Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 97 Aku Ingin Memberikan Hatiku Sekali Lagi


__ADS_3

"Jangan sampai penyesalan yang sama singgah dalam hidupmu, untuk kedua kalinya," lanjut Ayah Davina seolah mengancam.


Baik Santana, maupun Denny hanya diam termangu. Sesekali mereka saling berpandangan seakan merasa bahwa Ayah Davina memang sedang menyelam sambil minum air. Ia bercerita sekaligus memberi pesan di setiap kalimat yang ia utarakan dengan makna mendalam. Begitu dalam, dan hanya dapat dimengerti oleh orang-orang dengan kepekaan yang tinggi.


"Apa kalain tahu? Aku tidak pernah bisa berhenti mencintai istriku, bahkan saat dia memilih untuk berpisah denganku. Keputusan yang paling aku sesali adalah saat aku menuruti keinginannya itu. Keinginan yang sama sekali tidak benar-benar menjadi sebuah keinginan. Dia hanya tidak mau membuatku bersedih ketika dia tahu, dirinya mengidap penyakit mematikan ...," lanjut Ayah Davina.


Napasnya semakin terasa berat saat bicara. Ulu hatinya seolah koyak mengucap penyebab perpisahannya dengan mendiang istrinya itu. Suaranya bergetar parau membangkitkan bulu-bulu halus dan membuat pori-pori meremang.


"Ayah, tidak perlu diteruskan! Ini, silakan minum dulu, Yah," tukas Santana seraya menyodorkan segelas air putih pada Ayah Mertuanya.


"Terima kasih, Nak," ucapnya sedikit tercekat. Tangannya gemetar kala memegangi gelas berisi air mineral itu.


"Tenanglah, Ayah. Semuanya sudah baik-baik saja," ucap Denny turut menenangkan.


"Ya, kalian benar ...," lirih Lelaki tua itu.

__ADS_1


"Andai waktu dapat diputar kembali, aku ingin hidup bersamanya lebih lama. Bukan sekedar mencintainya saja. Aku ingin duduk di sampingnya, memberikan hatiku sekali lagi. Memberikan hati yang bahkan tidak menyadari bahwa dia sedang sangat membutuhkan aku saat itu," tangan tua itu bergerak-gerak tak tenang sembari jari jemarinya tertaut pada sisi kursi yang ia duduki.


Sontak kedua laki-laki yang ada di sisi kanan kirinya itu pun duduk lebih rapat ke arahnya. Mereka merangkul dan menepuk pelan punggung tua di hadapan mereka. Ayah Davina tidak sanggup menahan desakan rindu pada wanita yang selalu ia cintai hingga saat ini.


"Kakek, mengapa Kakek menangis?" tanya dua bocah laki-laki yang sudah berdiri tepat di depan mereka. Kedua bocah itu menatap bingung. Mereka saling melempar pandang dengan hati yang bertanya-tanya.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Kalian mainlah lagi!" titah Denny.


"Kami lapar, Ayah," cetus Dicky.


"Ya ampun, aku sampai lupa. Ini sudah waktunya untuk makan siang," ujar Santana.


"Baiklah, Mas."


Santana segera pergi untuk membeli makan siang mereka. Dengan langkah terburu-buru, ia turun dari sepeda motornya ketika sampai di sebuah rumah makan sederhana. Santa pun memesan beberapa porsi nasi, beserta lauk pauknya. Pikirannya berkecamuk resah, saat ia sadar telah melupakan tugasnya untuk menyiapkan makanan itu.

__ADS_1


Santana lalu kembali, dengan makanan di tangannya. Ia tidak memperdulikan uang kembalian yang sedang disiapkan oleh pemilik warung itu. Dirinya terlalu terburu-buru dan tidak tahan mendengar kata 'lapar' dari mulut dua anak laki-laki itu.


Beberapa belas menit kemudian. Santana sudah sampai kembali di rumahnya. Ia segera menata makanan yang ia beli di meja. Kedua bocah itu sudah setia menanti makanannya siap untuk disantap. "Nak, kalian makanlah dulu! Ayah akan memanggil Kakek, dan juga Paman Denny," titah Santana.


"Bukan 'Paman Denny' Ayah, tapi 'Ayah Denny' " cetus Shaka.


"Ya, baiklah .... Ayah Denny!" ucap Santana menurut. Ia pun bergegas keluar memanggil Denny, dan Ayah Mertuanya, kemudian mereka makan bersama.


"Apa Davina tidak makan bersama kita, Nak?" tanya Ayah Davina di sela waktu makannya.


"Tidak, Ayah, Davina sudah berpesan tadi pagi dan izin untuk makan di toko saja. Bersama karyawannya." Tutup Santana.


Bersambung ....


Gak bosen-bosen othor minta dukungan, dan juga jangan lupa mampir ke karya othor yang lain, ya.

__ADS_1


👇👇



__ADS_2