
"Jangan terlalu khawatir, Sayang. Kita akan mencari keberadaan ayah sampai ketemu," ucap Santana menenangkan hati Davina.
"Tapi, Mas ... kita mau mencari ayah di mana? Aku sama sekali tidak tahu tempat tinggal ayah sekarang."
"Kita akan berusaha. Tidak perduli apakah kita mengetahuinya atau tidak. Allah akan memberi petunjuk pada kita, berdoa saja agar usaha kita untuk mencari ayah, dimudahkan."
Davina mengangguk patuh. Ia kembali meneruskan aktifitasnya. Walau kemelut masih bergelimang memenuhi pikirannya.
"Vin, apakah kamu tidak akan keberatan kalau aku mengundang Shaka, dan keluarga barunya?" tanya Santana di sela aktifitasnya bersama Davina.
"Tentu saja tidak, Mas. Untuk apa aku merasa keberatan? Kamu boleh megundang siapa pun yang kamu mau." Davina tersenyum.
"Kalau begitu, sore ini kita ke tempat Denny. Aku ingin memberikan undangan sekaligus mengenalkanmu pada mereka," imbuh Santana.
"Seperti yang kamu mau, Mas." Jawab Davina. Lagi-lagi Davina mengiyakan inginnya Santana. Mungkin Davina malas berdebat atau karena pikirannya sedang berkecamuk mengingat keberadaan ayahnya.
***
Sore hari telah tiba!
Santana bersiap menjemput Davina, yang kala itu sudah pulang ke rumahnya. Dengan setelan kasual yang santai. Santana tetap tampak berkharisma dan tampan.
Santana tersenyum melihat Davina, yang sudah standby menunggunya. Davina langsung menghampiri Santana, dan naik ke atas sepeda motornya. Mereka berboncengan berdua dengan antusias.
Setengah jam perjalanan mereka tempuh. Kini mereka sudah tiba di depan rumah Denny. Santana mengetuk pintu dan mengucap salam seperti biasanya.
__ADS_1
Dari dalam, Ibu Denny menjawab lalu membukankan pintu. "Eh, Nak Santana ... siapa Wanita cantik ini?" ujar Ibu Denny saat melihat ke arah Davina, seraya melemparkan senyum.
"Kenalkan, Bu ... ini Davina, calon istri Santana," tuturnya. Davina langsung mengulurkan tangan menyalami Ibu Denny.
"Wah, pandai kamu mencari calon istri," puji Ibu Denny. Ia pun mempersilakan kedua tamunya masuk.
"Dennynya ada, Bu? Santana ingin mengundang Denny, Mariam, dan juga Ibu, serta Shaka secara langsung," papar Santana.
"Tunggu sebentar, ya! Ibu akan panggilkan mereka dulu."
"Baik, Bu ... terima kasih."
Tidak berapa lama, Denny, Mariam, dan juga Shaka sudah mengekor di belakang Ibu menuju ruang tamu.
"Davina!" pungkas Santana. Mereka lalu saling menyapa dan berkenalan. Shaka yang sudah tidak asing dengan Davina, langsung terlihat akrab.
Santana sempat terpaku beberapa menit, saat melihat wajah Mariam yang pucat pasi. Tidak bisa dielakkan bahwa Santana tampak khawatir pada keadaan Mariam. Denny berdeham membuat Santana salah tingkah.
"Oh iya, Mas ... sebelumnya, aku ingin menyampaikan kabar gembira. Istriku sedang hamil," tandas Denny seolah bisa membaca batin Santana yang penuh tanya.
"H-hamil? Ya, tentu saja itu kabar yang sangat istimewa." Santana terlihat gugup. Entah mengapa di hatinya masih saja ada sedikit rasa tidak terima walau sudah setengah mati mencoba ikhlas saat di belakang Mariam. Namun, tidak ketika berada tepat di hadapannya.
Denny mengusap pucuk kepala Mariam yang tertutup hijab. Ia tersenyum seolah ingin memamerkan kebagaiaannya pada Santana, sekali lagi. Mariam tampak gerogi menerima perlakuan mesra Denny, di hadapan semua orang.
Davina memerhatikan raut wajah Santana yang menundunduk seakan mengalihkan pandangan dari Denny, juga Mariam. Wanita itu sebenarnya merasa gusar pada sikap calon suaminya itu. Ia mendapati Santana begitu yakin pada dirinya saat tidak di hadapan Mariam. Tapi, yang ia lihat sekarang adalah kebalikannya.
__ADS_1
"Mas, jadi apa tujuan kita ke sini?" bisik Davina pelan. Santana kemudian tersadar. Ia segera mengeluarkan sebuah surat undangan pernikahannya dengan Davina.
"Aku harap kalian sekeluarga bisa datang di acara pernikahan kami," ucap Santana sembari memberikan satu surat undangan yang mencakup seluruh keluarga baru Shaka, itu.
"Ayah akan menikah dengan Bibi Davina?" cetus Shaka, membuyarkan kekakuan suasana saat itu.
"Iya, Sayang! Bibi Davina akan menjadi bagian dari Ayah, dan menjadi Ibu, untukmu juga." Santana tersenyum begitu juga dengan Davina.
"Apa Shaka senang?" imbuh Davina. Bocah itu seperti kebingungan. Ia menatap wajah semua orang di sana secara bergantian.
"Tentu saja, Bibi Davina. Shaka akan sangat bahagia memiliki ibu yang cantik dan baik sepertimu," pungkas Mariam menepis kebingungan Shaka.
"Shaka, berikan selamat pada Ayah dan calon Ibu barumu," titah Mariam sembari mengembangkan senyuman.
Shaka menurut dan patuh pada Mariam. Ia langsung memberikan selamatnya dengan memeluk Santana, dan Davina bergantian. Setelah dirasa cukup, Shaka langsung pergi ke dalam kamarnya.
Sementara, para orang dewasa melanjutkan obrolannya. Ditemani beberapa cangkir teh dan kue buatan Mariam, yang Ibu suguhkan. Suasana yang semula terasa kikuk dan kaku itu kini terasa lebih mencair dan ringan.
Mereka saling berbagi cerita. Sesekali Santana meminta nasehat kepada Ibu Denny, selaku orang yang paling tua dan memiliki banyak pengalaman. Ibu Denny, dengan senang hati menasehati hal apa yang sekiranya perlu dan tidak perlu untuk dilakukan.
Sampai waktu sore nyaris berganti malam. Akhirnya mereka mengakhiri bincang-bincangnya. Santana, dan juga Davina memutuskan untuk pulang sebelum hari semakin gelap.
Bersambung ....
Bagaimanakah keseruan kisah selanjutnya? Stay tune ya, Sayang-sayangnya Othor. 💋❤❤❤❤
__ADS_1