Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 54. Mengajak Shaka Menemui Davina


__ADS_3

Sejuta lamun menghantar kecamuk. Bertenggeng yakin di atas kepala. Menari-nari dalam pikiran seraya menyiarkan ulang berita, tentang menangkis atau justru menerima diam-diam lalu terang-terangan membuka hati.


Seminggu berlalu. Santana mulai berdamai dengan masa lalu. Ia bersikeras menerima apa yang datang di hadapannya.


Dengan perasaan hati yang digembira-gembirakan. Ia bersenandung ria di hadapan cermin. Tersenyum pada pantulan bayangannya sendiri.


"Sepertinya wajahku terlihat kusam," ucapnya sembari memegangi dan melihat bayangannya pipi kanan dan kirinya pada cermin bergantian. Lalu ia meluruhkan pijatan-pijatan kecil pada wajahnya. Meregangkan otot-otot wajah yang tegang.


Santan tersenyum. Menyudahi aktifitas memandangi diri sendiri itu. Ia kembali ke kamarnya.


Di bilik sepi itu, Santana membuka lemari pakaiannya. Memilah-milah pakaian mana yang sekiranya baik dan dirasa pas dengan suasan hatinya. Ia pun menjatuhkan pilihan pada T-sirt dan celana jeans saja.


Hari ini ia ingin mengajak Shaka pergi bermain. Ia menyiapkan dengan sungguh, hatinya. Bila sewaktu-waktu melihat Mariam lagi. Agar tidak goyah langkah dan tekadnya. Untuk berhenti mengejar dia yang sudah bukan untuknya.


***

__ADS_1


Santana tiba di rumah Denny. Seperti sebelumnya, ia meminta izin untuk membawa Shaka bermain bersamanya. Kali ini ia lebih yakin dan tanpa basa-basi.


Denny menangkap perbedaan sikap Santana. Ia merasa senang bahwa Santana benar-benar mengerti dan mendengarkan tentang apa yang disampaikannya tempo hari. Hingga Mariam tak melihat lagi rona penyesalan di mata Santana.


"Apa sekarang dia sudah bisa melupakan aku? Baguslah, itu tandanya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaannya," batin Mariam usai Santana pergi.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Denny. Di satu sisi ia merasa senang pada perubahan sikap Santana. Di sisi lain, ia merasa cemas sebab melihat wajah Mariam, yang tampak memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku harus kembali ke dapur. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Mariam, mengalihkan topik pembicaraan.


Denny tersenyum. Ia mencurigai sikap Mariam. Namun, dirinya menepis kembali rasa curiganya. Ia tak ingin membuat sikapnya itu menjadi pemicu pertengkaran.


***


"Hai, siapa anak tampan ini?" tanya Davina menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan. Wanita cantik itu tampak ramah pada Santana, dan tamu kecilnya.

__ADS_1


"Halo, Bibi Davina. Kenalkan, ini Shaka. Jagoanku yang tempo hari aku ceritakan padamu," ujar Santana, memperkenalkan anakny itu.


"Oh ini, Shaka. Hai Shaka, kenalkan, aku Bibi Davina. Teman dekat ayahmu," kata Davina seraya mengulurkan tangannya.


Shaka menyambut uluran tangan Davina. Dengan senyum dan suka cita. Anak itu tampak ramah dan manis.


"Bibi Davina! Apakah Bibi akan segera menikah dengan ayahku?" cetus Shaka, membuat Santana, dan Davina salah tingkah.


"Sayang, kami belum merencanakannya. Begitu 'kan, Ayah?" ucap Davina seraya menoleh pada Santana.


"Baiklah, Jagoan. Bagaimana dengan sebatang coklat? Apa Shaka suka?" seloroh Davina menyodorkan sebatang coklat pada Shaka.


"Terima kasih, Bibi. Shaka sangat menyukai ini," ucap Shaka sembari mengambil coklat yang diberikan Davina.


Davina mempersilakan Santana, dan tamu kecilnya itu untuk masuk. Ia menyuguhkan 2 slice cake dan 2 gelas jus mangga untuk mereka.

__ADS_1


Bincang-bincang hangat pun terjadi di antara mereka. Seperti orang yang sudah lama saling mengenal.


Bersambung....


__ADS_2