
"Ayah, Ibu Davina .... terima kasih sudah membawa Dicky pergi dari rumah ayah Arifin," ujar Dicky saat di perjalanan dalam mobil.
"Dicky, karena ayah Arifin adalah ayahnya Dicky, kamu tidak boleh membencinya, Sayang," Davina menyahut seraya mengelus rambut Dicky.
"Dicky tidak benci pada ayah Arifin, Ibu Davina. Hanya saja, Dicky tidak suka melihat ibu Raya menangis karena ayah Arifin. Ibu Raya adalah orang yang baik," papar Dicky.
"Bagus, Dicky sayang .... mulai sekarang Dicky juga harus belajar jadi anak yang baik, ya!" ucap Santana menimpali.
"Baik, Ayah."
"Mas, kita langsung saja beri kejutan pada Shaka," bisik Davina di telinga Santana.
Santana mengisyaratkan persetujuan dengan anggukkannya. Ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan berbelok ke arah rumah Denny. Sambil membayangkan betapa Shaka, akan merasa senang dengan apa yang akan mereka tunjukkan padanya sebagai kejutan.
Berhentilah mereka di halaman rumah Denny. Dicky menyapukan pandangannya, seolah ia merasa pernah bahkan sangat mengenali tempat itu. Matanya langsung tertuju ke depan teras rumah Denny, di mana ia dan Shaka sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama.
"Dicky, tunggu sebentar di sini, ya. Nanti kalau Ayah dan Ibu memaggil Dicky, cepat menghampiri, ya." Davina melakukan kesepakatan dengan bocah laki-laki itu.
Dengan antusias Davina berjalan menuju ke pintu, mengucap salam lalu mengetuknya. Tak lama, Denny membukakan pintunya. Ia melihat Santana, dan juga Davina sudah berdiri dengan sebuah senyuman yang begitu merekah.
"Mas, Mbak, silakan masuk!" Denny mempersilakan mereka untuk masuk dengan ramah.
"Den, Shakanya ada?" Santana membisikan sesuatu di telinga Denny. Langsung saja Denny memanggi Shaka setelah mendengar apa yang dibiisikkan oleh Santana padanya.
Shaka yang mendengar suara Denny memanggil dirinya. Langsung berjalan dari arah meja makan ke ruang tamu. Sesampainya di depan mereka, Shaka langung tersenyum senang dan menyambut Santana, juga Davina dengan pelukan.
__ADS_1
"Shaka, kami punya kejutan special untuk Shaka," ucap Santana.
"Benarkah? Apa itu, Ayah?" tanya Shaka penasaran.
"Sekarang Ibu Davina, akan menutup mata Shaka," ujar Davina seraya menutup mata Shaka dengan kedua tangannya.
Santana menjemput Dicky ke mobil, dan meminta agar Dicky tidak bersuara. Meski dalam hati bocah kecil itu penuh tanya. Namun, ia tetap melakukan apa yang Santana perintahkan.
Sampailah di ruang tamu rumah Denny. Kedua bocah laki-laki itu mereka hadapkan. Satu tidak boleh membuka mata, dan satunya lagi dilarang berbicara.
"Shaka, apa Shaka sudah siap?" tanya Davina. Bocah itu mengangguk. Detak jantungnya sudah tidak karuan.
"Satu .... dua .... tiga," Davina membuka tangan yang menutupi mata Shaka.
"Dicky ...."
Kedua bocah itu saling berpelukan sambil menangis menumpahkan rasa rindunya yang sudah membumbung tinggi. Para orang dewasa yang berada di sana pun turut dalam suasana haru. Cukup lama tangan-tangan mungil itu saling mendekap tubuh masing-masing.
"Dicky, apa kamu baik-baik saja?" tanya Shaka masih dengan keharuannya.
"Aku baik-baik saja, Shaka. Di mana ibu Mariam, dan juga Nenek?" Dicky menyelidik dengan sedikit menyapukan pandangannya mencari keberadaan Mariam, juga Nenek Shaka.
"Nenek sedang menyulam, kalau ibu .... ia sedang beristirahat. Dicky tahu tidak? Aku akan punya adik bayi?" celoteh Shaka.
"Benarkah? Apa adik bayimu nanti akan hebat sepertimu, dan paman Denny?" tutur Dicky.
__ADS_1
"Tidak tahu, Dicky. Mungkin saja dia akan secantik dan sehebat ibuku."
Kedua bocah itu sibuk dengan cerita dan celotehnya. Seoalah telah meninggalkan kesedihan dan rasa haru yang baru saja terjadi, tanpa jejak. Shaka meminta izin untuk mengajak Dicky menemui Nenek, kemudian Mariam. Sementara, Denny menemani Santana, dan juga Davina mengobrol.
Santana, dan Davina bercerita tentang Shaka yang sangat merindukan Dicky. Mereka juga mengatakan bahwa Dicky kini akan tinggal bersama mereka. Denny turut senang mendengar kabar bahagia ini.
"Apa ibunya Shaka sehat, Mas?" kata Davina menanyakan keadaan Mariam.
"Dia sedang sedikit tidak enak badan. Biasa, bawaan ibu hamil." Tutup Denny.
Untuk saat itu, demi menyenangkan hati Shaka, dan juga Dicky. Santana, serta Davina memutuskan untuk mengobrol lebih lama dengan Denny, sembari menunggu anak-anak yang masih ingin melepas rasa rindunya.
Bersambung ....
Hai readersku terkasih. Sembari menunggu update selanjutnya, kita mampir dulu yuk, ke karya keren yang satu ini ....
Judul : Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Author : JBlack
Humaira Khema Shareen adalah salah satu gadis yang menjadi korban pembullyan di kampus karena memiliki wajah yang berjerawat dan berkulit coklat. Dia juga mendapatkan tekanan batin oleh ibunya sendiri yang membuatnya merasa insecure.
Hingga suatu hari kejadian naas membuatnya terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang pria cassanova bernama Guntur Syakir Alhusayn. Dia disiksa, dicaci dan dihina oleh suaminya sendiri ketika sedang hamil.
Hadirnya kekasih Syakir di antara mereka berdua semakin membuat Humaira menderita. Lalu bagaimana kisah ini berakhir?
__ADS_1
Apakah Humaira akan bertahan dengan Syakir atau dia memilih bercerai dan meninggalkan pria itu?