
Kini Mariam, dan juga Denny telah kembali ke bilik peraduan mereka. Keduanya saling diam dalam hening. Berpegang tangan sembari saling menatap dalam-dalam.
"Mariam, mari kita berbicara dan saling mendengarkan," tutur Denny lirih. Napasnya berat, berulang kali ia menghirup dan membuangnya perlahan.
Mariam menyunggingkan senyuman di bibir indahnya. Ia menganggukan kepala memberi tanda persetujuan. Sambil jari-jemari keduanya tetap saling bertautan.
"Mari kita berpikir dengan jernih. Sebab, aku tidak ingin melukai. Sekali lagi, tolong pikirkan baik-baik, Mariam," papar Denny.
"Bagaimana mungkin kita dapat saling menempati hati dengan utuh, bila di hati kita terdapat nama orang lain? Bagaimana bisa kita saling membahagiakan, bila kita masih dengan leluasa membiarkan hati kita dilukai? Meski begitu, izinkan aku bertanya sekali lagi padamu, Mariamku, titik lemah dan kuatku."
Mata Denny mulai berkaca-kaca. Demi memperbaiki semuanya, Denny bertekad untuk melakukan ini semua. Berbicara dengan Mariam, dari hati ke hati.
"Mariam, apa kamu bersedia menerima aku yang sederhana ini? Dengan setulus jiwa dan ragamu? Tanpa memikirkan lagi masa lalu yang sama sekali bukan milikku, juga bukan milikmu," Denny bertanya dengan tatapan yang lekat pada Mariam.
"Aku bersedia, Mas. Mari kita berjuang bersama. Sebab, satu-satunya penyebab lelah adalah ketika kita berjuang sendiri," jawab Mariam.
__ADS_1
"Maaf untuk masa lalu yang sempat membuatmu ragu. Setelah seharian tadi kamu meninggalkan aku. Rasanya separuh duniaku kosong dan hampa, aku sudah terlalu terbiasa denganmu, Mas," tutur Mariam.
Denny tersenyum, kemudian mendaratkan kecupan di kening wanita yang sangat ia cintai itu. Hatinya merasa lega mengetahui Mariam, yang tak ingin tanpanya. Dadanya tak lagi sesak seperti sebelumnya.
Mariam bersandar di dada bidang suaminya. Meluruhkan rasa yang semula tak menentu. Mencairkan rindu yang sempat menggumpal memenuhi ruang kalbu.
"Jadi, apa kemeja suamimu ini cukup mengobati rasa rindumu?" canda Denny pada Mariam, yang kala itu masih mengenakan bajunya tanpa sadar.
Mariam bangkit memeriksa dirinya. Ia tertawa geli sendiri. Sambil memutar badannya dan melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Denny menarik pelan tangan Mariam. Menuntunnya masuk ke dalam pelukan. "Kalau begitu, biarkan aku membuatmu terus merasa nyaman," ucap Denny.
Malam itu menjadi saksi bagi dua insan yang kembali saling jatuh cinta. Kembali saling menghangatkan setelah dingin menerpa. Kembali untuk saling menguatkan keyakinan pada cinta dan hati yang sempat goyah.
Saling menyadarkan bahwa rumah tangga yang sedang mereka bina, bukan untuk waktu yang hanya sehari dua hari saja. Melainkan untuk sepanjang sisa umurnya. Belajar mencintai untuk waktu yang lebih lama dan saling memberikan hati sekali lagi.
__ADS_1
***
Di lain keadaan!
Santana tengah berbunga-bunga. Sebab, ternyata perasaannya pada Davina berbalas manis. Sepertinya mereka memang sudah ditakdirkan bertemu dalam keadaan sedang sama-sama patah.
Hingga mudah saja rasanya bagi mereka untuk saling mengerti, atau memahami keadaan satu sama lainnya. Meski tidak sepenuhnya mengerti. Namun, pengalaman serupa yang pernah mereka alami menjadikan mereka lebih mudah paham menempatkan situasi dan kondisi diri mereka.
Memutuskan untuk belajar tertawa lagi dari sejuta sesak yang pernah merajam batinnya. Kembali untuk sama-sama bangkit dari keterpurukan yang menjadikan hati dan perasaan mereka nyaris terkikis tanpa sisa. Saling mengajari bagaimana cara tersenyum yang tulus, dari bibir hingga sampai ke mata.
"Mas, apa menurutmu hubungan kita ini tidak terlalu cepat?" ujar Davina. Ia menyadari bahwa pertemuannya dengan Santana, sebenarnya baru beberapa kali saja. Bisa dibilang terlalu singkat untuk memulai sebuah hubungan.
"Bukankah tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat? Aku sangat yakin, setiap sesuatu terjadi tepat pada waktunya. Termasuk ketika kita harus patah dan tumbuh dengan tunas cinta yang baru."
Santana meyakinkan Davina. Meski mereka belum sampai pada jenjang pernikahan. Namun, baik Santana, maupun Davina menjalani hubungannya dengan serius.
__ADS_1
Bersambung....