Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 19. Tangis Dalam Senyuman


__ADS_3

Hujan mengguyur bumi membasahi setiap apa saja yang dijangkaunya. Deras bagai ombak rindu yang berdebur seru memanggil satu nama. Wajah indah yang terlukis nyata di ruang hati sang pemendam cinta, kini hilang diterpa badai yang tak pernah diharap jua.


Perih bagai terkuliti rasa. Santana kini harus menerima kenyataan bahwa dirinya benar-benar kehilangan Mariam. Hatinya sakit, jiwanya terluka namun, kesadarannya kini lega.


"Wahai cintaku, wahai kekasih belahan jiwaku. Ku relakan kini bahagiamu bermuara di dada lelaki yang ku andalkan untuk bisa menjagamu. Mariam ... Aku Santanamu yang terpaksa berubah karena kelemahanku yang terlalu takut kehilanganmu."


Santana bicara dalam deraian air mata yang membanjiri wajahnya. Hingga matanya sembab, sampai penglihatannya tak nyata tertutup kesedihan dan penyesalannya. Setidaknya Santana sekarang tidak perlu khawatir lagi bahwa Mariam dan putranya Shaka, akan dileyapkan seperti yang diancamkan oleh Arifin selama ini.


Santana masuk ke dalam kamar dan menciumi sisa-sisa kenangan yang tersimpan dalam bentuk potret wajah kedua insan yang palng dicintainya. Sampai tak sadar lagi dirinya tertidur bersama dalamnya kerinduan dan perasaan yang tak karuan.


Pupus sudah semua cita-cita dan pengharapannya untuk bisa bersama.


***


Di dalam sebuah kamar, di rumah Umar dan Lita. Ada hati yang sedang berbunga-bunga. Denny tak henti-hentinya tersenyum dan meracau gembira sebab cintanya kini telah terbalaskan oleh Mariam.


"Mutiara tetaplah mutiara, sekalipun engkau dihempas kedalam lubang yang penuh kotoran. Mariam, begitulah dirimu yang tetap tangguh saat keadaan membuatmu lemah. Seperti itulah dirimu yang tetap cantik bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun," gumam Denny.


Berdebar rasa hatinya kala membayangkan wajah Mariam. Laksana jiwa muda yang sedang kasmaran di mana semua serba dirinya (Mariam). Sampai-sampai Denny tidak menyadari bahwa Umar sedang memperhatikannya.


"Ehem!" Umar berdeham membuat angan Denny yang sedang melayang di awang-awang seketika jatuh terbentur ke bumi. "Eh, kamu Umar, " ucap Denny terkejut. "Mas Denny ini, sampai segitunya terpikat pesona mbak Mariam," ledek Umar.


"Ah, kamu! Seperti tidak pernah jatuh cinta saja, Mar " tutur Denny salah tingkah. "Katakan ada apa? mengganggu khayalanku saja," ketusnya. Umar terkekeh melihat tingkah kakak sepupunya itu.


"Jangan meledekku, Umar!" tandas Denny sembari memukuli Umar dengan bantal. Namun, Umar justru semakin tertawa tak berhenti. Akhirnya Umar mengalah dan berkata "Ampun, Mas ... Aku menyerah."


"Itu lho, Lita sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Cepatlah bersiap kami tunggu di meja makan," papar Umar lalu bergegas sembari menyepatkan diri meledek Denny. "Eh, ada mbak Mariam," ujar Umar berbohong namun, membuat Denny salah tingkah.

__ADS_1


"Kurang asam kamu, Mar. Awas kamu ya!" kata Denny yang menyadari dibobongi lalu mengejar Umar bagai dua bocah yang sedang bersenda gurau. Lita hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat melihat dua laki-laki dewasa yang bertingkah kekanak-kanakan.


"Sayang, tolong aku sayang... Mas Denny akan menghisap darahku," canda Umar seraya terus berlari menghindari kejaran Denny. "Teruskan, ledek saja terus Mas mu ini," tutur Denny gemas karena tak juga bisa menangkap Umar. "Dasar dua pria aneh," gerutu Lita.


Akhirnya kedua laki-laki itu benar-benar menghentikan candaannya lalu makan. Sambil makan pun keduanya masih sempat saling meledek. Kalau saja Lita tidak memasang mode mencekam pada wajahnya, mungkin mereka tidak akan berhenti.


Keadaan di rumah Denny....


Mariam terhanyut dalam lamunan. Tak bisa dipungkiri bahwa hati kecilnya masih belum percaya bahwa sebentar lagi ia akan jadi pengantinnya Denny. Detak jantungnya berdegup kencang setiap kali teringat hal itu.


"Apa benar aku tidak sedang bermimpi?" gumam Mariam sembari menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Tidakkah ini terlalu cepat bagiku untuk menjalin sebuah ikatan yang baru?" Mariam bertanya-tanya dalam dirinya. Namun, semua pikiran itu ditepisnya saat mengingat lamanya waktu yang ia habiskan dalam kehampaan saat menanti Santana.


Shaka memperhatikan Mariam dalam posisi berbaring di tempat tidurnya. "Ibu, apa sebenarnya yang Ibu pikirkan?" tanya Shaka dengan suara khas orang mengantuk. Mariam tidak menjawab dan hanya membelai pipi Shaka dengan lembut.


"Tidurlah, Shaka" titah Mariam lalu menyelimuti Shaka. "Ibu, izinkan Shaka bahagia dengan melihat Ibu dan paman Denny bersama nanti," batin bocah yang perlahan memejamkan matanya itu. Shaka menangkap kegundahan tersirat di raut wajah sang Ibu.


Ingatan Mariam tentang Santana justru semakin menguat setelah dirinya memutuskan untuk menerima pinangan dari Denny. Meski pikiran itu lagi-lagi ia tepiskan dari benaknya. Karena Mariam juga tak ingin mengecewakan Denny kalau nantinya Denny mengetahui hal ini.


Tok tok tok!


Ibu Denny mengetuk pintu kamar Mariam. "Ibu, ada apa, Bu?" ujar Mariam saat membukakan pintu untuknya. " Kemarilah sebentar Mariam," ajak Ibu membimbing Mariam ke ruang tamu.


"Duduklah, Nak ... Ibu ingin bicara," titah Ibu Denny meminta Mariam untuk duduk di sampingnya. Kala itu Mariam merasa khawatir kalau dirinya telah melakukan kesalahan. "Ibu, Mariam salah apa?" tanya Mariam dengan ekspresi wajah ketakutan.


Ibu Denny tersenyum melihat Mariam yang gugup dan merasa bersalah. "Memangnya apa yang kamu pikirkan, Mariam?" tanya Ibu Denny. "Tenang saja, Ibu tidak akan menyalahkan kamu karena kamu memang tidak melakukan kesalahan," hibur Ibu Denny.


"Ibu mengerti, tidaklah mudah melupakan pundak yang pernah jadi tempatmu bersandar. Dulu, Ibu saat ditinggalkan oleh Bapak juga begitu. Bedanya bapak pergi untuk selama-lamanya tapi, itu dulu untuk sekarang Ibu belajar ikhlas."

__ADS_1


Mariam menyimak dengan seksama penuturan wanita yang akan menjadi mertuanya itu. Mariam heran karena Ibu selalu bisa membaca kekhawatirannya. Padahal saat itu Mariam belum cerita.


"Terima kasih, Bu. Mariam akan belajar ikhlas, seperti Ibu," ucap Mariam. Ibu merangkul Mariam dan membiarkan Mariam merasa lega.


"Lepaskan siapa pun yang membuatmu sakit dan hancur, Nak. Jiwa dan ragamu sendiri punya hak untuk hidup lebih tenang dan bahagia. Ibu yakin Shaka juga punya harapan yang sama," imbuh Ibu Denny.


"Iya, Bu," ucap Mariam dengan bibir bergetar. Ingin sekali Mariam menangis hingga ia bisa melupakan lukanya. Namun, lagi-lagi Mariam menahannya sehingga itu menjadi hal yang sangat keliru karena menahan tangisan berarti menciptakan kesakitan yang lain 'rasa sebak di dada.


"Mariam, Ibu ingin kamu memakai ini" ucap Ibu memberikan sebuah cincin. "Ibu ... Mariam tidak ma...," kata-kata Mariam terhenti. Ibu langsung memakaikan cincin permata itu pada jari manis Mariam.


"Tidak usah menolak, sudah lama Ibu ingin memberikan ini tapi, Ibu belum menemukan orang yang tepat. Setelah melihat kamu, Ibu rasa inilah saat yang tepat. Cincin ini dari mendiang Nenek Denny, dan Ibu ingin ini dipakai oleh wanita yang akan menua bersama Denny" papar Ibu.


Mariam tersenyum dalam haru. Ia merasa bersyukur diperlakukan dengan baik oleh Ibu dari calon suami barunya. Mariam berharap semoga sikap Ibu padanya tidak akan berubah sampai kapanpun.


Bersambung....


Hai kamu... iya kamu yang selalu setia baca karya author. Sambil menunggu update selanjutnya author mau ngajak kalian buat mampir di karya teman author yang pastinya gak kalah keren.👇👇


Judul : Pacarku Seorang Merman Tampan


Karya : Syochan


Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan terlihat ada yang menyelamatkannya seperti seorang merman yang berparas sangat tampan. Ketika Vanya kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal bernama James Haolin.


Apakah benar orang yang menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika didalam lautan???


__ADS_1


__ADS_2