Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 58. Tak Seperti Biasanya


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan indah sejak saat itu. Shaka mulai bersekolah di usianya yang sudah genap 7 tahun. Tidak terasa, bocah laki-laki itu kini tumbuh semakin besar dan menjadi anak yang cerdas.


Berkat kasih sayang yang utuh dari Mariam, dan juga Denny, tidak juga menghilangkan peran Santana, yang tentu saja masih memberi perhatian pada Shaka. Shaka terus tumbuh dengan keyakinan dan sikap percaya diri yang mantap. Kehadirannya selalu membuat gembira orang-orang di sekitarnya, termasuk para guru, dan juga teman-teman satu kelasnya.


Sampai di suatu hari. Ketika Denny hendak menjemput Shaka, untuk pulang. Ternyata Santana, sudah lebih dulu ada di dana. Menunggu Shaka, dan bermaksud mengajaknya pergi bermain.


"Ayaaah!" Shaka berteriak memanggil sembari berlari. Santana membuka kedua tangannya seraya membungkukkan tubuhnya, bermaksud ingin memeluk Shaka. Ia tersenyum sumringah melihat Shaka yang tampak rapi dengan seragam sekolahnya.


Namun, kala itu Santana, tak jua mendapati pelukan dari Shaka. Karena ternyata Shaka berlari dan menghamburkan pelukannya pada Denny, yang dengan posisi serupa juga tengah menunggu untuk memeluk Shaka, dari arah yang lain.


Santana tertegun beberapa saat. Pandangan matanya memudar terhalang bulir bening yang menggenang memenuhi bilik depan matanya. Ia menarik dan mengepalkan tangan hampanya.


Santana melihat Shaka, yang tengah tertawa menerima sambutan tangan Denny yang mengapungkannya di udara. Kebiasaan yang pantasnya dilakukan oleh seorang ayah pada anaknya. Santana tersenyum getir lalu melangkah putus asa.


Tiba-tiba sebuah tangan mungil memegangi pergelangan tangannya. Santana menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik tangan itu. Ia mendapati seorang bocah laki-laki tengah tersenyum padanya.


"Shakaku!" Santana langsung merangkul putranya. Andai saja bukan di tempat umum, mungkin Santana, sudah menangis tersedu-sedu menumpahkan keharuannya. Semula ia mengira Shaka, tidak memerlukannya lagi.

__ADS_1


"Apa ayah ingin mengajak Shaka bermaian?" tanya Shaka, seolah ingin mengalihkan kesedihan Santana. Santana langsung mengaggukkan kepala seraya tersenyum. Sementara Denny, sudah tidak terlihat lagi di sana.


Santana menggenggam tangan mungil itu. Mereka berdua pergi dengan sepeda motor yang dikemudikan Santana. Kesedihan Santana, kini berganti dengan rasa bahagia.


"Ayah, apa ayah membeli sepeda motor baru?" cetus Shaka di tengah perjalanan mereka. Anak itu terus berceloteh menanyakan ini dan itu. Sementara Santana, dengan sabar dan setia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh putranya itu.


"Tidak baru, Sayang, hanya saja masih layak dan cukup bagus." Kata Santana. Dengan senyum yang terus bergelimang di bibirnya.


"Tidak apa-apa, Ayah! Sepeda motor ini sangat bagus dan terlihat seperti baru," sambung Shaka lagi. Cukup pandai bagi Shaka, menghibur hati dan membuat Santana merasa senang. Sampailah keduanya di tempat yang dituju.


Di rumah Denny....


Mariam sedang menyiapkan makan siang untuknya sekeluarga. Sembari menunggu Denny, yang menjemput Shaka pulang dari sekolahnya. Dari luar pintu suara salam terdengar yang tentu saja adalah suara Denny.


Mariam bergegas untuk membukakan pintu. Dengan antusias ia menjawab salam itu. Tapi, raut wajah Mariam berubah ketika mendapati Denny, hanya datang seorang diri dan ia tidak melihat Shaka di sana.


"M-Mas ... Shaka di mana? Kenapa kamu hanya sendirian saja? Apa yang terjadi?" berondong Mariam dengan wajah cemas dan panik.

__ADS_1


"Apa suamimu tidak boleh masuk dulu?" Denny tidak menjawab satu pun pertanyaan Mariam. Ia malah memberikan pertanyaan yang membuat Mariam diam. Kemudian Mariam membiarkan Denny masuk ke rumah terlebih dahulu, Mariam mengekor di belakang Denny.


"Masak apa, Sayang? Dari baunya saja sudah membuatku semakin lapar," tutur Denny sambil menarik satu kursi untuk ia duduki. Denny langsung menuju meja makan yang sudah dipenuhi menu makanan buatan Mariam. Tampaknya Denny, masih enggan membahas dan menjawab pertanyaan Mariam.


Mariam mengambil sebuah piring lalu, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ia juga mengambil sendok dan garpu kemudian menyuguhkan jamuan makan siang itu pada Denny. Raut wajah Mariam masih tampak cemas. Namun, ia tidak ingin mengganggu makan siang Denny.


"Ibu di mana, Sayang?" tanya Denny di sela-sela makannya. Ia bertanya tanpa menatap mata Mariam. Seakan sengaja tidak ingin melihat kepanikan yang tersirat di wajah istrinya itu.


"Ibu sudah makan duluan, Mas! Katanya mau melanjutkan sulaman yang belum selesai jadi, ibu tidak menunggu." Papar Mariam.


Denny masih terus sibuk dengan makanannya. Ia tampak asik sendiri, sampai lupa bahwa Mariam, juga belum makan. Entah apa yang sedang memenuhi pikiran Denny kala itu.


Mariam mendengus pelan pada Denny. Ia merasa terabaikan. Pertama, Denny tidak menjawab pertanyaannya dan kedua, Denny melupakan Mariam, yang sejak tadi menunggunya untuk makan bersama tapi, ia malah asik makan sendiri dan tidak menunggu Mariam.


Akhirnya di meja makan itu tidak ada kehangatan separti hari-hari biasanya. Mariam pun enggan bertanya lagi. Ia hanya diam dan sesekali mencuri pandang pada suami yang sedang mengacuhkannya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2