
"Mariam, ada apa? Mengapa kamu menangis?" tanya Denny mengejutkan. Mariam gugup dan langsung refleks menyeka air matanya. Sedang Alisa, dan Rani langsung menunduk menghindari tatapan mata Denny yang penuh selidik.
"Tidak, Mas. Siapa yang menangis? Kami sedang mengobrol. Mataku hanya terkena butiran debu yang beterbangan," sangkal Mariam.
Denny mengusap lembut pucuk kepala wanita yang sangat ia cintai itu. " Bibirmu bisa saja menyangkal seribu bahasa, Mariam.Tapi, sorot mata itu tidak bisa berbohong," batin Denny.
Dari sejauh mata memandang. Dedi dan Sapto berjalan beriringan bersama ketiga bocah laki-laki yang tadi asik bermain pasir. Rupanya Denny meminta agar mereka dipanggil untuk berkumpul bersama.
Denny kemudian mengajak mereka semua untuk makan menu seafood khas pantai tersebut. Dengan hati senang semuanya menuju ke warung makan lesehan di tepi pantai itu. Pemandangan alam yang menyuguhkan panorama indah nan menawan di pantai tersebut. Menambah suasana hangat penuh keceriaan. Walau tanpa diumbar, ada hati yang sedang sesak memikirkan.
Anak-anak itu terlihat lahap menyantap ikan gurame yang dimasak dengan saus asam manis. Yang paling spesial adalah udang rajungan yang disajikan dengan lezatnya saus padang yang khas. Atau, kepiting lada hitam yang juga menjadi menu andalan. Masih banyak lagi menu yang lain seperti cah kangkung dan tumis eceng gondok. Sementara minumannya tentu saja es kelapa muda yang segar tiada tara.
Menu makanan yang memanjakan lidah itu cukup membuat mereka semua terbuai dalam suasana isi perut yang menakjubkan. Seolah mulut mereka tak ingin berhenti mengunyah. Ditambah dengan syahdunya pemandangan pantai dan saung-saung dengan kearifan lokal yang begitu kental membuat betah berlama-lama di sana.
__ADS_1
"Ayah, apa Nenek sudah makan? Seharusnya Nenek makan bersama kita di sini," cetus Shaka ditengah-tengah waktu makannya. Bocah itu masih sempat mengkhawatirkan wanita paruh baya yang kini menjadi neneknya tersebut. Membuat semua orang sempat menghentikan suapan mereka karena ingat orang-orang di rumah.
"Tenanglah, Jagoan. Nanti kita bungkus semua makanan untuk semua orang yang kita tinggalkan di rumah," papar Denny. Sengaja ia berkata begitu demi mencairkan kembali suasana makan yang sempat hambar.
"Andai Shaka tidak mengatakan hal itu. Aku nyaris lupa bahwa di rumahku juga ada seorang ibu yang kami tinggalkan," ucap Dedi. Sapto, Rani, dan juga Alisa menyetujui hal itu.
"Maaf, Mas dan Mbak. Harap maklum, Shaka memang selalu ingat pada neneknya. Jangan tersinggung dengan kata-katanya," ucap Mariam tidak enak hati. Ia merasa tak enak sebab Shaka membuat mereka jadi merasa bersalah karena melupakan sejenak, orang-orang di rumah.
"Tidak, Mariam. Shaka tidak salah. Kamilah yang seharusnya malu," tutur Sapto.
"Itu artinya, Shaka terihat berkumis tebal seperti paman Sapto, Ayah?" ucap Shaka mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Suasana yang sempat serius itu pun akhirnya mencair dan penuh canda tawa kembali.
Setelah makan, mereka semua kembali melanjutkan aktifitas bermainnya. Ada yang memilih berenang untuk merasakan sensai mandi air laut. Anak-anak tetap setia dengan permainan pasirnya. Sedang Denny, dan Mariam lebih memilih menikmati debur ombak yang terasa menyibak setiap rasa yang tersembunyi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sayang, tahukah engkau? Suaramu selalu terdengar lebih keras dalam pikiranku. Melebihi deburan ombak ini," ucap Denny membuat pipi Mariam bersemu merah.
"Apa kamu sedang menggombal, Mas?" tanya Mariam seraya tertunduk malu-malu. Ingin sekali lagi dia menghilang untuk menyembunyikan rasa malunya agar tidak nampak oleh Denny. Tapi, tentu saja Mariam tidak bisa.
"Apa menurutmu kata-kataku terlalu merayu, hingga membuatmu berkata itu sebuah gombalan?" ucap Denny balik bertanya. Ia lalu memegang jemari tangan Mariam, dan meletakkan di dada bidangnya.
DAG DIG DUG...!
Keras berdebar rasa hati Mariam. Denny membuatnya larut dalam perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kecuali hanya bahasa mata dan gerak tubuh saja.
Lama, tangan Mariam berdiam di atas detak jantung Denny yang berdegup sangat kencang. Tidak sekencang kenderang perang. Hanya seasik denyut nadi kala gelitik mulai menjelajahi hati yang sarat oleh perasaan cinta.
Sampai sunset menyapa. Langit senja memerah. Meredam getaran kasih yang membuat sinar cinta menyala-nyala.
__ADS_1
Waktu itu, mereka berkemas untuk pulang. Kembali ke peraduan. Tak lupa membawa makanan untuk Nenek dan keluarga yang lain.
Bersambung ....