Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 96 Jagalah Kelembutan Yang Ada Pada Wanitamu


__ADS_3

Shaka bergegas turun, saat mereka sampai di beranda depan rumah Davina. Dicky yang kala itu tengah melihat Kakek merawat tanaman hiasnya, langsung berlari menyambut Shaka. Sambil berteriak senang dan saling memanggil nama satu sama lain.


"Shaka, aku sampai rindu sama kamu," ucap Dicky.


"Sama, Dicky .... Shaka juga rindu."


Denny menyalami Ayah Mertua Santana tersebut, begitu pun dengan Shaka. Mereka kemudian ngobrol ngalor ngidul. Kebetulan, mereka sudah pernah bertemu di acara pernikahan Davina, dan Santana beberapa waktu yang lalu. "Di mana Mas Santana, Ayah?" tanya Denny menyematkan sebutan 'Ayah' pada Mertua Santana itu.


"Ada di dalam. Mungkin dia sedang mandi," jawab Ayah Davina.


"Hey, ada tamu rupanya," Santana muncul dari arah dalam.


"Mas, maaf kalau mengganggu. Shaka ingin bermain dengan Dicky, dan merajuk pada ibunya," tutur Denny berbasa-basi. Sekaligus ingin melihat reaksi Santana.


"Kenapa harus merajuk? Dia bisa datang kapan saja ke sini. Benar 'kan, Ayah?" ucap Satana.


"Tentu saja, mengapa tidak. Seharusnya kamu yang menjemput Shaka, Santana," jawab Ayah Davina.

__ADS_1


"Maafkan aku, Den. Belakangan ini Davina sudah mulai kembali mengurus tokonya jadi, aku membantunya untuk mengganti mengerjakan tugas-tugas lain," terang Santana.


"Tidak masalah, Mas. Lagi pula, aku masih sempat mengantarkan Shaka," ucap Denny tersenyum.


"Shaka, kemarilah dulu, Sayang! Berikan Ayah sebuah pelukan," teriak Santana.


Shaka menghampiri Santana, kemudian memeluknya. Ia kembali bermain bersama Dicky setelah itu. Tanpa banyak bercakap-cakap dengan Santana. Dua bocah laki-laki itu tampaknya begitu asyik dengan permainannya.


"Mau minum apa, Den, biar kubuatkan," tanya Santana.


"Tidak perlu repot, Mas, cukup air putih saja," jawab Denny.


3 pria dewasa itu pun saling bercerita. Namun, kali ini Denny, dan juga Santana, lebih banyak mendengarkan Ayah Davina bicara ketimbang bercerita mengenai diri mereka masing-masing. Kesempatan itu juga dijadikan waktu yang tepat oleh 2 bapak muda itu, untuk mengulik sekaligus mengambil pelajaran dari pengalaman hidup Ayah Davina.


"Ayah, ceritakan tentang bagaimana Ayah jatuh cinta pada Ibunya Davina, dulu," tutur Denny dengan nada penuh kehangatan.


"Aku tidak perlu alasan untuk jatuh cinta pada Dewiku itu. Dia terlalu indah untuk diceritakan. Bahkan, lebih indah dari kata indah itu sendiri," kenang Ayah Davina sembari bercerita dengan mata penuh kerinduan.

__ADS_1


Kedua pria yang mendengarkan penuturan Ayah Davina itu begitu salut dan terpukau dengan kata-katanya. Mereka menyimak dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari bibir tua itu. Keduanya bergantian untuk bertanya pada Ayah Davina.


"Ayah, mengapa wanita mudah sekali menangis bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele?" ujar Santana.


Ayah Davina menundukkan kepala seraya menghela napasnya panjang. "Wanita diciptakan dengan hati yang sangat lembut, mereka dapat merasakan apa yang tidak kita nyatakan. Bahkan, boleh jadi mereka mampu merasakan hal-hal yang mereka sendiri tidak bisa menjabarkannya. Karena itu, peliharalah kelembutan yang ada pada wanitamu selagi ia masih menyertaimu. Sebab, jika wanita sudah tidak menangis, artinya mereka sudah hilang rasa butuhnya terhadap laki-laki."


JLEB!


Kata-kata Ayah Davina itu membidik tepat di jantung Santana. Ia merasa tersindir oleh pernyataan Ayah Mertuanya itu. Karena memang Santana, sedang berada di titik rumit yang serupa.


"Ayah memang benar, sangat benar!" tandas Santana.


Laki-laki tua itu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum. Seolah ia mengerti apa yang sedang dialamai oleh putrinya saat ini. Meski Davina, belum pernah sekali pun bercerita mengenai masalahnya dengan Santana, pada Ayahnya.


Bersambung ....


Hey kamu, iya kamu yang selalu setia mantengin othor update. Sembari nunggu kita mampir dulu yuk, ke karya keren punya othor kece yang satu ini ...👇

__ADS_1



__ADS_2