
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Bersiap untuk menyantap sarapan nan lezat buatan Mariam. Dicky tampak termangu saat Mariam mulai menyendokan makanan ke piringnya. ketika semua orang mengangkat tangan dan berdoa, Dicky masih setia dengan diamnya.
"Dicky! berdoa dulu, Nak," ucap Mariam mencoba menyadarkan Dicky dari lamunannya. Lalu, bocah itu merespon Mariam dengan anggukan yang ragu. Mariam masih setia menunggu hingga bocah itu benar-benar memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Ibu Mariam, bolehkah sisa makanannya Dicky berika pada Ibuku?" tutur anak itu setelah menghabiskan beberapa suap makanannya. Mariam, Denny, dan Ibu yang kala itu sedang makan langsung saling menatap bergantian. Rupanya Dicky tampak sedikit tak bersemangat karena sedang mengkhawatirkan Asih, ibunya.
"Dicky, Ibu Asih sudah mendapat jatah makanan di sana. Bahkan lebih baik dan juga sehat. Jadi, Dicky tidak usah khawatir," bujuk Mariam berusaha menepis kekhawatiran bocah itu.
"Benarkah begitu, Ibu Mariam? Bagaimana kalau Ibu Dicky tidak bisa makan seperti kita, di sana?" Dicky masih bertanya untuk meyakinkan. "Tentu saja itu tidak akan terjadi, Nak. Semua orang yang ada di sana mendapatkan haknya termasuk makan dan minum," terang Mariam.
"Percayalah pada ibuku, Dicky. Ibuku tidak pernah berkata bohong" timpal Shaka meyakinkan Dicky. Akhirnya bocah itu berhenti bertanya-tanya dan melanjutkan sarapannya dengan lahap seperti biasanya.
***
__ADS_1
Pada bait hening Mariam menumpukan sujud di atas sajadah. Menyampaikan segala keluh yang menjelma menjadi doa-doa. Bercerita pada Sang Maha cinta, tentang betapa berterima kasihnya ia atas segala pertolongan-Nya. Sehingga dirinya mampu menghadapi dan melewati setiap cobaan berat yang menimpanya.
"Ya Allah, hamba telah mengikhlaskan segala kesakitan yang pernah Asih goreskan dalam hidup hamba. Ampuni dosa-dosaku juga ampunilah dosa-dosanya. Wahai Rob, yang maha menyembuhkan, tolong sembuhkan Asih seperti sedia kala" pinta Mariam dalam baris doa yang disusunnya.
Ketika itu, dua bocah laki-laki yakni Shaka, dan Dicky sudah terlelap dalam tidur di kamarnya. Sementara Denny sedang asik memandangi istrinya. Denny mulai bertanya-tanya, kalimat apa yang sedang disusun istrinya hingga membuat paragraf doa itu menjadi penuh dengan kesungguhan dan khusyuk.
Mariam mengakhiri munajatnya. Ia melipat kembali sajahnya lalu membuka mukena yang ia kenakan. Berjalan menghampiri Denny yang seketika itu langsung berpura-pura terpejam.
Mariam tersenyum memandangi wajah laki-laki yang kini menjadi raja dalam istana hatinya. Tangannya mengusap lembut wajah Denny lalu bibirnya mendarat lembut di kening Denny.
Saat mata Mariam mulai terpejam dan jiwanya terbang bersama mimipi-mimpi dan masuk lebih dalam ke dalam tidurnya. Denny membuka perlahan matanya lalu kini ia yang bergantian memandangi wajah ayu wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mariam, dari ribuan cahaya yang menyilaukan mata, kamulah yang paling menyala. Bahkan cahayamu itu tak pernah padam menerangi pekatnya gulita yang menyemayami malamku. Bagaimana mungkin aku akan bertahan andai engkau tidak bersamaku," Guman Denny dengan mode bucin.
__ADS_1
Denny membelai lembut pucuk kepala Mariam. ia masih setia memandangi wajah cantik nan ayu yang tengah tertidur lelap itu. "Malam ini rasanya aku tidak dapat tidur! Bagaimana bisa wajahmu selalu menjelma dalam ingatnku? Padahal jelas-jelas engkau berada di sampingku."
Kala itu, Denny sibuk dengan kemelut pikirannya sendiri. Bagai budak cinta yang sedang kasmaran pada kekasih pujaan hatinya. Di hampir separuh waktu malam, Denny belum juga dapat terlelap dengan tenang padahal rasa kantuk sudah membubuhi matanya.
Bersambung....
Ikan hiu pakai sepatu (emang bisa?)
Hey kamu! I love you (Dukung author terus ya!)
Tekan love dan favoritkan, like (setelah membaca of course) gift, vote dan tinggalkan komentarmu.
Lope lope seantero jagad buat kalian... Muaaah💋
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤