Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 49. Kenyataan Lain


__ADS_3

Pagi yang cerah. Dengan cahaya memerah di upuk timur. Pertanda sang juara cahaya akan muncul dengan berjuta kehangatannya.


"Ibu, benar Bu tidak mau ikut pergi bersama kami?" tanya Mariam pada ibu mertuanya. Pagi ini Mariam terlihat cantik dengan dandanan sederhananya. Sebuah kemeja putih yang berukuran over size dipadukan dengan rok denim panjang lengkap dengan hijab berwarna senada.


"Iya, Nak. Ibu di rumah saja, menikmati masa senja sembari menyulam kain-kain ini. Sudah cukup menyenangkan hati bagi Ibu ... kalian bersenang-senangah," jawab Ibu.


"Sudahlah, Sayang. Ibuku itu memang tidak terlalu suka pergi ke alam terbuka. Benar 'kan, Bu," ucap Denny sembari pamit menyalami ibunya.


Ibu hanya tersenyum. Shaka tak mau tinggal, ia juga memberi sebuah pelukan pada Nenek. Kemilau wajah ceria sangat nampak pada mereka.


"Mau kemana kita, Ayah ... Ibu?" tanya Shaka penasaran. Bocah itu tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan. Di mana Denny sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk mereka.


Beberapa jam perjalanan itu mereka tempuh. Sampalah di tempat tujuan yang ternyata sebuah pantai. Di sana ada orang-orang yang sangat Shaka kenal.


"Ali ... Reyhan, kalian di sini?" Shaka berlari ke arah mereka. Ketiga bocah itu saling berpelukan dan melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Ternyata mereka di sana bersama ayah, dan juga ibunya.


"Apa kalian merasa senang?" tanya Denny seraya mengacak-acak manja rambut ketiga bocah itu bergantian. Mereka tampak mengangguk dan merekahkan senyumnya pada Denny.

__ADS_1


"Mariam, kamu tambah cantik saja," puji Alisa sembari menjabat tangan Mriam. Begitu pun dengan Rani, ia tampak memeluk Mariam dengan senyum yang mengembang.


Denny menghampiri dua bapak-bapak, yang tentu saja mereka adalah ayah Ali, dan juga Reyhan. "Mas Dedi, Mas Sapto, apa kabar?" Denny memeluk mereka bergantian.


"Seperti yang kamu lihat, Den. Kami dalam keadaan sehat," sahut Sapto seraya tertawa. Mereka bertiga pun mengobrol ngalor-ngidul, layaknya bapak-bapak dengan segudang pembahasan yang random.


"Ibu, Shaka bersama teman-teman akan ke sana, boleh 'kan?" Shaka merayu Mariam agar diizinkan bermain pasir bersama Ali, dan juga Reyhan.


"Baiklah, tapi hati-hati ya. Ombak sedang pasang. Mainnya agak menjauh dari laut," pesan Mariam dan ibu-ibu yang lain pada mereka.


"Baik, Bu!" jawab mereka kompak. Mereka pun berlari dengan riang. Lalu, mulai menyusun pasir-pasir di sana dengan bentuk sesuai yang mereka inginkan.


"Alhamdulillah, Mbak Rani, Mbak Alisa. Mariam, dan Shaka sekarang jauh lebih baik. Terima kasih karena selalu perduli pada kami," ucap Mariam penuh hangat.


"Sama-sama, hanya itu yang bisa kami lakukan. Sebab, kami tidak bisa melakukan apa pun kala itu. Andai saja kami diberikan sedikit keberanian saja untuk melawan Arifin, pasti kalian tidak perlu lama-lama menderita," tutur Alisa.


Mariam merasa bingung dengan apa yang Alisa sampaikan. Sepertinya, hal itu sangat serius. Mariam merasa penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"M-Maksudnya bagaimana Mbak?" gagap Mariam ragu-ragu. Rani yang menyadari bahwa Mariam belum tahu akan hal sebenar-benarnya seperti yang mereka ketahui, pun mencubit pelan tangan Alisa.


Alisa menjadi gugup untuk menjawab pertanyaan Mariam. Namun, Mariam terus mendesak mereka. Mariam juga berjanji bahwa dirinya tidak akan marah jika mereka menceritakn apa yang sebenarnya mereka ketahui.


Kepalang tanggung. Akhirnya dua wanita itu menceritakan kejadian beberapa tahun silam. Saat di mana ketika itu Arifin, mengambing hitamkan Santana untuk bertanggung jawab pada Asih.


Mereka juga mengetahui bawa saat itu Santana tidak bersalah. Namun, saat mereka berniat untuk menceritakan hal itu pada Mariam. Arifin mengancam akan membuat mereka bernasib malang.


Arifin yang saat itu terbilang punya kekuasaan yang kuat. Membuat mereka tidak berani melawan. Terlebih ancaman yang diberikan Arifin, tidak pernah main-main.


Mariam mendengarkan cerita itu dengan seksama. Lagi, ia teringat tentang Santana dan pengorbanannya. Lagi, ada rasa ngilu yang terasa membelenggu di dalam dadanya.


Dua wanita yang berada si samping Mariam itu. Semakin memperjelas cerita mereka. Bagaimana Asih, dan Arifin bekerja sama dalam melancarkan aksinya. Membuat Mariam terbersit untuk membayangkan, betapa Santana menderita lebih dari yang ia tahu selama ini.


Tetesan air mata tak terasa mengalir begitu saja. Meresapi kenyataan lain tentang suatu hal yang terlanjur ia jadikan kenangan. Mimpi buruk di balik perngorbanan seorang Santana, yang kini telah ia kubur dalam-dalam.


Napas Mariam mendadak sesak. Meratapi betapa malangnya laki-laki itu. Bagai peribahasa 'sudah jatuh tertimpa tangga' . Bagaimana tidak? Selain menderita karena fitnah yang dilakukan Arifin, dan juga Asih. Kini Santana harus menerima kenyataan bahwa Mariam sedang berusaha melupakannya, dan meninggalkan dia bersama kenangan yang tidak mungkin akan terulang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2