
Gelora cinta berdesir memenuhi pembuluh darah Santana. Bayangan wajah Davina, semakin kuat bertenggeng dalam ingatannya. Malam ini, Santana tak dapat tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya!
Santana mandi dan merapikan diri. Bersiap untuk pergi menemui sang pujaan hati yang terus saja menggoda pikirannya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Sampailah Santana, di depan tempat tinggal Davina. Segera ia berjalan ke arah pintu. Lalu, mengetuk seraya mengucap salam.
Terdengar Davina menyahut dari dalam. Menjawab salam dan melangkah semakin dekat untuk membukakan pintu. Sebuah senyuman langsung mengembang di bibir indah Davina, ketika mengetahui Santana yang datang.
"Pagi sekalai, Mas.Tumben ... ada apa?" tanya Davina. Wanita itu bingung namun, sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya pada kehadiran Santana.
"Apa aku tidak boleh, menemui kekasihku sendiri?" ucap Santana balik bertanya. Dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah Davina.
"Kamu bisa saja, Mas. Tentu saja boleh, hanya saja tidak biasanya kamu datang sepagi ini." Jawab Davina. Keduanya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah Davina.
__ADS_1
"Sayang, bolehkah aku-" Santana menghentikan kalimatnya. Tangannya yang semula refleks memegangi pergelangan tangan Davina, perlahan ia lepaskan.
Davina mematung lalu, mengerutkan dahinya. Dengan ekspresi penuh tanya ia memandangi Santana. Duda beranak satu itu tampak gugup dan salah tingkah.
"Si*l! Kamu belum menghalalkannya, Santana. Jadi, jangan berpikir untuk bisa macam-macam dengan Davina," batin Santana merutuki sikapnya sendiri. Sebenarnya Santana, ingin sekali mendaratkan satu saja kecupan di kening pujaan hatinya itu tapi, ia terburu sadar bahwa ikatannya belum resmi.
"Mas? Kenapa bengong? Sebenarnya ada apa?" berondong Davina. Mata Davina memandang penuh selidik. Raut wajahnya penuh tanya dan merasa bingung pada sikap Santana.
"T-Tidak apa-apa, Sayang ... pergilah buatkan aku secangkir teh, aku merasa haus," pinta Santana gugup. Ia membuat alasan sekenanya saja. Karena, tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya bahwa ia ingin mencium Davina.
Davina melenggang ke arah dapur. Seperti pinta Santana, ia membuatkan secangkir teh untuk kekasihnya itu. Walau dalam hatinya tidak puas dengan alasan yang diberikan oleh Santana.
"Mas, ini tehnya," ucap Davina seraya menyuguhkan secangkir teh pada Santana. Wanita itu mengambil posisi duduk yang lumayan jauh dengan Santana.
"Vin, apa aku begitu menyeramkan?" tanya Santana tiba-tiba. Sambil salah tingkah, Santana menyeruput teh buatan Davina. Kegugupan tampak jelas pada diri Santana.
__ADS_1
Davina tertawa lepas mendengar pertanyaan Santana. Ia merasa bahwa Santana, pagi ini sangat lucu dan aneh. Davina terus tertawa hingga tampak deretan giginya yang putih.
"Kenapa tertawa? Apa aku tampak seperti badut?" Santana mengerucutkan bibirnya hingga terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Mas, sebenarnya Mas ini kenapa? Sejak tadi sikapmu aneh sekali. Apa ada yang membuat hatimu tidak tenang? Atau mungkin ada salahku yang membuat kamu jadi seperti ini?" Davina memberondong Santana dengan pertanyaan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Davina. Santana justru ikut bingung dengan sikapnya sendiri. Mungkinkah itu pertanda, bahwa Santana benar-benar tengah kasmaran.
"Bukan begitu, Sayang! Aku hanya merasa kamu menjauhiku." Ucap Santana dengan wajah tertunduk.
Davina semakin merasa heran dibuatnya. Ia pun bangkit dan memperhatikan dirinya sendiri. Ternyata benar, jarak duduknya dengan Santana memang cukup jauh.
"Ya ampun, Mas ... maaf, aku tidak bermaksud menjauhi kamu dengan jarak duduk ini," jelas Davina yang semakin tak bisa menahan tawanya.
Santana merasa lega karena Davina menyadarinya. Namun, kegugupan masih betah singgah dalam diri Santana. Bahasa tubuhnya masih menunjukkan bahwa dirinya salah tingkah.
__ADS_1
"Entah apa yang terjadi padaku? Padahal, sebelumnya aku tidak begini!" gerutu Santana dalam hatinya.
Bersambung....