
Dari dekapan sang malam Santana terlempar. Ditangkap rangkulan pagi yang begitu hangat. Santana terbangun dan mendapati si pemilik warung sudah berjibaku dengan aktifitasnya.
"Pak, terima kasih atas kesediaannya mengizinkan saya meninap di sini," ucap Santana yang beranjak mendekati Bapak pemilik warung itu. "Santai saja, Mas ... saya senang ada yang menemani," jawab si Bapak sembari tersenyum. "Kalau begitu saya pamit dulu," kata Santana sembari menyalami tangan si Bapak pemilik warung yang baik hati itu.
Santana menolak saat dirinya di ajak untuk sarapan terlebih dahulu. Santana juga memaksa si Bapak untuk menerima sejumlah uang sebagai tanda terima kasih darinya. Mereka akhirnya berpisah setelah sebelumnya saling berkenalan dan mengingat nama satu sama lain.
Dengan setitik harapan yang didapatnya, Santana kembali pulang. Ia menunggu saat di mana Arifin akan berterus terang dan menceritakan semuanya terhadap Mariam. Sedikit demi sedikit perasaan Santana menjadi lebih lega.
***
"Mariam, kenapa Shaka belum terlihat?" tanya Ibu Denny pada Mariam yang sedang sibuk membuat kue pesanan. "Sepertinya masih tidur, Bu," jawab Mariam yang tetap melanjutkan pekerjaanya tanpa mnoleh. Wanita paruh baya yang dipanggil 'Nenek' oleh Shaka itu pun pergi ke kamar untuk memastikan keadaan Shaka.
Dengan langkah kaki sedikit terburu-buru ia membuka pintu kamarnya yang kini menjadi tempat tidur Shaka. Kini ia sudah berada di dalam kamar, menyapukan pandangan dan alangkah kagetnya saat Shaka tidak ditemukan di sana. Ia berlari ke dapur untuk memberitahu Mariam bahwa Shaka tidak ada.
__ADS_1
"Mariam, Shaka tidak ada di kamarnya!" katanya dengan wajah panik. "Yang benar, Bu? Kemana dia?" Mariam langsung menghentikan aktifitasnya. Lalu, Mereka berdua bergegas mencari Shaka di setiap sudut rumah bersama-sama. Namun, Shaka tidak juga ditemukan
Wajah keduanya menyiratkan kekhawatiran. "Mariam, kemana dia biasa bermain? tanya Ibu Denny. "Setelah pindah di rumah Ibu, Shaka tidak pergi keluar kecuali bersamaku dan mas Denny, Bu" terang Mariam.
"Kemana cucuku itu pergi? Tidak biasanya ia tidak berpamitan," gumam Nenek yang begitu menyayangi Shaka itu. "Apa Denny juga belum kembali dari rumah Umar, Mariam?" tanyanya lagi. "Belum, Bu, sejak tadi Mariam belum melihat mas Denny kembali," jawab Mariam dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
Tiba-tiba terdengar suara Denny mengucapkan salam. Mariam dan Ibu langsung berlari menuju pintu. Baik Ibu, maupun Mariam merasa takut Denny marahi karena tidak bisa menjaga Shaka. Sudah terbayang di mata mereka apa saja yang akan dilontarkan Denny untuk menceramahi mereka.
"Ibu, Mariam, ada apa ini? Mengapa wajah kalian menegang? Apakah aku terlihat menakutkan?" berondong Denny. Kedua wanita itu tidak menjawab dan hanya menunduk lesu. "Ibu? Mariam? Katakan ada apa?" cecar Denny membuat mereka semakin merasa takut.
"Kalian memang selalu sibuk sendiri, sampai tidak memperhatiakan dua laki-laki tampan yang ada di rumah ini," tutur Denny datar. "Kamu ini, bukannya bantu mencari Shaka malah turut menambah bingung," sergah Ibu.
Denny tertawa mendengar hal itu. "Mas, kamu tidak khawatir? Shaka tidak ada di rumah" tanya Mariam heran. "Tentu saja tidak, untuk apa aku khawatir" jawab Denny santai.
__ADS_1
Mendengar penuturan Denny, Mariam langsung berkecil hati. "Lagi pula kamu siapanya Shaka, Mas. Jelas kamu biasa saja dan tidak mengkhawatirkan anakku," batin Mariam dengan air mata yang mulai mengambang.
Mariam lalu melangkah putus asa dari hadapan Denny dan Ibu. Ibu langsung membulatkan matanya pada Denny karena merasa ucapan Denny telah menyinggung Mariam. Bukannya merasa bersalah Denny malah tetap santai menghadapi dua wanita yang sedang khawatir itu.
"Sayang, bisakah buatkan aku teh?" teriak Denny seakan tidak memperdulikan perasaan Mariam. Ibu Denny mencubit perut Denny dengan keras. "Aduh sakit, Bu... ampun, Bu!" ringis Denny kesakitan. Bak seorang anak kecil yang kena jewer ibunya karena bandal.
"Kamu ini, benar-benar keterlaluan!" kesal Ibu lanjut mencubit dan memukuli Denny. "Baiklah, aku akan jujur" ucap Denny sembari mendoyongkan badan menghindari pukulan Ibu dengan kedua tangannya. "Apa? Jujur mengenai apa, huh?" geram Ibu sambil berusaha terus mndaratkan pukulan pada Denny.
"Shaka, aku yang mengajaknya tadi pagi. Sekarang dia di rumah Umar dan Lita. Mereka ingin mengajak Shaka bermain di sana," papar Denny.
Dua wanita itu langsung memegang dadanya seraya meghela napas lega. "Mas, jantungku hampir copot," ujar Mariam. "Dasar anak nakal," timpal Ibu kemudian berlalu meninggalkan Denny dan melanjutkan sulaman kainnya.
"Kami merasa dilupakan, karena itu aku, dan juga Shaka pergi tanpa berpamitan" ucap Denny memasang wajah melas. "Ih apa sih, Mas? Kamu ini berlebihan" desis Mariam menahan tawanya. Denny masih terus saja menggoda istrinya itu tanpa belas kasihan.
__ADS_1
Bersambung...
Hai readers kesayangan... jangan lupa tinggalkan jejak ya setelah membaca... tinggalkan komentar walau hanya satu kata, karena itu sangat berarti untuk mendorong semangat author agar terus update.💖💖💖