
"Vin, aku ingin kita bicara lebih serius kali ini," ucap Santana, membuat gelak tawa Davina terhenti.
Keadaan menjadi hening seketika. Davina diam mempersiapkan telinga untuk menyimak apa yang ingin dikatakan oleh Santana. Keduanya tampak saling menatap dalam diam dan hening.
"Vin, aku tidak ingin munafik. Sebagai laki-laki dewasa, tentu saja aku memiliki hasrat. Namun, aku tidak ingin memeluk sebuah harapan dalam ketidak pastian," tutur Santana.
"M-Maksudnya bagaimana, Mas? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung," gagap Davina seraya menundukkan wajahnya.
"Aku tidak sedang tersinggung, Vin! Aku bermaksud ingin meminangmu sebagai istriku, mungkin dalam waktu dekat. Vin, kita sudah sama-sama dewasa bukan? Aku tidak mau kebersamaan kita hanya terikat oleh hubungan semu."
Mata Davina berkaca-kaca. Entah mengapa, kata-kata Santana membuatnya terharu. Napas Davina mulai berat dan tak kuasa menahan tangis .
"Kenapa menangis, Sayang? Jangan khawatir, meski perasaanku untuk memilikimu begitu menggebu tapi, aku tidak akan memaksakan hubungan kita. Jika memang kamu keberatan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku bersedia melepasmu. Walaupun aku akan terluka nantinya."
"Tidak, Mas! Bukan itu, aku hanya merasa terharu. Aku mohon jangan membahas perpisahan. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai untuk kesekian kalinya." Davina menyeka air mata yang mulai membias di pipi halusnya.
__ADS_1
"Jadi, maukah kamu menikah denganku?" tanya Santana, ia ingin meyakinkan jawaban Davina sekali lagi.
"Iya aku mau, Mas." Davina menjawabnya dengan yakin. Mereka menatap saling tersenyum. Ada kebahagiaan tiada tara yang terpancar dari sepasang mata keduanya.
Mereka pun mulai merencanakan ini dan itu untuk pernikahan mereka. Mulai dari pesta sederhana, tanggal dan waktu pernikahan, sampai gaun apa yang akan dikenakan Davina, saat hari bahagia itu tiba.
Setelah selesai membahasnya, Santana berpamitan untuk pulang. Ia tidak mau hasrat kelelakiannya semakin liar saat dirinya berada di dekat Davina. Santana berusaha untuk tetap menjaga wanitanya sampai halal bagi dia untuk menyentuhnya.
Davina mengantarkan Santana sampai ke pintu. Senyumnya tidak berhenti mengembang. Bening mata Davina membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
"Hati-hati, Mas," ucap Davina. Meski dalam hatinya tidak rela ditinggalkan oleh Santana. Namun, Davina juga menyadari yang dilakukan Santana, adalah demi menjaganya.
Sepanjang perjalanan pulang, Santana terus tersenyum. Kesepian panjangnya akan segera berakhir. Tidak disangka pertemuannya dengan Davina, mengantarkan mereka sampai ke titik ini.
Beberapa saat kemudian. Santana sampai di rumahnya. Ia masuk dan langsung membantingkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
Santana memejamkan matanya. Meresapi kebahagiaan yang sedang menggelitik di hatinya. Sesekali ia menyebut nama 'Davina, Davina dan Davina'.
Puas merebahkan tubuhnya di sofa. Kini santana beranjak dan menepi ke arah dinding. Di sana masih tertempel potret wanita yang pernah ia cintai sekaligus pernah ia sakiti, Mariam.
Santana tersenyum pada potret itu. Ia lalu mengambil dan mengajak benda mati itu berbicara. Seolah-olah dirinya benar-benar bicara pada Mariam.
"Mariam, wanita hebat yang pernah mengisi hidupku. Terima kasih atas cinta dan kesabaranmu selama hidup denganku. Ada banyak hal yang terlalu sulit untuk aku lupakan tentangmu," Santana mengusap lembut bingkai foto itu.
"Kini biarlah kenangan indah dan ingatan tentang pahit dan manis ketika denganmu, aku simpan rapi dalam memoriku. Izinkan aku beranjak dari cintamu dan pergi menemui cinta yang baru. Bukan karena aku tidak cinta lagi padamu, Mariam. Tapi, sekarang keadaannya sudah berbeda. Kamu telah dimiliki dia, dan aku memilih mundur dan membiarkan kebahagiaanmu utuh bersamanya. Sudah cukup aku menorehkan luka dan pilu di hidupmu, Mariam."
Santana menyimpan foto itu dalam sebuah kotak dan menguncinya. Tidak ada lagi potret wajah Mariam, yang terpajang di dinding rumah Santana. Begitu pun di dompet Santana, ia memotong bagian wajah Mariam, dan menyisakan bagian wajah Shaka dalam potret itu.
"Maafkan aku wanita luar biasaku. Izinkan aku membiarkanmu tetap bahagia. Meski bukan denganku." Santana menitikkan air mata.
Dadanya tak lagi sesak. Kali ini air matanya melegakan perasaannya. Meski jauh di lubuk hatinya, Mariam masih satu-satunya wanita tersabar yang pernah ia miliki selain mendiang ibunya sendiri.
__ADS_1
"Ya Allah, izinkan aku menjadi orang yang adil terhadap masa lalu dan juga masa depanku. Jangan biarkan aku terpaut pada keduanya, hingga menyebabkan keduanya terluka, jangan biarkan!" Santana berdoa dengan suara lirih.
Bersambung....