Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 24. Gejolak Karma


__ADS_3

Awan mendung memenuhi langit petang. semburat senja harus rela tak terlihat tertutup gelapnya. Sangat gelap hingga seluruh cahaya seperti terusir dari saujana.


Di dalam bilik kamar Mariam bersandar di bahu Denny. Keduanya sedang duduk di tepi tempat tidur. Tak terdengar dialog apapun di antara mereka kecuali hembusan napas yang saling bersahutan.


Shaka sedang asik menggoreskan tinta di atas buku pemberian Nenek. Tangan mungil itu terlihat lincah menuliskan namanya sendiri. membuat titik membentuk garis, menuliskan huruf demi huruf pada kertas putih bergaris itu.


Ibu Denny sengaja memberikan seperangkat alat tulis itu pada Shaka. Agar Shaka yang kini menjadi cucunya itu bisa sekalian bermain sambil belajar. Sesekali ia tampak melihat hasil coretan tangan Shaka kemudian tersenyum.


"Mas, apa tindakanku terhadap istri baru mas Santana tadi keterlaluan?" tanya Mariam akhirnya membuka percakapan. "Apa kamu merasa tidak enak hati, Sayang?" Denny membalikkan pertanyaan. "Iya, Mas ... Aku tidak biasa berbuat seperti itu," jawab Mariam.


"Tidak, Mariam! Kamu berhak mengekspresikan perasaanmu, sesekali kamu juga boleh berkata tidak pada sesuatu yang tidak kamu inginkan, hum" tutur Denny. "Jadi, menurut Mas, perlakuanku tadi itu adalah hal yang wajar?" kata Mariam lagi. "Sangat wajar, Mariam ... Aku tidak melihat sesuatu yang melampaui batas atas perlakuan kamu."


"Terima kasih, Mas, aku hanya ingin memastikan bahwa hatiku tidak berubah menjadi keras hanya karena keadaan" lanjut Mariam. "Tak apa, ceritakan apapun yang kamu rasakan. Katakan apa saja yang ingin kamu katakan, aku akan menjadi pendengar yang baik," papar Denny.


Mariam tersenyum lega mendengarnya. Setelah sekian lama akhirnya Mariam menemukan lagi tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Denny meraih jemari tangan Mariam lalu menciumnya dalam-dalam.


Hujan pun turun dengan sangat deras. Dinginnya udara menembus kulit merasuk ke dalam tubuh. Denny menghangatkan Mariam dengan pelukannya.


Aroma wangi yang khas tercium dari tubuh Denny. Membuat mariam merasa nyaman berlama-lama berada dalam dekapannya. Membenamkan wajahnya ke dada bidang milik suaminya itu.


"Tetaplah seperti ini, Mariam. Jangan pernah pergi apalagi menghilang dari hidupku lagi. Aku terlalu lemah bila harus tanpamu berulang kali" batin Denny.


Sentuhan hangat Denny terasa begitu intens mengusap pucuk kepala Mariam. Membuat Mariam merasa kantuk. Namun, adzan maghrib berkumandang hingga membuat Mariam menunda keinginannya untuk tidur lalu bersiap untuk sholat berjamaah bersama sang suami.

__ADS_1


***


Santana menggelar sajadah di sisi tempat tidurnya. Hal yang sudah sangat lama tidak ia lakukan setelah terpisah dari Mariam. Entah mengapa segalanya terasa kusut termasuk ibadahnya pun berantakan semenjak dirinya pergi dari sisi Mariam.


Namun, kali ini jiwanya terpanggil untuk kembali merundukkan sujud pada sang Kholiq. Barangkali itulah yang membuat beban hidupnya terasa sangat berat. Lalainya hati dari dari mengingat Tuhan.


Santana berkisah di atas gelaran sajadahnya. Meminta pengampunan atas segala dosa-dosanya. Sampai tak terasa pipinya telah basah oleh air mata.


"Seperti inikah rasanya? Pahitnya hidup dan kesedihan yang dialami Shaka, dan Mariam saat aku tinggalkan? Jika memang begitu, tak apa ya Allah. Biarkan saja aku merasakan semua penderitaan yang mereka rasakan karena aku," bisiknya lirih dalam selipan keluh kesahnya. Santana tak menyadari bahwa ratapannya itu menciptakan isakan yang dapat didengar oleh Asih.


Asih yang kala itu baru selesai menyuapi Dicky makan, mendekat ke arah Santana karena mendengar suara isakannya. Tentu saja Asih penasaran dengan Santana yang selama ini terlihat dingin, kaku dan sangat kasar lagi pemarah di matanya. Kini ia menangis lemah penuh air mata.


Cukup lama Asih berdiam menanti Santana menyudahi isakannya dengan posisi tangan menengadah sebagai tanda permohonan doa. Sampai tangan itu turun dan Santana beranjak membereskan sajadahnya. Barualah Asih memberanikan diri untuk bertanya....


"Tidak bisakah dia menjawab pertanyaanku dengan jawaban saja, bukan dengan balik bertanya? gerundal Asih. "Dicky! Taruh mainannya dan pergilah ke kamar, hari sudah mulai gelap " perintah Asih. "Tidak mau!" tandas Dicky sembari tetap menjejerkan mainannya.


"Arrgghhh! Tidak adakah orang di rumah ini yang mau mendengarkan aku sekali saja?" kesal Asih lalu meninggalkan Dicky ke kamar. " Semua laki-laki sama saja, tidak kanak-kanak atau dewasa kerjanya hanya menyakiti perasaan wanita" omel Asih meluapkan kekesalannya. Suaranya Asih sangat nyaring, andai kala itu hujan tidak sedang turun dengan lebat mungkin gerutuannya bisa terdengar oleh tetangga.


Asih membuka laci lalu mengambil selembar foto dari sana. Tampaklah potret dirinya bersama Arifin saat masih mereguk madu asmara. "Cih! Dasar laki-laki baj*ngan," Asih lalu merobek foto itu sampai beberapa bagian.


"Kalau saja aku tidak termakan rayuanmu pasti hidupku tidak akan seperti ini sekarang," cerca Asih dengan amarah yang semakin memuncak. Ia merasa kosong dan hampa. Bagaimana tidak? Sebagai seorang wanita tentu dirinya butuh di dengar dan di perlakukan dengan lembut.


Namun, apa yang Asih alami memanglah seperti keadaan yang tak pernah berpihak kepadanya. Semua itu pastilah bukan tanpa sebab, sikap Asih yang egois dan selalu ingin menang sendiri bisa jadi adalah alasan yang membuat dirinya menerima sikap tak mengenakan dari Santana maupun Dicky.

__ADS_1


Asih membantingkan tubuhnya dengan kasar ke tempat tidur. Tak dipungkiri terkadang Asih merindukan sentuhan dari seorang laki-laki. Karena Santana tak pernah menyentuh Asih sekalipun, meski telah lama statusnya sebagai suami Asih, walau suami paksa.


Entah karma dari dosa yang mana yang sedang dialaminya. Terlalu banyak kesalahan yang ia lakukan. Hati Asih tak pernah tenang tak juga merasa bersyukur atas hidupnya.


Tiba-tiba Santana datang menghampiri Asih. Asih merasa senang dan berharap Santana akan melakukan tugasnya sebagai suami. Dengan senyuman yang merekah Asih bangkit dan duduk menyambut Santana.


"Asih aku ingin menawarkan kesepakatan denganmu," ujar Santana menepis hasrat Asih yang semula bergejolak. "Kesepakatan apa, Mas?" tanya Asih bingung. "Kesepakatan antara kita berdua," jawab Santana penuh misteri.


"A-Aku masih belum mengerti, " kata Asih. "Aku ingin kamu mengatakan dengan sebenarnya, apa yang sudah terjadi diantara kita pada Mariam," tandas Santana. Mendengar nama itu membuat Asih hilang selera.


"Tidak mau! Aku tidak sudi melakukannya," tegas Asih menolak permintaan Santana. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu tapi, selamanya hidupmu akan seperti ini. Bagai sampah yang tak berguna," tutur Santana penuh penekanan.


Asih memejamkan mata dan membuang napas kasar mendengar kata-kata Santana. Ada yang terasa begitu nyeri di dalam dadanya. Namun, Asih tetap pada pendiriannya untuk tidak mengatakan fakta apapun tentang pernikahan yang memaksa Santana sampai harus melepaskan keluarganya.


Bersambung....


Hai kesayangan author... sembari menunggu update selanjutnya, yuk kita mampir dulu di karya temanku yang pastinya bikin kalian penasaran.👇👇👇


Judul : Umpan Meriam yang di Cintai


Karya : MommynyaJudy


__ADS_1


__ADS_2