lagi. "Kalau begitu berikan Ayah sebuah senyuman terbaik" bujuk Denny.
Mariam, dan juga Shaka pun memberikan senyumannya pada Denny. Ada rasa lega yang mengisi relung hati Denny. Mungkin air tidak lebih kental dari darah namun, Denny akan berusaha sekuat kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi Shaka.
"Mas, terima kasih," lirih Mariam. "Katakan kau mencintaiku" bisik Denny di telinga Mariam. "Lebih dari duniaku sendiri," balas Mariam dengan bisiknya, membuat binar bahagia langsung memancar pada sorot mata Denny.
Bersambung....
Hemm... gimana? seru kan ceritanya? Nantikan update selanjutnya ya, para kesayangan author.
Namun, sebelum itu, yuk kita mampir dulu ke karya temanku yang pastinya gak kalah seru...👇👇👇
Judul : Misteri Kematian Renata
Karya : Anisa Mufida
Renata adalah hantu yang ingin menuntut balas akan kasus kematian tragis yang di alaminya setelah di bully dan di lecehkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia meminta bantuan kepada seorang gadis indigo penakut bernama Fanya.
Akan kah Fanya berhasil membantu nya?
Ikuti terus kisah mereka hanya di
*Misteri Kematian Renata*
__ADS_1