
Tiba saat yang paling dinanti-nanti. Di mana Santana, dan Davina akan pergi berbulan madu. Ke sebuah tempat yang sudah mereka rencanankan sebelumnya.
"Bagaimana, Sayang? Apa semuanya sudah siap?" tanya Santana.
"Aku rasa sudah. Tinggal menunggu apakah Shaka diizinkan ikut atau tidak ." Jawab Davina.
"Ya sudah, kita akan berangkat 3 jam lagi. Aku akan ke rumah Denny untuk meminta izin dan mengajak Shaka. Bagaimana dengan ayah?" tutur Santana.
"Baik, Mas, aku akan menunggu. Ayah sudah aku bujuk tapi, dia tetap menolak. Katanya, ayah ingin di sini saja menghabiskan waktunya di rumah," terang Davina.
"Kalau begitu, biarkankan saja. Mungkin ayah lebih senang di rumah. Jangan dipaksa untuk ikut." Santana tersenyum lalu mengusap lembut kepala Davina.
Santana melenggang keluar dari kamar. Seperti yang ia katakan, ia akan ke rumah Denny. Dengan harapan yang ia kemas dalam hatinya ' semoga Denny, dan juga Mariam, memberikan izin untuk membawa Shaka pergi'.
Dengan menaiki sepeda motornya. Santana menempuh jalanan menuju rumah Denny. Berberapa waktu berselang, ia pun kini sampai di sana.
"Ayaaaaah!" teriak Shaka, yang kebetulan saat itu ada di depan teras rumah. Ia asik bermain sendiri, dengan barisan mobil-mobilan miliknya.
"Jagoan Ayah ...," ucap Santana sembari merentangkan kedua tangannya.
Shaka menghambur ke pelukan Santana. Santana merasa sangat senang. Sebab, ia mendapat sambutan yang hangat dari putranya itu.
"Di mana Ayah Denny, dan Ibumu, Sayang?" tanya Santana sembari melepaskan pelukannya.
"Ada di dalam, Yah. Mereka sedang merapikan kamar untuk adik bayi."
"Kalau begitu, apa Ayah boleh minta tolong?" kata Santana sembari mencubit manja hidung Shaka.
"Apa yang harus Shaka lakukan, Ayah?"
__ADS_1
"Katakan pada Ibu, dan Ayah Denny ... Ayah ingin bicara." Santana kembali mengurai senyuman.
"Baik, Ayah!" Shaka langung berlari ke dalam untuk memberitahu Denny, dan Mariam.
Sementara, Santana menunggu di luar dengan perasaan harap-harap cemas. Ada rasa khawatir kalau-kalau ia tidak mendapatkan izin dan mungkin saja, ia mendapatkan izin tapi, Shaka yang menolak untuk ikut dengannya.
Tidak lama, Shaka kembali bersama Denny, dan Mariam. Mereka saling menyapa dengan salam. Kemudian, Denny mempersilakan Santana untuk masuk.
"Jadi, ada apa, Mas?" Denny mengawali perbincangan setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Begini, Den ... aku, dan Davina akan pergi berlibur tapi, aku ingin mengajak Shaka bersama kami. Apa boleh?" tutur Santana dengan nada hati-hati.
"Sayang, bagaimana menurutmu?" Denny melempar pertanyaan pada Mariam, sementara Santana terlihat cemas menunggu jawaban.
"Emm ... sebentar ya, Mas!"
"Shaka, Ayah dan juga ibu Davina. Ingin mengajak Shaka, untuk pergi berlibur. Apa Shaka bersedia ikut?" tanya Mariam.
Shaka menatap Mariam, dan juga Santana bergantian. Tampak sekali kebingungan di wajahnya. Meski begitu, akhirnya Shaka menjawab pertanyaan Mariam.
"Apakah Ibu akan senang jika Shaka pergi bersama Ayah dan ibu Davina?" jawab Shaka membalikkan sebuah tanya.
"Tentu saja, asalkan Shaka juga senang." Jawab Mariam seraya tersenyum.
"Kalau begitu, Shaka boleh ikut ya, Bu! Ayah Denny, tolong jaga Ibu, dan juga calon adik bayi, ya." tutur Shaka memohon.
"Tentu saja, Jagoan. Bersenang-senanglah di sana, janga khawatir, Ibu, dan juga adik bayi akan aman bersama Ayah, dan juga Nenek." Denny mengacak pelan rambut Shaka.
"Alhamdulillah, terima kasih Den, Mariam. Aku berjanji akan menjaga Shaka dengan baik," ucap Santana penuh syukur dan binar kebahagiaan.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, Mas. Kami turut senang, kamu akan berbulan madu 'kan?" goda Denny.
"Ahh, kamu Den, bisa saja." Jawab Santana malu-malu.
Mariam pun menyiapkan pakaian Shaka, dan mengemasnya sengan rapi pada sebuah tas. Shaka pergi bersama Santana. Tidak lupa peluk dan cium Shaka berikan pada Mariam, dan juga Denny sebelum ia pergi.
Mariam mengajarkan pada Shaka, untuk berani mengambil sebuah keputusan sesuai yang dia inginkan. Dengan syarat, bahwa keputusannya adalah hal yang tidak merugikan dirinya atau orang lain. Karena itu, Mariam memilih betanya dahulu pada Shaka, dan membiarkan Shaka menjawabnya sendiri. Dengan begitu, seorang anak akan merasa dihargai atas apa yang menjadi keputusannya.
Bersambung ....
Nantikan kisah selanjutnya ya, guys! Sambil menunggu, othor punya rekomendasi novel yang keren milik teman othor. Yuk mampir! Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya setelah membaca, ya. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Judul : Simpanan Berondong Tajir
Karya : Thatya0316
Ini cuplikannya :
Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.
Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.
"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."
"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia
__ADS_1