Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 74 Pertengkaran Kembali Terjadi


__ADS_3

Hanif memapah Raya ke luar dari ruang rawat inap klinik. Dengan sangat hati-hati dan sabar. Hanif berjalan mengimbangi gerak langkah Raya yang pelan dan sedikit pincang, menuju mobilnya.


Mereka kini sudah berada si dalam mobil. Hanif melajukan mobilnya perlahan. Suasana begitu hening, sebelum Hanif bertanya mengenai alasan mengapa Raya hingga demikian putus asa.


"Apa kamu masih belum mau mengatakannya?" ucap Hanif hati-hati.


"Arifin, Mas. Dia nyaris membuatku gila. Aku kira setelah aku banyak mengalah padanya, akan membuat dia menyadari kesalahannya tapi, ternyata tidak."


"Memangnya apa lagi yang dia lakukan? Apa dia masih belum jera setelah kehilangan putranya? Arifin memang bi*dab."


"Dia membujukku agar aku mau menerima wanita itu (Asih). Pikir saja, Mas. Bahkan membayangkannya saja aku tidak sanggup!" Dada Raya sesak.


"Apa alasan Arifin, hingga dia ingin melakukan hal itu?" Hanif merasa geram.


"Wanita itu depresi, Mas. Sudah lama sejak suaminya-Santana, memutuskan untuk meninggalkannya. Beberapa waktu yang lalu dia sudah dinyatakan sembuh. Namun, dia kembali membabi buta dan membuat kekacauan di pesta pernikahan mantan suaminya. Suami yang dijebak Arifin untuk menggantikan Arifin memberi tanggung jawab." kenang Raya.


"Maksudnya? Jadi, selain mengkhianatimu, Arifin juga mengambing hitamkan orang lain?" Hanif tercengang.


"Begitulah perangainya, Mas. Dia tidak pernah memikirkan akibat apa yang akan diterima." Raya semakin terlihat sangat kesal.


"Aku sudah bisa melihat gelagat tak baik Arifin, sejak pertama kali melihatnya di acara lamaranmu. Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak karena kamu mencintainya. Sementara aku, hanya bujang tua yang ditakdirkan untuk terus menunggumu .... mungkin sepanjang sisa hidupku."


"Maafkan aku, Mas," Raya menunduk penuh sesal.


"Tidak mengapa, Raya. Lagi pula, usia yang terpaut 10 tahun di antara kita, cukup masuk akal untuk dijadikan alasan penolakanmu."

__ADS_1


Kata-kata Hanif membuat Raya menyadari, bahwa megandalkan rasa cinta saja tidak menjamin kebahagiaannya dalam memilih pasangan. Meski kini, kesadaran akan hal itu sudah terlambat. Dirinya sudah terlanjur mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh kepahitan dengan Arifin.


"Lupakan saja, sebentar lagi kita akan sampai ke rumahmu," ucap Hanif.


Wajah Raya semakin sedih. Andai boleh memilih ia tidak mau kembali lagi ke rumah itu. Semua kenangan yang menyesakkan jiwanya kembali terasa.


10 menit kemudian!


Mereka sampai di halaman rumah raya. Mereka turun dati mobil. Rumah itu tidak terkunci. Hanif membantu Raya berjalan masuk.


"Bagus, inikah alasanmu pergi meninggalkan rumah. Untuk bertemu dan berkencan dengan si bujang lap*k ini?" hardik Arifin yang muncul secara tiba-tiba dari arah kamar, sembari bertepuk tangan.


"Tidak begitu, Arifin. Raya-" kata-kata Hanif terpotong.


"Raya pergi dari rumah dan tidur denganmu, bukan? Hebat sekali sandiwara kalian." Pungkas Arifin yang tak mau mendengarkan penjelasan dari Hanif.


Pertengkaran pun kembali terjadi. Arifin bukan semakin menyadari kesalahannya atau setidaknya mendengarkan apa yang Raya katakan. Malah sebaliknya, Arifin terus menuduh dan menyudutkan Raya.


Di situ, Hanif merasa serba salah. Ingin membantu Raya, tapi pasti kemarahan Arifin semakin menjadi. Terlebih, itu adalah urusan rumah tangga mereka. Namun, Hanif semakin merasa bersalah ketika membiarkan Raya diperlakukan semena-mena oleh Arifin.


Akhirnya, Hanif memutuskan untuk memberi pelajaran pada Arifin, dengan mendaratkan bogem mentah di wajahnya, saat Arifin mulai berani memukul Raya, yang kala itu masih penuh balutan perban dan sakit akibat kecelakaannya belum hilang.


"Jangan melampaui batas, Arifin!" ucap Hanif penuh penekanan. "Kalau sekali lagi kamu berani menyakiti Raya, aku tidak segan-segan untuk menyeretmu ke dalam penjara." Lanjutnya.


Pertengkaran pun dapat dilerai. Hanif pamit pada Raya, setelah dirinya berhasil memberi peringatan keras pada Arifin. Kini tinggal Raya, dan juga Arifin yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


***


Di lain ruang dan waktu. Santana berbicara kepada Davina, membujuknya untuk membawa Shaka saat melakukan honey moon nanti. Ia ingin Shaka turut serta merasakan kebahagiaan bersama mereka.


"Jangan tanya aku atau minta kepadaku, Mas. Tapi tanyalah pada anakmu, dan mintalah pada ibu dan ayahnya di sana." Tandas Davina.


"Baiklah, aku akan berusaha." Santana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bersambung ....


Nantikan terus update selanjutnya, ya! Namun, sambil menunggu, yuk kita menjelajah karya dari temen author dulu, yang pastinya menarik untuk diikuti .... lets checkitout :


Judul : TRIPLE'K


Karya : Unopp


Tiga orang gadis yang dulunya tinggal di sebuah panti asuhan yang sama. Entah kebetulan atau tidak ketiga gadis tersebut mempunyai inisal nama yang sama yaitu Kania, Keysa dan Kirana. Mereka sering disebut TRIPLE'K.


Namun setelah beranjak dewasa ketiganya memutuskan untuk menjalankan hidupnya lebih mandiri, dengan hanya tinggal di kontrakan kecil mereka menjalaninya dengan suka cita.


Namun pada suatu kejadian mereka bertemu dengan pria kaya, mereka terjebak dalam suatu perjanjian.


Bagaimana nasib mereka kedepannya?


__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Selamat membaca. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2