
Sembari berkeliling mencari benang wol yang dipesan Ibu. Denny membawa Shaka bermain di sebuah wahana istana balon. Shaka pun diajaknya bermain mandi bola di sana.
Betapa senangnya wajah bocah laki-laki itu. Gelak tawanya terus terdengar dari mulut mungilnya. Entah kebetulan atau memang disengaja, Santana pun terlihat di sekitar wahana bermain itu.
Dari jarak yang sedikit jauh. Ia menyaksikan betapa bahagia putranya itu. Memang sangat terlihat benar bahwa Denny, mengurusnya dengan baik. Sebuah perasaan aneh membius hati Santana.
Santana senang melihat Shaka bahagia. Tapi, ia seperti merasa kehilangan harapan. Ia pun memutar badannya hendak pergi dari sana namun, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita.
"M-Maaf, Mbak," gagap Santana. Ia pun langsung membantu wanita yang ia tabrak hingga jatuh itu untuk bangkit. Seorang wanita dengan alis yang hitam dan tebal, sorot mata tajam dan hidungnya yang mancung. Sempurna sudah kecantikan wanita itu.
"Tidak apa, Mas. Salah saya juga karena tidak berhati-hati," ujar wanita itu sembari mengembangkan senyumannya.
Ketidak sengajaan itu membawa mereka pada sebuah perkenalan. Akhirnya Santana tahu nama wanita itu adalah Davina. Seorang pemilik toko aksesoris di sekitar tempat itu.
__ADS_1
Mereka lanjut mengobrol di sebuah warung kopi sederhana. Entah angin apa yang meniup hingga mereka menjadi cepat sekali akrab. Percakapan itu pun membawa mereka untuk saling bercerita tentang masalah kehidupan pribadinya satu sama lain.
Cukup lama mereka bercengkerama dalam cerita sedih dan gusar. Terkadang mereka tersenyum di tengah getirnya kisah hidup yang mereka ceritakan. Tak jarang salah satu di antara mereka mencoba menguatkan walau hanya melalui sebatas kata 'sabar ya'.
"Oke, Mas Santana. Saya harus lanjut menjaga toko saya. Terima kasih sudah menjadi teman berbincang, padahal kita baru saja kenal," ucap wanita bernama Davina itu dengan sopan.
"Tentu saja, Mbak. Senang bisa berkenalan dan berbincang dengan Mbak. Walau pertemuan kita tidak disengaja. Saya harap ini bukan pertemuan kita yang terakhir," ucap Santana.
"Tenang saja, Mas. Saya kerja dan tinggal di sekitar sini. Jadi, Mas bisa datang kesini kalau ingin menemui saya," ucap Davina seraya tertawa.
Mereka pun berpisah di tempat itu. Santana kembali ke bilik sepinya. Dengan membawa segenggam harapan semoga dirinya dapat bertemu lagi dengan Davina.
Santana duduk berselonjor di sofa. Membayangkan kembali bagaimana Davina tersenyum dan bicara. Tanpa sadar Santana senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Hey, apa lagi yang terjadi pada otakku ini? Mengapa dia cepat sekali traveling? Atau mungkin, pesona Davina yang terlalu memikat," berondong Santana pada pikirannya sendiri.
Santana bangkit dan bergegas untuk mandi. Sembari menatap pantulannya di cermin kamar mandi. Ia kembali terbawa oleh pikirannya untuk mengingat Davina.
"Apa benar hati ini sudah beranjak dari Mariam?" gumamnya sembari memegangi dadanya sendiri. Dirasakannya dadanya biasa saja saat menyebut nama Mariam. Namun, detaknya menjadi sangat kencang saat membayangkan wajah Davina.
"Apa benar secepat ini?" ulang Santana terus menanyai hatinya sendiri. Ia pun mendengus kesal. Lalu, mandi guna membersihkan dan menyegarkan tubuhnya.
DAG DIG DUG!
Rasa hati santana berdebar semakin kencang. Membuat dirinya sendiri keheranan. Berulang kali ia mencoba menepisnya. Namun, getaran itu selalu datang.
"Tidak mungkin. Hatiku masih milik Mariam. Tidak mungkin secepat itu berpaling pada yang lain," gusarnya.
__ADS_1
Bersambung....