
Hari mulai sore ketika dua teman Shaka berpamitan untuk pulang, dengan diantar oleh Denny. Shaka memanipulasi kesedihannya dengan biasan senyum yang ia kembangkan pada bibirnya.Hati kecilnya tengah gelisah, bertanya-tanya tentang apa yang diceritakan oleh Ali dan Reyhan padanya.
"Shaka, apa Shaka tidak senang dikunjungi teman-teman?" tanya Mariam yang mengerti bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja. "Shaka senang kok, Bu. Bahkan lebih dari sekedar merasa senang," lalu Shaka kembali memaksakan senyuman di bibirnya.
Tentu saja, Mariam tidak semudah itu percaya. Naluri seorang ibu selalu mampu memahami anaknya lebih dari dirinya sendiri, begitu juga dengan Mariam. Ia mampu melihat kesedihan yang di sembunyikan oleh Shaka dari sorot matanya.
"Sini, sayang! percayalah pada Ibu, tidak ada lagi yang perlu Shaka khawatirkan," tutur Mariam membawa Shaka ke atas pangkuannya. "Bu, apa benar Ayah sudah menjual rumah kita?" tanya Shaka. " Kenapa Shaka bilang begitu?" Mariam balik bertanya.
"Ali, dan Reyhan memberitahu Shaka, katanya Dicky dan Ibunya sekarang tinggal di rumah kita, Bu," terang Shaka. " Apa hal itu yang membuat Shaka bersedih?" tanya Mariam seraya tersenyum. Shaka mengangukkan kepala.
"Lantas, apa yang bisa membuat Shaka terhibur, Nak? Ibu akan melakukannya!" bujuk Mariam. "Ayo kita lihat ke sana, Bu. Shaka ingin tahu" rajuk Shaka.
"Baiklah, tapi tidak sekarang, ya!" ujar Mariam. " Shaka ingin sekarang, Bu. Shaka mohon sekarang saja."
Mariam dilema, antara menurutinya atau tidak. Namun, jika ia tidak melakuknnya artinya ia mengingkari janjinya sendiri. Akhirnya Mariam menceritakan hal itu pada Ibu Denny, guna mendapat saran terbaik.
"Kalau menurut Ibu, tidak ada salahnya kalian ke sana untuk memastikan. Ingat, jangan pernah menjunjukkan kesedihan kalian di hadapan Mereka, ya!" saran Ibu Denny. "Tenang saja, nanti Ibu yang minta pada Denny untuk mengantar kalian.
***
Langit yang memerah bak kelopak mawar. Perlahan memudar pertanda senja tak lagi tinggal. Hanya warna malam berhias lampu-lampu yang menerangi di rumah-rumah.
Denny mengantar Mariam, dan juga Shaka ke rumah lamanya atas permintaan Ibu. "Mariam, apa yang akan kamu, dan Shaka lakukan di sana?" Denny bertanya dengan sedikit rasa khawatir. "Tidak ada, Mas! Shaka hanya ingin memastikan," jawab Mariam singkat.
Kini tibalah mereka di halaman rumah Santana, rumah yang baru mereka tinggalkan beberapa hari yang lalu. Sebuah rasa berdesir melintasi ruang hati Mariam. Tatkala rumah penuh kenangan itu terpampang nyata di hadapannya.
Denny menatap lekat wajah wanita yang ia cintai itu. Ingin rasanya Denny berkata, untuk jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah yang menjadi saksi penderitaan Mariam, dan Shaka selama ini. Namun, bibirnya kelu dan membisu seribu bahasa.
Dengan tangan yang gemetar, mariam mengetuk pintu rumahnya. Terkenang saat dulu dirinyalah yang mebukakakan pintu untuk tamu. Tapi, sekarang keadaannya telah berbeda.
Pintu itu pun di buka setelah Mariam mengetuknya beberapa kali. "Siapa, Asih?" teriak santana betanya dari dalam. Belum sempat Asih menjawab, Santana sudah di sana.
__ADS_1
"Mariam, untuk apa kalian ke mari?" gagap Santana. "Bukan aku, Mas tapi, Shaka," jawab Mariam datar. Pandangan Santana langsung tertuju ke arah Shaka.
"Sudah aku katakan, jangan menemuiku lagi!" tandas Santana. Sementara Asih yang mendengar perkataan Santana menyeringai jahat. " Tataplah mata anakmu, Mas ... katakan sendiri padanya!" tegas Mariam.
"Jangan khawatir, Ayah. Shaka hanya ingin memastikan, siapa yang sudah membuat Ayah melupakan kami!" sahut Shaka. Semua orang tercengang mendengar penuturan Shaka kala itu.
"Dengarkan ini, Ayah. Ayah bahkan tidak pantas menjadi suami dari Ibuku, meski Ayah adalah ayah kandungku," kata-kata Shaka lagi-lagi membuat Santana menghentikan gaungannya. Asih membulatkan matanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut bocah seusia Shaka, yang tidak pernah ia sangka.
"Lihatlah, Ayah. Shaka bahkan tetap hidup dan tumbuh besar meski tanpa Ayah di sisi kami. Shaka bisa bertahan hidup walau tanpa seribu Ayah sepertimu tapi, Shaka tidak akan sanggup hidup walau satu menit tanpa seorang Ibu."
Air mata Mariam mulai menerabas pertahanannya. Sudut-sudut mata itu mulai mengalirkan bulir bening yang membias membasahi pipi hingga jatuh ke tanah. Santana menundukkan wajahnya seolah merasa malu pada kata-kata yang terucap dari mulut Shaka.
"Dasar, tidak tahu diri! Begitulah perlakuan anak yang dididik oleh wanita sepertimu, Mariam," lontar Asih. Alih-alih merasa dibela, Santana justru men*mpar mulut Asih di hadapan Mariam, Denny, dan Shaka. "Aww, Mas!" Asih meringis kesakitan.
"Masuk!!!" bentak Santana pada Asih. Santana kembali menunggu apa yang akan dikatakan lagi oleh Shaka. Dalam hati kecilnya, Santana sungguh memaklumi sikap Shaka yang begitu.
"Baiklah, Ayah. Ibu, dan juga Shaka tidak akan memgganggu hidup Ayah lagi. Shaka senang bisa melihat wajah Ayah walaupun Ayah tidak menginginkan itu. Shaka tidak akan melakukan hal yang sama seperti Ayah, kalau suatu saat Ayah ingin menemui Shaka."
"Shaka tidak benci pada Ayah dan juga Ibu Dicky," imbuh Shaka. "Cukup, Nak. Mari kita kembali," pungkas Mariam.
Santana hanya bisa diam. Bagai seekor tikus yang masuk perangkap, ia tak berdaya melawan kata-kata Shaka yang benar adanya. Harga diri sebagai seorang ayah kini luruh tak tersisa disapu ulahnya sendiri.
"Andai aku mengetahui semua ini sejak awal, tidak akan pernah aku biarkan kamu menikahi Mariam," Denny melangkah pergi dari rumah Santana, menyusul Mariam, dan juga Shaka yang sudah bergegas lebih dulu menuju sepeda motor Denny.
Dalam perjalanan kembali ke rumah Denny, semuanya hening bagai malam yang sunyi. Semua orang yang menumpangi sepeda motor itu, tengah sibuk dengan perasaannya masing-masing. Hingga saat isakan tangis mariam terdengar oleh Denny, dan Shaka....
"Tidak, Ibu... tidak ada air mata lagi untuk Ayah yang menyia-nyiakan kita," tutur Shaka. "Benar, Mariam. Semuanya telah nyata sekarang, jangan menangisi laki-laki bi*dab seperti Santana," timpal Denny.
Shaka yang polos mendadak terlihat lebih dewasa dari pada usianya. Sedari tadi, yang terlontar dari mulut Shaka bak kata-kata seorang yang tak sebaya dengannya. Meski semua itu adalah ucapan seorang bocah namun, tak bisa dipungkiri kebenarannya.
Sampailah mereka di rumah Denny dan Ibu. Mariam, dan Shaka langsung masuk ke sana. Sementara Denny kembali ke menginap di rumah Umar dan Lita.
__ADS_1
"Bagaimana, Mariam?" Ibu memyambut mereka dengan pertanyaan. Baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab Ibu, Shaka sudah memotong pembicaraan. "Tidak ada apapun di sana, Nek," ujar Shaka tersenyum.
Bersambung....
Hi readers, tunggu update selanjutnya ya! Tapi sambil menunggu lebih seru kalau kita mampir dulu untuk membaca karya dari teman author.👇👇
Judul : Tuan Mafia
Karya : selvi_19
Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya Alex terpaksa mencuri hingga suatu hari Alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di
lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun Alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.
Suatu hari Alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan penyebab
kematiannya, ternyata Alex adalah keturuna dari D’devil, D’devil adalah
anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingga Alex berniat
membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri dari pembunuh tersebut.
Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari
keluarga Gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan
Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan
Apakah Alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?
Apakah akan ada cinta di antara Alex dan Laura?
__ADS_1
Bagaimana reaksi Alex jika tau Laura bukan putri dari Gunawan?