
Santana sudah sampai di depan rumah Denny, Kali ini ia hanya mengantarkan Shaka saja dan tidak menemui Mariam, maupun Denny. Hanya menitipkan salamnya untuk mereka lewat Shaka. Shaka masuk setelah mendapat pelukan dari Santana.
Meski perasaan rindu belum habis dan masih terasa menggumpal di dalam dada Santana. Namun, semua itu diredamnya demi menghormati Mariam dan keluarga barunya. Seperti yang pernah dikatakan seseorang bahwa setiap cinta memiliki penikmatnya dan setiap rindu punyai pengagumnya.
Hal itu pula yang sedang dirasakan Santana. Dirinya rela mengorbankan perasaannya asalkan Mariam bahagia. Meski rindu kerap menggerogoti dengan ganas hingga mengoyak batinnya dengan kasar.
"Assalamu'alaikum, Ayah ... Ibu ... Nenek, Shaka pulang" teriak bocah itu dengan gembira. "Wa'alaikumsalam" jawab mereka serempak. "Ayah lihat, Shaka membeli ayam bakar untuk Ayah, Ibu, dan juga Nenek" terang Shaka sembari nunjukkan kantung berisi ayam bakar yang ia bawa.
"Mas, maafkan Shaka ... Kamu tidak perlu memakannya kalau tidak mau" bisik Mariam merasa tidak enak dan khawatir Denny akan cemburu karena hal itu. Karena tentu saja yang membelikan ayam bakar itu adalah Santana meski atas permintaan Shaka. Denny tersenyum dan mencubit manja hidung mancung Mariam.
"Kemarikan ayam bakar itu, Jagoan! Ayah, Ibu, dan juga Nenek sudah sangat lapar" ujar Denny membuat Mariam tercengang. Shaka memberikan oleh-oleh yang ia bawa itu pada Denny dengan antusias. Denny menerimanya sembari menggendong Shaka dan membawanya ke meja makan.
"Shaka sudah makan tadi, Ayah. Apakah Ayah ingin Shaka menyuapi Ayah?" tutur Shaka membuat Denny tertawa geli. "Oh, memangnya anak Ayah sudah pandai menyuapi sekarang?" ledek Denny sambil mengacak-acak rambut Shaka pelan. Mariam tersanjung melihat itu, perasaannya benar-benar melambung dibuat Denny.
Meski yang sedang menirima perlakuan manis itu adalah Shaka. Namun, Mariam tak memungkiri bahwa perasaannya terwakilkan. Cukup lama Mariam tertegun melihat dua laki-laki yang ia cintai sedang bercengkerama manja. "Nak, kenapa hanya berdiri dan melamun? Makanlah bersama mereka" ucap Ibu menyadarkan lamunannya.
Lalu mereka semua makan bersama. Bak pemandangan yang sedikit aneh karena Shaka benar-benar menyuapi Denny makan kala itu. Ibu Denny tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Apa Nenek juga mau Shaka suapi?" ujar Shaka.
"Tidak, Nak ... Nenek takut berubah menjadi bayi" canda Nenek menjawab tawaran Shaka. Mereka semua tertawa kemudian melanjutkan makan siangnya. "Salahkah bila aku merasa senang?" batin Mariam.
***
"Dasar perempuan si*lan! Beraninya kamu padaku," maki Asih seraya menjambak rambut seorang wanita bernama Rani, yang adalah ibu dari Reyhan. "Memang benar 'kan, kamu itu perempuan penggoda yang sudah menjebak suami Mariam," ejek Rani sembari menyeringai. Rani tidak memperdulikan sakitnya rasa jambakan tangan Asih yang nyaris membuatnya terjerembab ke tanah.
"Sudah Ran, sudah jangan berurusan dengan perempuan seperti itu," ucap Alisa, ibu dari Ali yang mencoba melerai Rani dan Asih. "Apa maksudmu? Memangnya aku perempuan seperti apa, huh?" sahut Asih tak terima dengan kata-kata Alisa. Kegaduhan itu bukan semakin meredam tetapi malah semakin melebar.
__ADS_1
Santana saat itu sedang berusaha bermain dengan Dicky. Walau Santana sangat membemci Asih dan juga sikap buruk Dicky. Namun, Santana masih punya hati untuk sekedar berlaku baik pada Dicky yang notabene masih kanak-kanak dan belum banyak mengerti.
Samar terdengar suara bising yang disebabkan oleh pertengkaran Asih dengan para Ibu dari teman-teman Shaka. Santana menggendong Dicky dan berlari menuju arah di mana suara gaduh itu berpusat. Sampailah mereka di sebuah tanah lapang yang biasanya di gunakan untuk bermain Shaka dan teman-temannya.
Alisa yang melihat kehadiran Santana langsung berlari menghampirinya. "Mas, tolonglah lerai pertengkaran mereka," pinta Alisa. "Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Santana sedikit kebingungan. "Ceritanya sangat panjang, nanti Mas bisa bertanya sendiri pada perempuan itu," ucap Alisa yang enggan menyebut nama Asih.
Santana menurunkan Dicky dari gendongannya. "Dicky, tunggulah di sini," perintah Santana. Santana langsung bergegas menghampiri dua wanita yang sedang saling mencengkram bak dua atlit gulat yang sedang berduel. "Asih, Sudah hentikan! Memalukan," bentak Santana yang sontak membuat perhatian Asih teralih dan akhirnya menghentikan aksi jambak-jambakannya bersama Rani.
"Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih bermanfaat?" hardik Santana. "Dia mengusik diriku lebih dulu," jawab Asih sambil menunjuk ke wajah Rani. "Enak saja, kamu yang tidak tahu malu " sangkal Rani membela diri.
Dua perempuan itu masih terus adu mulut saling bersahut-sahutan. "Diam! Apa kalian tidak mendengar kataku?" teriak Santana sangat keras hingga nyaris memecah gendang telinga. Mereka langsung diam tak bersuara.
"Kamu Asih, pulanglah urusi Dicky jangan hanya membuat kekacauan saja" titah Santana. Asih menunduk lesu merasa kalah. Karena Asih tak dapat sedikit pun pembelaan dari Santana.
Sesampainya di rumah, Asih duduk membanting seraya menekuk wajahnya merasa kesal. Santana menatap Asih seolah ingin menerkamnya. "Aku tidak habis pikir dengan dirimu, Asih" Ucap Santana.
Asih masih diam tak merespon Santana. "Asih! Katakan apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu tidak sadar perbuatanmu itu sungguh memalukan," geram Santana sembari mengepalkan kedua tangannya. Dicky yang melihat itu langsung lari ke dalam kamar.
"Mereka mengataiku perempuan penggoda dan perusak rumah tangga orang," jawab Asih meninggikan nada bicaranya. "Memangnya apa yang salah dengan yang mereka katakan tentangmu, huh?" sahut Santana. "Iya! Kamu, dan mereka semua sama saja bisanya hanya menyudutkan aku," Asih berlari ke kamarnya sembari menangis.
Beberapa langkah saat asih sudah masuk ke dalam kamarnya. Asih terkejut melihat Dicky sedang menggeledah lemari dan memporak porandakan susunan pakaian milik Asih. Kepala Asih semakin pusing dibuatnya.
"Dicky! Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Asih sembari menggemeratakkan giginga. Dicky tidak mengindahkan pertanyaan Asih yang terlihat sangat kesal itu. Ia malah terus mengobrak-abrik isi lemari Ibunya.
"Huwa ...," Asih menangis sejadi-jadinya. "Apa belum cukup Engkau menghukumku Tuhan? Mengapa mereka semua membuatku tidak tahan?" racau Asih dalam tangisannya. Dicky menoleh ke arah Asih yang sedang menangis lalu ia pergi ke luar kamar meninggalkan jejak yang berantakan.
__ADS_1
"Dicky, kemarilah aku punya sesuatu untukmu," bujuk Santana. Ia khawatir mental Dicky akan terganggu dengan semua peristiwa tak menyenangkan yang terjadi hampir setiap saat di hadapannya. Bocah itu mendekat ke arah Santana sembari memegang sesuatu dalam genggaman tangannya.
"Ambil ini dan makanlah," perintah Santana menyodorkan satu batang coklat kesukaan Dicky. Dicky mengambil coklat itu lalu memberikan sesuatu yang ia genggam pada Santana. Santana merasa heran dari mana Dicky mendapatkan benda itu.
Bersambung....
Hai author lovers... gimana ceritanya? seru dong pastinya. Terima kasih ya sudah membaca karyakuโค Sekarang author mau ajak kalian mampir dulu ke karya temanku yang tak kalah seru, sembari menunggu update selanjutnya...yuk kita mampir...๐๐๐
Judul: Takdir Gadis si Buruk Rupa
Author: Imamah Nur
Blurb:
Rindu Maharani harus menerima kenyataan pahit saat terbangun dari koma, akibat kecelakaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, tetapi ia juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini wajahnya menjadi buruk rupa.
Bukan hanya wajah tetapi pekerjaan yang sebagai pencabut bulu itik dan ayam menjadi sorotan dan hinaan di sekolah.
Cobaan demi cobaan senantiasa menemani perjalanan hidupnya. Namun, Rindu tidak patah semangat. Dia menjadikan hinaan dan cercaan sebagai semangat untuk bangkit dan berkembang.
Mampukah ia mengubah takdirnya?
__ADS_1