
Shaka kini telah sampai di rumah Davina. Rumah yang kini menjadi tempat tinggal ayah dengan ibu sambungnya-Davina. Mengarungi bahtera rumah tangga yang di dalamnya tersemoga sebuah bahagia.
"Sayang, lihatlah! Aku berhasil membawa Jagoanku," ucap Santana sedikit berteriak kala ia memasuki rumah.
"Shaka, ayo salami Ibu!" titah Santana seraya merangkul Shaka dan menuntunnya menuju Davina.
"Apa kabar, Ibu?" ucap Shaka sembari menyalami dan mencium punggung tangan Davina.
"Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja. Shaka bagaimana? Apa Shaka senang akan jalan-jalan?" Davina mensejajarkan tubuhnya dengan Shaka.
"Iya ,Bu. Kata ayah Denny, Shaka akan bersenang-senag bersama Ayah, dan Ibu Davina."
"Tentu saja, Sayang. Ayah, dan juga Ibu, akan mengajak Shaka melakukan semua hal yang menyenangkan." Davina tersenyum seraya membelai lembut pipi Shaka.
"Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum berangkat. Apa ada yang ingin dibawa lagi?" tanya Santana.
"Sudah semua, Mas. Kita tinggal menunggu mobil yang akan menjemput kita saja.
__ADS_1
"Baiklah, Shaka ... apa Shaka ingin sesuatu?" imbuh Santana.
"Tidak Ayah, terima kasih." Jawab Shaka.
***
Santana, Davina, dan juga Shaka, kini telah sampai di tempat yang menjadi tujuan. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan lama. Shaka terlihat lemas dan mengantuk, mungkin karena lamanya perjalanan ditambah suasana di sana yang sejuk dan nyaman.
"Shaka, apa Shaka mengantuk?" tanya Davina.
"Iya, Bu, Shaka ingin tidur."
Davina mengantarkan Shaka ke kamar di penginapan tersebut. Shaka langsung lari dan membantingkan tubuhnya ke kasur saat sampai di kamar. Rupanya ia sangat mengantuk hingga tidak butuh waktu lama bocah itu segera berkelana ke alam mimpi.
"Tidurlah, Sayang ...." Davina tersenyum sembari mengusap lembut pucuk kepala Shaka.
Davina melangkahkan kakinya perlahan, meninggalkan kamar itu. Ia kembali pada Santana, yang sudah menunggunya di luar. Dengan senyum yang membias di bibirnya, mata Santana tak beralih dari wajah bidadari yang telah halal baginya itu.
__ADS_1
Santana mengulurkan tangannya. Menyambut sang kekasih halal. Menuntun jemari lembut itu untuk lebih dekat kepadanya.
"Apa Shaka langsung tidur, Sayang?" ucap Santana, bertanya dengan nada lembut.
Davina hanya menjawab dengan senyum dan anggukkan kepala. Santana membelai pipi Davina dengan penuh mesra. Sorot matanya begitu teduh membuat nyaman.
"Terima kasih, Sayangku ... sudah menerima Shaka, dan menyayanginya. Andai tidak, sepertinya akan sulit bagi hati ini untuk merasa bahagia," tutur Santana.
"Tidak perlu berterima kasih, Mas. Bukankah Shaka darah dagingmu. Meski ia tidak lahir dari rahimku tapi, sekarang aku adalah bagian dari padamu. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyayangi Shaka.
Santana semakin tenang mendengar untaian kalimat yang baru saja ia dengar dari mulut Davina. Jiwanya segar bagai sekuntum bunga surga. Wajahnya berseri-seri membuat ketampanannya semakin nyata terlihat.
Davina bersandar di bahu tegar suaminya tersebut. Melabuhkan lelah setelah berlayar jauh mengarungi rasa. Begitu nyamannya hingga nyaris membuatnya lupa segalanya.
"Terima kasih, ya Rab. Atas izin-Mu, aku diberi kesempatan untuk menyusun kembali bait-bait rindu yang sudah lama tidak dapat aku selesaikan. Aku bersyukur atas nikmat yang luar biasa ini. Engkau telah munculkan lagi pelangiku seusai badai yang merundungi jalan hidupku selama ini."
Santana melangitkan syukurnya. Dalam dekapan cinta dan kehangatannya bersama Davina. Sungguh kali ini rasanya Santana tak ingin lagi melukai atau dilukai.
__ADS_1
Bersambung ...