
"Mariam, istirahatlah dulu. Ajak Shaka ke kamar," titah Denny saat mereka telah selesai makan. Kala itu Mariam tak jua beranjak dari tempatnya duduk.
"Mariam...," ulang Denny. "Maaf, Mas. Apa tidak lebih baik menunggu Ibu pulang dulu?" ucap Mariam. "Ah, Iya... aku lupa ternyata kita belum menikah," ujar Denny membuat wajah Mariam merona merah.
"Baiklah, kalian tidak perlu khawatir! Aku akan tidur di tempat lain nanti," tutur Denny lalu ia masuk dan merapikan kamarnya. Mariam hanya duduk mematung. Rasa-rasanya Mariam ingin sekali lepas dari rasa gugupnya itu tapi, tak bisa.
***
1 jam kemudian, Ibu Denny sudah pulang. Mariam, dan juga Shaka beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Itu artinya untuk sementara waktu Denny harus tidur di luar rumah.
Denny pergi ke rumah adik sepupunya yang bernama Umar, kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah Denny. Umar tinggal bersama istrinya, Lita dan mereka baru beberapa bulan menikah. Umar dan Lita menyiapkan kamar tamu untuk Denny tempati selama beberapa waktu.
"Mas, Den... jadi mbak Mariam dan anaknya sekarang sudah aman?" tanya Lita yang telah mendengar kisahnya dari Denny. "Alhamdulillah, Lit. Sekarang Mariam dan Shaka ada bersama Ibu", jawab Denny.
"Syukurlah kalau begitu, Lita tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya menjadi mbak Mariam," ujar Lita. "Semoga itu tidak terjadi pada kalian, atau padaku," ucap Denny. "Aamiin, Mas" timpal Umar dan Lita.
Di rumah Santana....
Terlihat Santana sedang membereskan rumah nya sambil sesekali menyeka keringat di keningnya dengan tangan. Sebegitu serius hendak membawa istri barunya setelah mengusir Mariam, dan Shaka tanpa perasaan. Beberapa jam kemudian, Santana selesai dengan pekerjaannya.
Datanglah seorang wanita bertubuh sintal dan berperawakan tak terlalu tinggi. Namanya Asih dan tak lain adalah ibu dari teman main Shaka yang bernama Dicky. Entah bagaimana lagi perasaan Mariam, bila mengetahui hal ini.
"Asih, masuklah! Aku sudah melakukan semua yang kamu minta," tutur Santana pada Asih yang menyeringai kegirangan. "Ayah, bolehkah Dicky membuang baju-baju ini?" ujar Dicky sembari menyentuh jijik baju-baju milik Shaka yang masih tertinggal.
"Lakukan seperti maumu, Dicky" ucap Santana sembari membuang napas kasar. "Baiklah, Ayah. Ini pasti akan sangat menyenangkan," seringai bocah berhati iblis itu.
__ADS_1
Asih berkeliling di dalam rumah untuk memeriksa keadaan. Ia tersenyum setiap kali melihat ruangan yang telah Santana rapikan. "Lumayan juga kerjamu, Mas. Rumah ini jadi sangat berbeda setelah ditinggalkan si g*mbel."
"Namanya Mariam, Asih. Aku tahu kamu tidak menyukainya, setidaknya sebutlah namanya dengan benar," ucap Santana. "Oh begitu? kamu lebih membela dia dari pada aku, Mas?" maki Asih dengan bola mata yang melotot dan nyaris keluar.
"Terserah kamu saja, Asih. Aku lelah dan mau istirahat," jawab Santana yang malas berdebat. Santana membantingkan tubuhnya ke atas kasur, lalu memejamkan mata.
"Dasar menyebalkan!" cicit Asih sembari menghenatakkan kakinya dan pergi dari ruangan kamar itu. Asih kembali melihat ruangan lain dan tidak sengaja melihat sebuah foto usang milik Mariam, yang masih tertempel di bilik rumah itu.
"Arrrgh! Dasar perempuan s*alan, kenapa kamu harus meninggalkan jejak di sini?" jerit Asih seraya menarik foto itu dengan kasar. Tiba-tiba Santana yang baru saja ingin tidur, terbangun mendengar sumpah serapah yang dilontarkan Asih pada Mariam. Tak tahan lagi mendengar suara yang memekik pendengarannya, Santana langsung bangkit dan berjalan menghampiri Asih.
*Plak... plak!
Bunyi tamparan keras dari Santana, mendarat sempurna di kedua belah pipi Asih. "Aww.. sakit" Asih mengaduh sembari menutupi kedua belah pipinya dengan tangan. "Tidak bisakah kamu diam?" ujar Santana dengan nada kesal.
Asih meringis kesakitan tanpa menjawab Santana. Santana lalu melangkahkan kakinya kembali ke kamar. "Sampai aku mendengar lagi suaramu memaki, akan ku tarik lidahmu keluar!" ancam Santana sembari berlalu.
Di balik kepuasannya karena dapat menyingkirkan Mariam dari kehidupan Santana, ternyata Asih mendapat perlakuan yang kasar. Entah sejak kapan dimulainya hubungan Asih dengan Santana itu. Karena jika memang benar, Dicky adalah anak kandung Santana berarti hal itu sudah terjadi sangat lama.
Mengingat usia Dicky yang tidak berbeda jauh dengan Shaka. Mungkinkah selama menikah dengan Mariam, Santana sudah memiliki hubungan dengan Asih? semua itu masih menjadi misteri. Hanya Author dan Tuhan saja yang tahu.
Berpindah pada susana di dala rumah Denny....
"Ibu ... Mariam minta maaf karena sudah merepotkan Ibu dan juga mas Denny," ucap Mariam pada Ibu Denny yang kala itu sedang menyulam sebuah kain. "Kemarilah, Mariam. Duduklah di dekat Ibu," perintah Ibu seraya melemparkan senyuman khas seorang ibu.
Mariam yang kala itu berdiri sembari menautkan jari jemarinya, perlahan melangkah dan duduk di dekat Ibu seperti pintanya. " Dalam hidup ini terkadang kita harus berjuang lebih keras untuk melewati jurang yang curam," ujar Ibu Denny seraya memegangi kedua lengan Mariam. Mariam tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu harus kuat, Nak. Walaupun Ibu tahu semua itu tidaklah mudah," imbuh Ibu Denny. "Balaslah kesakitanmu itu dengan cara membuat dirimu dan Shaka bahagia, memgerti?" lanjut Ibu seraya mengusapkan lembut tangannya menyeka air mata Mariam.
"Terima kasih, Bu. Mariam mengerti," memeluk Ibu Denny dengan erat. "Meski Ibu tidak mengalami apa yang dirimu alami, sebagai sesama wanita Ibu bisa merasakannya," ucap Ibu Denny.
"Sudah, Mariam. Simpan air matamu, sekarang saatnya membuat perubahan pada hidupmu," tandas Ibu. Mariam segera menyeka air matanya kemudian membiaskan senyum di bibirnya.
"Mari bantu Ibu memasak, sebentar lagi mungkin Denny akan pulang untuk makan malam," ajak Ibu lalu melenggang menuju dapur. Mariam mengekor di belakang Ibu dan ia penasaran akan sesuatu. "Bu, kalau mas Denny tidak tidur di rumah, lalu dia tidur di mana?" tanya Mariam memberanikan diri.
Ibu Denny tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Tidak usah khawatir, Denny menginap sementara waktu di rumah Umar, dan Lita. Adik sepupunya," jawab Ibu.
"Syukurlah, Bu. Jadi Mariam tidak kepikiran lagi," ucap Mariam dan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apa yang sudah aku katakan?" batin Mariam merasa malu dengan kata-katanya sendiri.
"Sudah tidak perlu malu. Ibu senang kalau Mariam perduli pada Denny," hibur Ibu yang melihat wajah Mariam bersemu merah menahan malu. Keduanya lalu memasak beberapa makanan untuk mereka hidangkan sebagai menu makan malam nanti.
Dapur yang semula sepi karena biasa diisi sendiri oleh Ibu, kini terasa begitu hangat dengan cengkerama Mariam dan Ibu yang sudah mulai akrab. Andai Denny melihat hal ini, pasti ia akan sangat bahagia. Semoga saja apa yang menjadi doa dan harapan Denny akan terkabul.
Bersambung....
Hai readers, sembari menanti kelanjutan cerita author, mampir juga yuk di karya temanku yang gak kalah seru dan pastinya bikin kalian terus penasaran...👇👇👇
Judul : The Ugly Duckling
Napen : Black Rose
Seorang gadis dengan tubuh yang gendut, jelek, dan hitam sedang berusaha merubah takdirnya menjadi cantik dan menarik.
__ADS_1
Saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya, masih ada orang baik yang mau mengangkat derajatnya dan menjadikannya seorang putri. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah dia akan menemukan seorang pangeran tampan dan baik hati?