
Shaka berteriak histeris memanggil Lita, dan umar, dari dalam rumah. Suaranya sangat kencang hingga membuat Umar, Lita, juga Vivin yang kebetulan ada di sana merasa kaget bukan kepalang. Mereka langsung menghambur masuk ke dalam rumah untuk memastikan keadaan.
"Ada apa, Shaka?" tanya Umar penuh cemas. Sembari memeriksa keadaan Shaka dengan mengecek semua bagian tubuhnya. Namun, Umar tak mendapati adanya luka atau apa pun di sana.
"Itu paman," Shaka menunjuk ke arah Dicky yang belum beranjak dari meja makan. Dicky memegangi tangannya yang memerah tertutup dar*h. Shaka gemetar menyaksikan itu kerenanya, tadi ia langsung berteriak sekencang-kencangnya.
"Astaghfirullah, Mas. Cepat periksa!" tandas Lita pada Umar. Entah apa yang dilakukan Dicky hingga tanganny bisa terluka seperti itu. Vivin semakin merasa bingung. Karena setahu Vivin Umar, dan Lita belum mempunyai anak.
Umar segera lari mengambil kotak P3K. Lalu, Umar membersihakan dar*h yang berlumuran di tangan Dicky. Yang terakhir Umar memberikan obat luka kemudian membalutnya dengan kassa.
Anehnya, Dicky tidak sedikit pun menangis. Raut wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Bahkan tampak biasa saja ketika Shaka gemetar dan ketakutan melihat dar*h di tangan Dicky.
Beberapa saat kemudian. Keadaan sudah kembli tenang. Vivin pun sudah pergi bersama kue-kue dan makanan ringan pesanannya. Lita membujuk Shaka untuk bercerita setelah Shaka merasa tenang.
__ADS_1
"Shaka, ceritakan pada Bibi, apa hang sebenarnya terjadi?" bujuk Lita sembari mengusap-usap rambut Shaka dengan lembut.
"Dicky mengambil pisau, dan berkata ingin memotong buah apel itu, Bi" tunjuk Shaka pada buah apel yang ada di atas meja makan.
"Tapi, Dicky tidak memotong apelnya. Ia malah menggoreskan pisau itu pada tangannya sendiri," tutur Dicky sembari ketakutan ketika mengenang kejadian itu.
"Apa mungkin, Dicky senekad itu?" batin Mariam meragu. Tapi, rasanya Shaka tidak mungkin berbohong. Lita tahu benar bagaimana Shaka, walau belum mengenal bocah itu terlalu lama.
Umar menjaga Dicky yang sedari tadi masih diam tak bersuara. Dengan kejadian itu, Umar menjadi risih terhadap Dicky. Ia justru teringat pada cerita Asih yang juga menusuk Arifin sebelum akhirnya mengalami gangguan jiwa.
Shaka menjadi ketakutan untuk mendekati Dicky. Ia terus berembunyi dan membenamkan wajahnya di dalam dekapan Lita. Lita menjadi tidak tega melihat keadaan Shaka yang tampak lebih lemah dibanding dengan Dicky yang mengalami luka di tangannya.
"Mas, kapan Mas Denny akan kembali untuk menjemput mereka?" lirih Lita berharap suaranya tidak didengar oleh Dicky. Kemudian, Lita kembali memeluk dan menenangkan Shaka yang kembali gemetar ketakutan saat melihat Dicky. Dicky smakin tajam menatap ke arah Lita.
__ADS_1
"Aku tidak tahu! Mas Denny hanya mengatakan akan kembali setelah urusannya selesai," jawab Umar seperlunya.
Tiba-tiba Dicky turun dari kursi dan menghentakkan kakinya dengan keras. Ia keluar menuju teras dan diikuti oleh Umar. Umar terus mengekor di belakang Dicky sembari membujuknya untuk tetap di dalam. Namun, Dicky tidak mengindahkan seruan Umar.
Mau tidak mau Umar harus berjaga di dekat Dicky. Khawatir bocah itu akan melakukan hal yang di luar dugaan lagi. Perbuatan Dicky itu membuatnya bergidik ngeri saja.
Lama menunggu. Akhirnya Denny datang juga untuk menjemput mereka. Denny kaget saat mendengar cerita Umar, tentang apa yang dilakukan Dicky pada tangannya sendiri.
Bersambung....
Sebuah layang-layang tinggi mengangkasa
Readers tersayang, selamat membaca😘😘
__ADS_1
Seperti biasa, gak kapok-kapok othor meminta dukungan. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya! ❤