
Keadaan kembali kondusif setelah Asih dibawa pergi. Arifin dengan wajah lesu datang menghampiri Santana, dan juga Davina. Dengan rendah hati ia menyampaikan permohonan maafnya.
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan Asih. Sungguh ini semua di luar kuasaku, Santana. Asih tidak pernah mengindahkan kata-kataku," tutur Arifin dengan wajah penuh kesungguhan.
Sambil menggendong Dicky yang tengah menangis. Arifin berlapang hati mengakui kesalahan dan ketidak mampuannya mengurus Asih. Arifin membuang rasa malunya pada Santana.
Dicky mengaitkan tangannya pada leher Arifin. Bocah itu tampak menatap lekat wajah Santana, dari balik gendongan Arifin.
"Tidak mengapa, Arifin. Setidaknya kamu sudah berusaha." Jawab Santana. Kemudian, ia mengusap pucuk kepala Dicky, yang tersembul. Tangis Dicky seketika pecah, Santana mengambil alih Dicky dari gendongan Arifin ke dalam gendongannya.
Untuk beberapa saat. Santana membiarkan Dicky memeluknya dengan erat. Kerinduan sangat tampak di raut wajah Dicky.
"Ayah ...," ucap Dicky lirih. Tangan mungil itu masih betah memeluk Santana.
"Tenanglah, Jagoan. Kamu akan tumbuh besar dan kuat. Jadilah anak yang tangguh dan mengerti keadaan, hmm,"
"Baik, Ayah." Patuh Dicky, lalu ia melepaskan pelukannya.
Arifin menggendong kembali Dicky. Lalu beranjak meninggalkan kerumunan pesta. Di langkah kakinya yang mulai menjauh, tiba-tiba terdengar suara memanggil nama Dicky.
__ADS_1
"Dicky! Tunggu dulu ...," Shaka berlari mengejar Dicky.
Langkah kaki Arifin sejenak terhenti. Ia menoleh ke arah suara Shaka. Dicky yang mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Shaka, langsung turun dari gendongan Arifin. Kedua bocah itu sama-sama berlari untuk saling mendekat.
"Shaka!" Teriak Dicky. Mereka berpelukan erat. Melepas rindu yang sudah lama tersemat. Mematri kasih yang selalu ada di antara keduanya.
Pemandangan itu tak lepas dari keharuan. Semua orang menangis melihatnya. Dua bocah dengan pengalaman hidup yang begitu terjal.
"Aku merindukanmu Shaka," ucap Dicky sambil terisak.
"Aku selalu berdoa agar kamu baik-baik saja, dan kita bisa bertemu lagi, Dicky." Jawab Shaka.
"Shaka, aku harus pergi. Aku akan merindukanmu," ujar bocah malang itu.
Shaka hanya mengangguk tak dapat berkata-kata. Air mata dan sedu sedan menahan mulutnya untuk bicara. Tapi, tangannya masih mampu bergerak untuk memberikan sesuatu kepada Dicky. Sebuah topi yang langsung Shaka pakaikan di kepala Dicky.
Mereka pun berpisah dan saling melambaikan tangan. Dicky semakin menjauh dibawa Arifin. Sementara, Shaka masih berdiri di tempatnya hingga Dicky menghilang dari pandangannya.
Sebuah tangan kekar yang penuh kelembutan mengusap bahu Shaka. Shaka menoleh ke arah pemilik tangan itu yang ternyata Denny. Tanpa aba-aba, Shaka langsung melompat ke dalam gendongan Denny.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Dicky akan baik-baik saja. Shaka jangan bersedih, ya!"
Shaka menganggukkan kepalanya. Mariam datang menghampiri mereka berdua. Lalu, ketiganya saling merangkul.
Kembali pada pesta pernikahan Santana,dan Davina. Usai segala ***** bengek yang terjadi mewarnai acara itu. Denny, beserta Mariam dan keluarga, pamit untuk pulang. Namun, mereka janji akan saling mengunjungi. Terlebih ada tali yang mengikat cukup kuat antara 2 keluarga itu yakni, Shaka.
***
Mariam, Denny, Ibu, dan juga Shaka. Sudah berada di rumah mereka lagi. Mereka beristirahat mengendurkan otot-otot yang tegang setelah kegiatan menghadiri acara pernikahan Ayah Shaka, dan ibu sambungnya.
"Ayah, mengapa Shaka, dan juga Dicky, punya dua ayah?" celetuk Shaka dengan polosnya.
Pertanyaan Shaka membuat mata Mariam terbelalak. Namun, tidak dengan Denny. Ia menghadapi dan menjawab pertanyaan Shaka dengan penuh ketenangan.
"Shaka akan mengerti setelah dewasa nanti." Denny tersenyum sembari mengacak pelan rambut bocah laki-laki kesayangannya itu.
Bersambung ....
Gimana guys? kalau ada kritik dan saran, jangan sungkan untuk komen ya! Author sangat terbuka dengan komentar kalian.☺❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1