Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 69 Gelora Cinta yang Menggebu


__ADS_3

Di sebuah kamar!


Santana, terlihat sangat bahagia. Senyumnya tak sudah-sudah kala ia memandangi wajah cantik Davina. Tatapan Santana begitu lekat hingga membuat Davina salah tingkah.


"M-Mas, jangan pandangi aku seperti itu! Aku malu," tandas Davina gugup.


"Kenapa malu, Sayang. Bukanka kamu milikku sekarang? Apa aku tidak boleh memuaskan mataku melihat wajahmu yang sangat cantik ini." Santana mengangkat lembut dagu Davina yang menunduk. Hingga wajah Davina sedikit menengadah ke arahnya.


Darah Davina berdesir. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tubuhnya gemetar karena gerogi. Namun, Santana tidak memperdulikan hal itu dan terus mendekatkan wajahnya ke wajah Davina.


Sampai sesuatu yang dikehendaki Santana terjadi. Mereka larut dalam cumbu mesra. Layaknya dua insan yang telah lama memendam gelora cinta yang begitu menggebu.


Mereka melakukannya berulang kali. Hingga nyaris sepanjang malam itu mereka habiskan untuk memadu cinta. Hujan yang turun begitu deras di luar sana, menambah syahdunya suasana malam pengantin mereka.


"Terima kasih, Sayang. Apa aku masih boleh melakukannya lagi?" ujar Santana di perbuatan yang ke sekian kalinya.


"Aku sudah tidak sanggup, Mas. Mungkin tidak sekarang. Tolong biarkan aku istirahat sebentar!" Davina memohon.


"Baiklah, kalau begitu tidurlah! Aku mencintaimu 'cup'." Santana mendaratkan kecupan di kening Davina.


Davina yang sudah sangat kelelahan melayani Santana. Langsung tertidur lelap di sisi laki-laki yang sudah resmi menjadi suami sahnya itu. Sungguh malam itu menjadi petualangan cinta yang luar biasa bagi keduanya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya!


Shaka bangun dan langsung berlari ke dapur untuk mencari keberadaan Mariam. Benar saja, ia mendapati ibu yang paling disayanginya itu sedang membuat nasi goreng. Shaka langsung memeluk Mariam, dari arah belakang hingga membuat Mariam terkejut.


"Hey, Shaka. Kenapa seperti itu? Ibu sedang berkutat dengan api di kompor. Jangan mengagetkan Ibu, Nak .... berbahaya."


"Ibu, Shaka rindu paman Umar, dan bibi Lita. Sudah lama tidak bermain bersama mereka," tutur Shaka Manja.


"Baiklah, nanti akan Ibu sampaikan pada ayah. Biar Shaka diantar ke sana, hmm."


"Terima kasih, Bu."


Shaka berlari meninggalkan Mariam. Sementara, Mariam melanjutkan masaknya yang memang belum selesai. Menu sarapan sederhana itu, sengaja dipilih Mariam, untuk pagi ini.


Mereka menikmati nasi goreng buatan Mariam, yang lezat itu dengan lahap. Tidak ada dialog apa pun kecuali hanya nada-nada yang tercipta dari garpu dan sendok yang beradu. Sampai 10 menit kemudian, sarapan selesai.


"Mas, putramu merindukan paman dan bibinya. Tapi, ia tidak berani meminta antar padamu. Katanya, 'sudah lama tidak bermain bersama paman Umar, dan bibi Lita' " Mariam menirukan kata-kata Shaka.


"Kebetulan, aku juga ingin ke sana. Sudah lama aki tidak bertengkar dengan adik sepupuku itu." Denny bergurau.


Ibu yang mendengar kata-kata Denny, hanya menggelengkan kepala. "Dasar anak nakal," ucap Ibu. Ibu membantu Mariam membereskan piring bekas sarapan mereka.


"Tidak apa-apa, Bu. Biar Mariam saja yang rapikan. Ibu istirahatlah," sergah Mariam.

__ADS_1


"Biar saja, Nak. Seharusnya kamu yang banyak banyak istirahat. Ingat, ada nyawa yang harus kamu jaga di dalam perutmu itu."


"Terima kasih, Bu."


Aktifitas sarapan dan membereskan piring sudah selesai. Saatnya melakukan aktifitas lainnya. Ibu kembali melakukan hobi menyulamnya. Denny mengantarkan Shaka, untuk bertemu Umar dan Lita. Sementara Mariam, beristirahat merebahkan tubuhnya.


"Ayah, Ayah tahu tidak, kenapa ibu sangat mencintai Ayah?" cetus Shaka dalam perjalanan menuju rumah Umar.


"Tentu saja karena Ayah sangat tampan." Jawab Denny penuh percaya diri.


"Bukan itu, Ayah. Ibu sangat mencintai Ayah karena, Ayah menyayangi Shaka, dan ibu dengan tulus."


Kata-kata Shaka yang semula Denny timpali dengan candaan. Kini membuatnya terhenyak. Shaka selalu mematahkan pemikiran orang dewasa dengan kebenaran.


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu berdoalah, agar Allah senantiasa menetapkan hati Ayah pada kebaikan-kebaikan ...," lirih Denny dengan suara yang sangat lembut.


Bocah laki-laki itu mengangguk patuh. Mereka kini telah sampai di depan rumah Umar, dan Lita.


Bersambung ....


Hai readersku tersayang. Dukung terus author ya! Dan jangan lupa untuk mampir di karya teman author, yang pastinya gak kalah menarik dan seru.


Dengan judul : di bawah ini!

__ADS_1



__ADS_2