
Setelah mendengar cerita dari Umar. Denny mendekati Dicky perlahan. Dengan nada lembut Denny mulai membuka percakapan.
"Dicky ... mengapa tangan Dicky dilukai, Sayang? Tidakkah itu terasa sakit?" tanya Denny hati-hati.
Bocah itu hanya menggelengkan kepala tanpa bicara sepatah kata pun. Ia tampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Shaka, yang justru terlihat trauma setiap kali melihat wajah Dicky yang datar, dingin dan penuh tatap tajam.
Singkat cerita, Denny memeriksakan Dicky pada dokter setelah sebelumnya ia mengantarkan Shaka pulang. Denny bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Dicky. dokter menjawab, kemungkinan terbsar Dicky mengidap Self-injury atau Selfharm. Sebuah gangguan perilaku di mana penderitanya suka melukai atau menyakiti diri sendiri.
Dicky yang semula dididik dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis. Bahkan mendekati pada hubungan yang tidak sehat antara ayah dan ibunya atau faktor lain yang ada tanpa disadari. Apa lagi mengingat latar belakang orang tuanya yang kacau dan menjadikan Dicky memiliki beban psikologis yang berat.
Hal itu tak ayal membuat Dicky mengalami gangguan perilaku seperti itu. Denny mulai berpikir mencari bantuan untuk menangi Dicky yang mau tak mau kini menjadi beban tanggung jawanya. Meski begitu, Denny tak lantas menyesali perbuatannya karena menolong Dicky.
***
__ADS_1
Gelap malam mulai menyelimuti seluruh permukaan bumi. Vivin kembali menemui Santana, dan menceritakan bahwa ada dua anak kecil di rumah Umar, dan Lita. Vivin juga memberitahu Santana, nama kedua bocah itu adalah Shaka, dan Dicky.
Lantas Santana merasa kaget. Bagaimana mungkin anaknya dan anak mantan anak tirinya ada bersamaan. Hal itu sungguh membuat Santana penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi setelah perpisahannya dengan Asih.
Satu-satunya jalan untuk mengetahui apa yang terjadi adalah dengan menemui Denny. Akhirnya malam itu juga Santana pergi menemui Denny. Dengan kemelut pikiran yang membuat hati dan perasaannya tak tenang.
Sekitar 35 menit kemudian, Santana tiba di rumah Denny. Sudah clear masalah di antara mereka. Jadi, Santana dan Denny bersikap layaknya teman. Walau di dalam hati masing-masing tiada yang benar-benar tahu. mungkin saja mereka masih sama-sama menyimpan rasa cemburu.
"Kebetulan, Mas. Tadinya aku yang akan pergi mencarimu," ujar Denny saat keduanya sudah dalam keadaan duduk di ruang tamu. Denny menceritakan semua hal pada santana, sebelum Santana sempat bertanya.
Jujur di dalam hati kecilnya. Santana tak tega namun, tetap saja Santana tidak mau dan tidak akan pernah bisa menerima siapa pun selain Mariam, di hatinya saat ini. Entah sampai kapan perasaan Santana akan terpatri pada tali ikatan yang sudah lama usai itu.
"Baiklah, Den. Jadi, apa kiranya yang harus kita lakukan? Perlukah kita menemui Arifin untuk hal ini?" ujar Santana.
__ADS_1
"Aku rasa itu lebih tepat, Mas. Bagaimana pun, Dicky adalah darah daging Arifin" jawab Santana menyetujui. Malam itu mereka mengobrol, menyusun rencana.
Santana mencuri-curi pandang menyapukan perhatian ke seluruh sudut ruangan. Mencari sesosok wanita yang menjadi ratu penguasa di jagad hatinya hingga saat ini. Namun, ia tak menemukannya.
Ternyata Denny melarang Mariam, untuk menampakkan wajah cantiknya itu di hadapan Santana. Benar, adanya kecemburuan yang besar pada diri Denny.
Bersambung....
Ikan hiu bawa bawa camera
Thank you ya, para pembaca setia.
Jangan lupa, komen, gift, vote juga likenya.
__ADS_1
Lope-lope sekebon buat kalian. ❤❤❤❤❤