
Mata temaram menatap sayu pada wajah Arifin. Santana harus menegaskan lagi pada Arifin apa tujuannya datang kesini. Meski rasa sakit dalam hati Santana belum bergeser tapi, hati Santana yang memang santun tak tega juga menghujami Arifin dengan genderang kekasaran.
Santana hanya berkata "aku hanya ingin kamu melakukan apa yang sudah menjadi kesepakatan kita" lalu, Arifin mengangguk patuh pada apa yang dipinta Santana. Santana mempersiapkan diri untuk membawa pergi Arifin menuju rumah Denny. Rumah di mana kini Mariam berada.
"Mari, Arifin, aku tuntun kamu berjalan" ucap Santana seraya memberikan tangannya pada orang yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Arifin menyambut tangan itu lalu bangkit dengannya dari tempat duduk. Mereka berjalan perlahan menuju pintu dan keluar dari rumah.
Di dalam kamarnya, Asih gelisah mondar mandir tak dapat duduk dengan tenang. Sambil terus memukul-mukul ringan keningnya dengan kepalan tangannya sendiri. "Ayo Asih... lakukan sesuatu," gumamnya.
Sementara Santana, juga Arifin terus melangkah. Dengan bantuan tongkat penyangga ketiak dan juga tuntunan tangan Santana, Arifin berjalan tertatih sebab kakinya belum sehat sempurna. Meski Arifin adalah musuh, Santana tak lantas memburu-burui Arifin agar melangkahkan kakinya lebih cepat.
Sekilas mengingat kejadian di masa lalu yang membuat Santana tampak bodoh di mata sekalian readers. Jadi, sebenarnya Santana adalah orang dengan pribadi yang sangat baik dan berhati lembut. Ia orang yang tak tega bahkan bila harus membunuh seekor nyamuk yang telah menggigit dirinya.
Semua keadaan yang tak terduga dan tidak dapat dibaca dengan penilaian dirinya. Akhirnya membuat Santana tersudut dan mau tak mau menurut pada Arifin, kala itu. Sebab, saat itu Arifin sangat berkuasa.
__ADS_1
Bila Arifin mengatakan hal atau suatu ancaman maka, yang akan terjadi adalah persis seperti yang ia katakan. Sementara Mariam, dan Shaka adalah jiwa bagi Santana saat itu. Karenanya Santana memilih menyelamatkan nyawa-nyawa itu agar tetap ada dan selamat dari kejahatan Arifin, meski dirinya setengah mati berkecimpung dalam getirnya hidup yang ia arungi.
***
Tinggal beberapa langkah saja mereka pun akan sampai di tempat tinggal Mariam. Namun tanpa di duga ada suatu kejadian yang membuat tujuan mereka terhambat. Tujuan yang seharusnya sudah bisa diraih dalam hitungan menit saja.
"Arrrgh!" Asih melengkingkan suara jeritan seraya menghujamkan belati ke tubuh bagian belang Arifin. Dengan kobaran emosi yang tampak berkobar dan menyala-nyala di mata Asih. Entah apa yang ada di pikiran Asih pada saat itu. Hingga ia berani melakukan hal di luar nalar dan akal sehatnya.
Arifin meraung menahan sakit, suaranya memekik parau hingga membuat dadanya sesak dan napasnya tersengal. Santana langsung menopang tubuh Arifin yang hampir jatuh terpelanting di sebabkan rasa sakit akibat hujaman belati pada punggungnya. Belati itu masih menancap sempurna di punggung Arifin.
"Lepaskan!" berontak Asih sembari berusaha melepaskan tangannya yang ditekuk kebelakan oleh 2 orang warga tersebut. "Tolong jangan lepaskan wanitu itu, Pak. Dia sudah menikam teman saya," pinta Santana yang mulai kewalahan menopang tubuh Arifin yang semakin memberat karena kekuatanya hilang.
"Mas, ada yang berteriak minta tolong," tutur Mariam. " Iya... aku juga mendengarnya" sahut Denny. Tanpa pikir panjang Denny, dan Mariam berlari ke arah luar untuk memastikan.
__ADS_1
Benar saja, Mereka melihat sebuah tragedi berdarah yang dekat di halaman rumah mereka. Mariam tersentak dan kaget menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Sementara itu Denny langsung menghambur membantu Santana.
"Bawa saja dulu ke dalam rumahku," titah Denny lalu, tubuh Arifin yang melemah pun di bawa masuk menuju rumah Denny. Mariam masih melongo tak percaya. Tubuh Mariam gemetar melihat darah yang mulai menembus pakian Arifin.
"Mariam, pastikan Ibu, dan Shaka agar tetap di kamar!" perintah Denny dengan nada serius. Mariam pun melangkah lemas ke dalam kamar untuk melakukan apa yang Denny perintahkan. Sementara Asih, juga berada di situ dengan kedua tangan yang masih dipegangi oleh warga agar tidak kabur.
Suana menjadi sangat menegangkan. Memacu debar jantung setiap orang yang berada di sana. Suara Arifin terbata-bata mengatakan sesuatu tapi, suaranya tak bisa didengar dengan jelas oleh mereka. "Bertahanlah, Arifin! Kami akan membantumu" ujar Santana.
Asih masih terus meronta hendak melarikan diri. Namun semakin ia meronta semakin kencang pula tangan-tangan itu memeganginya. Hingga kulit Asih terasa perih sebab tenaga orang-orang itu sangat kuat menekan.
Kegaduhan semakin riuh kala orang-orang mulai berdatangan ingin melihat apa yang sedang terjadi. Rumah Denny menjadi ramai dan penuh oleh suara-suara. Sementara di dalam sana, ada Mariam yang menjaga , Ibu dan juga Shaka. Meminta agar meraka tidak keluar untuk melihat kejadian yang mengerikan itu.
Bersambung....
__ADS_1
Hai readers tersayang... masih lanjut dengan update ceritanya ya... jangan lupa tinggalkan jejak seusai membaca ( catatan : jangan memberi like kalau tidak membaca). Terima kasih ya untuk kalian yang masih setia mantengin update an author❤.
Masih dinanti like, komen, vote, hadiah dan juga fav nya. Muaaaaaaach😘