
Santana menghabiskan waktunya dengan Shaka. Mereka bercengkerama penuh kehangatan. Lantas, Santana bertanya pada Shaka mengapa akhirnya Shaka justru memutuskan pergi dengan dirinya sepulang sekolah tadi.
"Ayah, sebenarnya tadi Shaka, benar-benar tidak melihat Ayah. Tapi, Ayah Denny memberitahu Shaka, dan menyuruh Shaka untuk menemui Ayah. Kata Ayah Denny 'pergilah bersama ayahmu, karena dia sudah menunggumu sedari tadi' begitu, Yah."
Santana tertegun mendengar pemaparan Shaka. Ternyata Denny masih begitu perduli pada perasaannya. Tidak salah memang, jika Mariam kini memilih menetapkan hati dan hidup bersama Denny. Orang yang begitu peka dan sangat perduli terhadap perasaan orang lain.
"Baiklah, Nak! Nanti tolong sampaikan salam Ayah, pada Ayah Dennymu itu," ucap Santana.
"Baik, Ayah. Tentu saja akan Shaka sampaikan." Shaka tersenyum pada Santana.
Beberapa jam sudah berlalu. Santana sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Shaka. Namun, ia khawatir Mariam, juga Denny akan mencemaskan Shaka.
"Mari kita pulang, Nak. Ayah masih ada beberapa urusan," ajak Santana dengan alasan yang sengaja ia adakan. Karena Santana juga melihat bahwa Shaka, masih betah bermain bersamnya.
Bocah kecil itu mengangguk patuh. Mereka pun berjalan menuju arah pulang. Meski tidak setiap saat, Santana bersyukur masih bisa menghabiskan waktunya bersama Shaka.
Sepanjang perjalanan pulang. Shaka masih sempat berceloteh ria pada Santana. Bercerita tentang teman-teman baiknya di sekolah.
__ADS_1
Santana dengan setia mendengarkan dan menanggapi apa saja yang Shaka bicarakan. Mungkin itulah gambaran seharusnya, andai Santana tinggal bersama dengan Shaka. Namun, Santana tetap berlapang dada meski cerita yang seharusnya dilakukan di kursi rumah atau tempat tidur, kini berlangsung di jalanan, di atas sepeda motor yang tengah melaju.
"Setidaknya aku masih bisa merasakan bagaimana mengajak Shaka, bermain bersama dan mendengarkan cerita polosnya," batin Santana.
Sekita 25 menit perjalanan pulang. Kini mereka telah sampai di depan rumah Denny. Terlihat Mariam yang sudah menunggu kepulangan Shaka penuh cemas.
Shaka turun dari sepeda motor. Ia berjalan menuju Mariam seraya mengucap salam. Lalu, Mariam menjawab salam Shaka, dan langsung memeluk bocah laki-laki itu.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Santana memperhatikan. Ia tersenyum kemudian memutar balik sepeda motornya hendak pulang. Sekilas ia melihat Denny ada di sana baru saja ke luar dari pintu. Ia pun menekan klakson sepeda motornya lalu tersenyum pada Denny, saat Denny melihat ke arahnya. Denny membalas senyum Santana.
Santana berlalu pergi. Sementara Denny, Mariam dan juga Shaka masuk ke dalam rumah. Denny masih diam tidak menjelaskan apa pun pada Mariam.
"Mas, kenapa tidak bilang kalau Shaka ikut bersama Mas Santana? Apa itu membuatmu marah padaku?" tanya Mariam berhati-hati.
"Sayang, mana mungkin aku marah hanya karena hal itu. Bukankah Santana juga berhak atas Shaka? Aku tidak bisa melarangnya saat ia ingin menghabiskan sedikit waktunya bersama Shaka." terang Denny seraya memeluk Mariam.
Mariam merasa lega. Ternyata Denny tidak seperti yang ia pikirkan. Pikiran Denny selalu lebih luas dan masuk akal.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Aku tidak menyangka akan seberuntung ini," tutur Mariam. Denny hanya tersenyum mengangguk seraya mengecup pucuk kepala Mariam penuh mesra.
***
Malam tiba dengan sejuta misterinya. Di peraduan yang terbiasa digunakan sebagai tempat pelepas lelah dan penat. Denny, dan Mariam tengah memadu kasih.
Membiaskan gumpalan rindu. Menyatukan perasaan cinta yang menggebu. Seiring gerak fisik berirama syahdu, sepasang suami istri itu melepaskan segala hasrat mereka.
Hingga tengah malam. Keduanya masih asik bercumbu ria. Dalam ibadah indah yang disebut syurga dunia.
Setelah semua tersalurkan dengan tuntas. Mereka pun tertidur saling berpelukan. Dalam dekapan kasih yang seolah tak ingin berakhir.
Mariam langsung terlelap karena rasa lelahnya. Sementara Denny, sesekali masih terbangun dan menatap wajah lelap Mariam, penuh cinta. Selimut malam yang penuh kehangatan pun, akhirnya mengantarkan Denny pada tidur pulasnya.
Di bilik rumah Santana....
Ia termenung memikirkan Davina. Wanita cantik itu membuat Santana merindu meski belum genap seminggu tidak bertemu. Aduhai berat rasanya berjauh-jauh dengan Davina.
__ADS_1
"Tatap matamu begitu menggoda, Davina. Bibirmu menjadi candu di setiap kali kau bertutur penuh kelembutan," jantung Santana berdebar kencang saat membayangkan wajah Davina.
Bersambung....