Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 40. Suasana Pagi yang Damai


__ADS_3

Siang berganti petang menghantar segala suasana kembali ke peraduan. Bimbang, sedih, duka, dan nestapa. Segalanya bersarang dalam satu relung jiwa memperlihatkan seraut wajah dengan semburat kecewa yang timbul begitu nyata ke permukaan.


Asa yang sirna diterpa gelombang kehampaan. Nyaris menyapu bersih sisa-sisa rasa yang masih berceceran. Membawanya larut dalam lautan seribu kegalauan.


Asih tampak masih terduduk di tempat yang sama saat terakhir Dicky melihatnya. Denny, beserta ibunya saat itu sudah sampai di rumah Asih. Mereka tampak mengekor di belakang Dicky, untuk masuk ke dalam rumahnya.


Wanita dengan tatapan kosong itu tengah beruncang-uncang kaki di tepi ranjang. Memang ia tampak belum beranjak dari semenjak Dicky meninggalkannya keluar. Bocah itu mendekati ibunya seraya menenteng seporsi ayam bakar dan juga nasi yang dibelikan oleh Denny.


Dengan langkah gamang dan perasaan yang bingung. Dicky bergerak perlahan dan semakin mendekat. "Ibu, makanlah dulu, Bu ... Dicky membawa ini untuk ibu" ucapnya sembari menunjukan sesuatu yang ia bawa di tangannya.


Asih tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya melirik Dicky dengan ekor matanya tanpa menoleh. Lalu, tatapan matanya kembali kosong.


Dicky sudah berkaca-kaca hendak menangis melihat keadaan ibunya yang semakin kacau. Denny langsung menarik pelan tangan bocah itu lalu menuntunnya ke dalam dekapan. "Jangan khawatir, Dicky, ibumu akan baik-baik saja" hibur Denny menenangkan Dicky.


Kini giliran ibu Denny yang mendekati Asih. Wanita paruh baya itu menyentuh lembut bahu Asih dan mengusap-usapnya perlahan. "Asih, makan dulu, Nak. Lihatlah! Dicky membawakan makanan untukmu," tutur Ibu dengan sangat lembut.


Asih masih tetap diam namun, kali ini air matanya lolos terurai membasahi pipinya. Ia menangis tanpa suara. kesan pemarah dan sangat cerewet pada diri Asih sekejap menghilang. Berganti menjadi sangat pendiam dan itu membuatnya tampak aneh.


Sepertinya ia digerogoti rasa kecewa sebab tumpuan harapannya dihancurkan dengan paksa. Asih yang menjengkelkan dan penuh huru hara kini tiada dalam raganya. Bahkan keadaannya akan membuat iba semua mata yang melihatnya.


Ibu Denny kembali mengulang kata-kata bujukannya seraya menyeka air mata di wajah lesu nan kusut itu. "Asih, lihatlah! Allah memberimu seorang Dicky, agar menjadi alasan bagi kamu untuk tetap kuat," tutur Ibu berusaha sebisa mungkin untuk menuntun kesadaran Asih. Terus terang sebagai sesama wanita, Ibu dapat memahami apa yang sedang Asih rasakan meski ia tidak sepenuhnya mengerti.

__ADS_1


Wanita malang itu memejamkan matanya dan membuat bulir bening yang meggenang kini jatuh tuntas menerabas jatuh ke pipinya. Isakan pun mulai terdengar dari yang semula tak sedikit pun bersuara. Ibu Denny, membawa Asih bersandar pada pundaknya.


"Menangislah, Nak! Biarkan perasaan dan hatimu menjadi lega," ujar ibu Denny. Pesan itu sampai dan direspon dengan baik oleh Asih. Kentara dari pecahnya tangisan Asih saat itu juga.


Denny tidak tahan melihat itu, kemudian ia beranjak keluar membawa serta Dicky yang masih dalam dekapannya. Bocah itu menangis dalam pelukan Denny. Sementara Denny tidak bisa banyak berbuat apa-apa, ia hanya mencoba menenangkan Dicky semampunya.


***


Sejak kejadian itu, atas bantuan yang diberikan keluarga Denny, dan tentunya tidak terlepas dari peran Mariam. Asih di bawa ke sebuah pusat rehabilitasi guna mendapatkan bimbingan konseling atau psikoterapi sebagai usaha untuk memulihkan keadaannya yang mengalami depresi cukup berat.


Apa kalian bisa membayangkan? Mariam kini sedang menyelamatkan seorang anak dari seorang ibu, yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Bukan sedang bertindak bodoh. Melainkan itulah cara Mariam menyembuhkan luka hatinya serta caranya untuk memenangkan keadaan.


Tidak dibeda-bedakan! Dicky mendapatkan kasih sayang dan juga perlakuan yang sama baik dengan Shaka. Kini Dicky, dan juga Shaka bagai dua anak kembar yang hidup dengan kasih sayang utuh dari Mariam, Denny, dan juga Ibu. Di dalam rumah itu, Dicky mendapat didikan yang baik dari keluarga yang pernah dihancurkan oleh ibunya.


"Ibu Mariam! Apakah Dicky boleh meminta sebuah pelukan?" tutur Dicky yang kala itu menghampiri Mariam yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Mariam tersenyum lalu membiarkan anak itu memeluknya cukup lama. Hingga rasa rindunya pada Asih yang jauh di sana luruh dan mereda.


Harus diakui bahwa selama ini Dicky tidak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya seorang anak kandung, dari Asih. Karena satu dan lain hal, Asih hanya menonjolkan sikap egoisnya ketimbang mementingkan dan memberikan apa yang sebenarnya Dicky butuhkan darinya.


"Terima kasih, ibu Mariam," ucapnya lalu berlari kembali pada Shaka, yang sedang asik bemain mobil-mobilan ditemani oleh Denny. Bocah itu memperhatikan dengan seksama ke arah Shaka. "Tentu saja, semua orang menyayangi Shaka, dan juga ibu Mariam," batin Dicky setelah mengetahui betapa baiknya hati Mariam, dan juga Shaka.


"Dicky, Ayo kemari! Kita bermain bersama," ajak Shaka yang baru menyadari bahwa Dicky sedang memperhatikannya. Dicky tersenyum kemudian melangkah mendekati Shaka. Mereka bermain dengan dunia kanak-kanaknya yang mengasikan.

__ADS_1


Hidup Dicky terasa lebih menyenangkan. Menerima banyak hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan dan kasih sayang dari orang asing yang kini menjadi orang paling perduli padanya.


Kendatipun Mariam kini menggantikan peran Asih sebagai ibu Dicky. Namun, tidak lantas Mariam mengajarkan Dicky untuk melupakan Asih dari kehidupannya. Justru sebaliknya, Mariam selalu mengingatkan Dicky, agar senantiasa mendoakan kebaikan bagi Asih.


Mariam meyakini bahwasannya setiap perbuatan baik dan buruk yang dilakukan. Akan selalu kembali pada siapa pun yang melakukannya. Oleh karenya, Mariam berusaha untuk terus berbuat baik meski tentu manusia punya keterbatasan.


"Bu, apa masih ada yang harus dimasak?" tanya Mariam pada sang mertua yang sedang asik dengan hobi menyulamnya. "Tidak ada, Sayang. Panggil saja mereka untuk sarapan di meja makan" titah Ibu.


"Ayo semuanya, kita sarapan dulu," seru Mariam memanggil ketiga orang pria yang masih sibuk dengan dunianya. Mendengar seruan Mariam, mereka pun langsung berhamburan tidak lupa menyempatkan untuk memeluk dan mencium pipi Mariam saat melewatinya menuju ke arah meja.


Mariam menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Betapa damai suasana pagi kala itu. Indah layaknya semaian benih cinta yang tumbuh dengan baik di ladang nan subur.


"Mata yang baik adalah mata yang senantiasa melihat kebaikan pada diri orang lain" (kalam ulama). Mariam adalah gambaran dari sebuah ikhlas yang tak terucap, dan dari sebuah sabar yang tidak berujung. Hati yang menyadarinya tidak akan mungkin sanggup menyimpan kebencian padanya.


Bersambung....


Buah manggis manis rasanya


Readers yang manis, mohon dukungannya ya!


Tekan love untuk favoritkan, like (setelah membaca) dan tinggalkan komentar, beri vote serta hadiah. I love u all 😘🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2