Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 66. Mimpi yang Membawa Ayah Davina Pulang


__ADS_3

Seiring waktu yang terus bergulir. Santana, dan Davina benar-benar berusaha keras untuk menemukan keberadaan ayah Davina. Davina mencoba mendatangi rumah dan bertanya pada kerabat ayahnya yang ia tahu. Tapi, hasilnya tetap nihil.


Waktu pernikahan mereka sudah semakin dekat. Namun, Davina belum juga bertemu dengan ayahnya. Orang yang seharusnya menjadi wali nikah baginya.


Tangis keputus asaan terbias membahi pipi Davina. Isakannya terdengar lemah dan pilu. Santana hanya bisa menguatkan Davina melalui keberadaannya, yang setia dan terus mendampingi Davina.


"Sayang, kita sudah berusaha. Bukan diam dan tidak melakukan apa-apa. Jadi, tenanglah .... aku rasa ayah tidak akan menyalahkan kita," ucap Santana.


"Bukan tentang menyalahkan atau tidak, Mas. Tapi, aku ingin ayah sendiri yang menjadi wali di pernikahanku." Davina menangis layaknya anak kecil.


"Baiklah, Sayang! Aku minta maaf jika kata-kataku salah dan membuatmu semakin sedih."


Seorang karyawan yang bekerja untuk menjaga toko aksesoris Davina datang. Langkahnya sangat cepat dan terlihat buru-buru. "Bu, ada yang mencari Ibu," ujarnya.


"Siapa, San?" tanya Davina pada karyawannya yang bernama Sandra itu, seraya menyeka sisa-sisa air matanya.


"Saya kurang tahu, Bu." Jawab Sandra singkat. Lalu, Sandra langsung mohon diri dan kembali ke toko.


"Sayang, sebaiknya kita lihat saja, siapa yang datang," usul Santana. Davina langsung menyetujuinya dan mereka pun bergegas menuju toko yang jaraknya sangat dekat dengan rumah tinggal Davina.


Sesampainya di sana. Mata Davina kembali berkaca-kaca. Ia langsung berlari menghampiri seseorang yang ternyata adalah ayahnya.


"Ayaaaaah!" Davina memeluk ayahnya yang sudah nampak semakin tua itu. Ia menangis tersedu-sedu. Meluapkan kerinduannya.

__ADS_1


"Bagaimana Ayah tahu?" tanya Davina, setelah melepaskan pelukannya.


"Apa maksudmu, Nak? Tahu apa? Ayah tidak mengerti," sahut Ayah Davina bingung.


"Ayah, kami mencari-cari keberadaan ayah dalam 3 minggu terakhir ini." Terang Davina.


"Mengapa baru 3 minggu terakhir, Vina. Bukankah Ayah sudah pergi begitu lama?" tadas Ayah Davina.


"Itu sangat benar, Ayah. Ayah pergi meninggalkan Vina, sejak lama."


Ayah Davina terlihat menunduk dan merasa bersalah. Ia tidak lagi menimpali perdebatan kecilnya dengan Davina. Kemudian, Santana mengalihkan topik dan mengingatkan Davina untuk mengajak ayahnya duduk beristiraht.


ketiganya berjalan kembali ke rumah Davina. Meninggalkan toko aksesoris dan menyerahkan pada karyawan kepercayaan Davina. Untuk menjaga dan melayani para pembeli.


"Bagaimana Ayah bisa kembali ke sini?" tutur Davina. Bertanya dengan lebih tenang dan santun.


"Entahlah .... tiba-tiba Ayah bermimpi tentang ibumu. 3 malam berturut-turut dia selalu saja datang dan membuat ayah terjaga dari tidur ayah."


Dada Davina mendadak sesak karena desakan kesedihan yang memenuhi rongga dadanya. Ayah Davina memanglah belum mengetahui bahwa, ibu Davina kini telah tiada. Ayahnya pergi setelah resmi bercerai, bahkan belum mengetahui bahwa mantan istrinya itu mengidap penyakit serius, dan menjadi penyebab kematiannya.


"Omong-omong, di mana ibumu, Vin? Apa dia tidak ingin menemui Ayah?" tanya Ayah Davina dengan raut wajah penuh kesungguhan.


"Ayah, ibu sudah pulang ke Rahmatullah-" Davina terbata dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

__ADS_1


Davina mulai menceritakan semua hal yang belum sempat diketahui ayahnya. Termasuk alasan di balik keinginan ibunya untuk berpisah. Wajah tua itu merana mendengar kenyataan yang selama ini ternyata salah ia sikapi.


"Andai aku mengetahi lebih dulu, bahwa ibumu saat itu sedang sakit. Aku bersumpah untuk tidak meninggalkan dan mengabulkan keinginannya untuk berpisah denganku," ratap Ayah Davina pilu.


Kini sesal pun tiada berguna. Namun, Davina meyakinkan ayahnya bahwa semua itu bukan kesalahan ayahnya. Semua sudah berjalan sesuai garis takdir-Nya. Kini mereka hanya perlu memulai lagi, atau menyelesaikan apa yang pernah tertunda.


Davina menuruti keinginan ayahnya, untuk berkunjung ke pusara ibunya. Tempat peristirahatan terakhir wanita yang sampai saat ini masih dicintainya. Perpisahan tak menjadikan ayahnya, melupakan ibu Davina.


"Dewiku, wanita pujaan hatiku. Aku harap engkau mau memaafkan aku. Maaf karena aku tidak ada disaat-saat terakhirmu. Saat di mana kamu tengah berjuang melawan penderitaanmu." Di atas pusara itu, Ayah Davina meletakkan sekuntum bunga mawar dan memanjatkan doa-doa baik untuk almarhumah mantan istrinya itu.


Sepulangnya dari sana. Davina, dan Santana menyampaikan kabar pernikahan mereka. Yang akan dilaksanakan dalam 3 hari ke depan.


Mereka berdua tidak menyangka. Allah benar-benar mengabulkan doa mereka. Untuk bisa menikah dibawah perwalian ayah kandung Davina.


Satu masalah sudah teratasi. Ayah Davina pun tak lepas dari rasa bersyukur. Karena, mimpinya membawa dia pulang dan kembali pada putrinya, yang sangat membutuhkan kehadirannya.


Meski belahan jiwanya telah tiada. Meski cinta sejatinya telah pergi mendahuluinya. Setidaknya ada Davina, buah cinta mereka yang masih tersisa.


Dalam pelukan malam dan kesedihan. Bersama gersangnya perasaan. Ayah Davina berusaha ikhlas atas segala ketentuan-Nya.


Bersambung ....


Nantikan terus kisah selanjutnya .... Muaaachđź’‹

__ADS_1


__ADS_2