Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 17. Iya, Aku Terima.


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu sejak hari di mana Shaka mematahkan semua keangkuhan Santana. Shaka menjadikan hari-harinya hanya dengan senyum dan tawa. Tidak ada air mata atau sedu sedan seperti hari-hari sebelumnya.


Keangkuhan Santana rupanya membuyarkan kepingan rindu Shaka padanya. Meski Shaka tidak membenci Ayahnya itu. Namun, yang terjadi padanya kini sungguh jauh dari dugaan.


"Nenek, Nenek tahu tidak? Ayah tinggal bersama Dicky dan Ibunya," tutur Shaka. "Apa orang dewasa akan mengusir keluarganya untuk tinggal bersama keluarga baru, Nek?" imbuhnya. "Kalau begitu Shaka tidak mau jadi dewasa, biarkan saja Shaka tetap kecil dan terus bersama Ibu," bocah itu berceloteh di hadapan Ibu Denny.


"Shaka, tentu saja tidak semua orang dewasa seperti itu. Apa Shaka juga seperti Dicky yang suka menuduh dan menjahili Shaka? 'tidak kan. Dengarkan Nenek, Shaka harus tumbuh besar dan menjadi orang dewasa yang baik, agar bisa menjaga Ibu," tutur lembut Ibu Denny.


"Baik, Nenek!" balas Shaka lalu tersenyum pada wanita yang ia sebut Nenek itu. Perlakuan Santana yang demikian tega membuat Shaka berpikiran hingga sejauh itu.


"Kasihan sekali kamu, Nak. Santana kok tega menelentarkan anak dan istrinya begitu lama, lalu kembali dengan torehan luka baru yang membekas lebih nyeri" batin Ibu Denny. Wanita paruh baya itu punya empati yang tinggi terhadap Mariam, dan juga Shaka.


Mariam melanjutkan aktifitasnya di dapur. Hari ini Ibu Denny minta dibuatkan kue-kue kecil dan makanan ringan yang biasa Mariam jual. Ibu Denny akan mengajak Mariam dan Shaka berkunjung ke suatu tempat, dan membagikan makanan-makanan itu di sana.


Waktu pembuatan kue dan makanan ringan itu berlangsung kurang lebih 3 jam sejak pagi hari. Setelah selesai Mereka mengambil waktu istirahat sejenak. Barulah setelah rasa lelah mulai hilang, Ibu mengajak Shaka, dan Mariam ke tempat yang dituju.


Karena satu sepeda motor saja tidak akan muat jadi, Ibu meminta Denny agar Umar turut serta mengantar mereka. Denny dan Umar kini sudah datang dan siap mengantarkan. Shaka tampak antusias untuk pergi ke sana.


***


Sampailah mereka di sebuah rumah singgah yang menampung anak-anak jalanan seperti, pengamen, peminta-minta dan lain-lain. Di sana mereka mendapat penyuluhan dan arahan agar bisa hidup mandiri dengan cara berkarya. Shaka tersenyum melihat mereka.


Andini, seorang sukarelawan yang dengan tulus memberikan jasanya pada anak-anak itu. Ia menyambut kedatangan Ibu Denny dan yang lain dengan penuh keramahan dan sapa hangat. Tidak lupa ia memeperkenalkan bocah tampan itu pada anak-anak yang ada di sana.


Suasana riuh terdengar dari belasan anak di sana. Mereka senang menerima makanan sederhana yang di bawakan oleh Ibu Denny dan Mariam. Sesederhana itu mengukir kebahagiaan di wajah mereka.

__ADS_1


Sampai tiba waktu mereka akan pulang, Andini dan anak-anak itu mengucapkan banyak terima kasih atas keperdulian yag mereka terima. Shaka takjub melihat semua orang yang tampak baik dan juga ramah padanya. Kegalauan yang melanda hati bocah laki-laki tampan itu perlahan terkikis.


"Ibu Andini, apakah Shaka boleh main ke sini lagi kapan-kapan?" tanya Shaka saat sudah hendak pulang. "Tentu saja sayang, Shaka boleh datang kapan saja ke sini," tutur Andini seraya mengembangkan senyum hangatnya. Hati Shaka sangat terhibur kala itu.


Singkat waktu, merekapun bergegas pulang. Tanpa Shaka sadari, dirinya tengah mendapat perhatian sedemikian dalam dari wanita yang ia sebut Nenek itu. Ibu Denny sengaja mengajak Mariam dan Shaka ke sana untuk menghibur kepedihan hati mereka.


Agar mereka tak berkecil hati atas jalan hidup yang mereka tempuh. Dengan melihat pada orang yang lebih tidak beruntung dari pada mereka, Ibu Denny berharap Mereka akan menjadikan hidupnya lebih bersyukur. Tentu saja sebenarnya Mariam sudah lebih dalam tahu tentang itu tapi, Shaka pasti butuh banyak di beri perhatian yang mengarah ke sana.


Setibanya kembali di rumah Denny....


Mereka duduk bersantai sambil minum teh dan makan bolu kukus yang sempat di buat oleh Mariam tadi. Tiba-tiba suasana menjadi lebih serius ketika Ibu mulai membahas tentang pernikahan. Ada dua wajah yang bersemu merah di sana.


Denny dan Mariam terlihat malu-malu. Sementara Shaka diajak Umar menjahili keduanya dengan berdeham dan senyum penuh arti. Umar sendiri merasa senang andai Mariam mau Menerima Denny, sang kakak sepupu menjadi suami Mariam.


Meski Mariam nyaris tak punya alasan untuk menolak, hati kecilnya masih cenderung merasa was-was untuk menjalin sebuah pernikahan lagi. Atas apa yang terjadi padanya selama ini, memanglah hal itu sangat wajar. Denny pun sedikit paham akan hal itu.


Mariam tertunduk pedih mendengar penuturan Denny. Mariam tahu Denny bukanlah seorang pembual belaka. Dengan pertimbangan itu Mariam memutuskan untuk menerima pinangan Denny, terlebih Denny juga menyayangi Shaka seperti anaknya sendiri.


Shaka adalah yang paling utama bagi Mariam. Karena itu, keputusan apapun yang Mariam ambil tentu harus menjamin kebaikan dan kenyamanan bagi Shaka. Mendengar Mariam berkata 'Iya, aku terima' Denny langsung menitikkan air mata harunya.


Shaka dengan gembira menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Denny. "Paman, sebentar lagi paman Denny akan menjadi ayahku," ucapnya sumringah. Denny mencium pipi bocah itu tanpa sanggup berkata-kata.


Ibu Denny lah yang paling berbunga-bunga saat ini. Untuk pertama kalinya ia melihat putra kesayangannya menitikkan air mata bahagia. Lega sudah kekhawatiran yang selama ini selalu melandanya.


"Mariam, mungkin aku bukan laki-laki yang selalu kamu sebut dalam doa-doamu. Meski aku bukanlah cinta seindah yang kau bayangkan. Meski aku hanyalah purnama tanpa cahaya, tapi izinkan aku hadir menjadi penyembuh lukamu, obat dari rasa sakitmu atau setidaknya biarkan dirimu belajar untuk mencintai aku."

__ADS_1


"Kamu yang selau mengisi ruang kalbuku. Membasuh keringnya hati yang lama mendamba cinta darimu. Untuk cinta yang telah lama aku simpan dan aku pelihara, izinkan aku menjagamu hingga akhir hayatku."


Denny terus menatap Mariam dan hanya bicara dalam hatinya. Bahagia? tentu saja tak bisa Denny ungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya mampu menguraikan semua itu melalui bahasa kalbu yang bergetar seraya memancarkan sorot mata penuh cinta.


"Baiklah, Nak, kalau begitu sesegera mungkin kita akan melasanakan pernikahan kalian" tutur Ibu membuyar lamunan Denny dan Mariam. Tanpa sepatah kata yang terucap dari bibir keduanya. Namun, diamnya cukup jelas menggambarkan persetujuan.


Kali ini Ibu Denny yang meneteskan air mata harunya. Lagi-lagi untuk pertama kali dalam hidupnya, mengantarkan putra semata wayangnya melabuhkan hatinya di dermaga cinta sang kekasih.


Bersambung....


Tunggu terus update selanjutnya ya guys, sembari menunggu, yuk kita mampir dulu di karya teman author yang gak kalah keren...👇👇👇


Judul: Stuck Marriage (Season 1&2)


Karya; Tyatul


Season 1


Rencana menyelamatkan diri dari musuh keluarganya membuat Ariana Delta terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang sopir taksi bernama Alex Bara.


Setelah terbiasa hidup bersama membuat benih benih cinta diantara mereka tumbuh.


Ariana dan Alex memiliki rahasia yang tak diketahui masing masing. Hingga kebenaran terungkap, apakah keduanya tetap bisa saling mencintai?


Season 2

__ADS_1


Menceritakan kisah anak pertama Ariana dan Alex siapa lagi kalau bukan Albian Ivander Bara dengan segala pesonanya.



__ADS_2