Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 56. Air Mata Kecemasan


__ADS_3

Di kebun bunga yang sama, saat dulu Denny mengajak Mariam, dan juga Shaka ke sana. Denny duduk sendiri meresapi segala rasa yang singgah dalam dirinya. Air mata yang tertahan, membuat rasa sesak memenuhi dadanya.


"Andai Mariam merasakan, betapa panjang waktu yang sudah aku habiskan untuk menunggunya, pasti dia tidak akan pernah meminta waktu lagi padaku, untuk menunggu lebih lama lagi."


Denny menghela napasnya dalam-dalam. Barangkali sesaknya bisa hilang namun, ternyata perasaan itu masih memenuhi ruang di jiwanya. Menyelimuti seluruh permukaan hingga menutup sisi yang lain.


Denny mendengus meluapkan kekesalannya pada keadaan. "Aku kira kebersediamu bersamaku tidak akan pernah berubah. Namun, ternyata kamu malah memikirkan hati Santana, orang yang sudah jelas dan terang-terangan menyakitimu, Mariam," gumam Denny dengan gigi gemeratak.


Hingga waktu bergulir menuju sore. Saat senja mulai datang menghiasi langit nan memukau. Denny masih setia dengan kesedihannya. Masih berteman sejuta luka dan kemelut dalam pikirannya.


***


Mariam gelisah tidak menentu. Mondar-mandir dengan persaan galau. Menunggu Denny yang belum juga pulang dan entah di mana.


"Di mana kamu, Mas? Semarah itukah kamu padaku? Pulanglah Mas, aku mencemaskan kamu," lirih Mariam dengan air mata berderi.

__ADS_1


Sungguh bagi Mariam, menyakiti perasaan Denny bukanlah kesengajaan yang dilakukan. Dirinya tidak mengira Denny akan sepatah dan sesakit itu karena sikap Mariam. Kini rasa bersalah semakin berkobar dalam diri Mariam.


Mariam berlari keluar dari kamar. Menghampiri ibu mertuanya yang sedang asik menyulam. Wanita paruh baya itu sedang duduk di kursi teras rumahnya.


"Ibu, Mariam boleh minta tolong? Shaka ada di kamar, ia tidak mau makan dan bicara pada Mariam. Jika tidak keberatan, tolong bujuk dan jaga Shaka sebentar ya, Bu," tutur Mariam dengan sorot mata kekhawatiran.


Tanpa menawar, wanita paruh baya itu langsung mengiyakan apa yang dikatakan Mariam. Sepertinya ibu dari suaminya itu mengerti, apa yang menjadi kekhawatiran menantunya. Ia pun langsung menghentikan aktifitas menyulamnya dan melenggangkan kakinya mendatangi Shaka di kamar.


Sementara Mariam sudah bergegas pergi dari rumah. Menyusuri jalan berharap dirinya bisa menemukan Denny. Sampai tidak sadar, baju atasan yang dikenakannya adalah kemeja Denny.


"Mas, kamu di mana? Tolong jangan hukum aku dengan rasa bersalah seperti ini," air matanya jatuh tak tertahan.


Di jalanan sepi itu ia berhenti melangkahkan kakinya. Menangis dan terus terisak. Meratapi rasa bersalahnya pada Denny.


Ia duduk bertekuk lutut. Dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya. Mariam sudah tidak memikirkan dirinya lagi.

__ADS_1


Sebuah lampu sepeda motor menyorot ke arah Mariam yang tengah terduduk bertekuk lutut itu. Sepeda motor itu langsung menghentikan lajunya tepat di depan Mariam.


"Mariam, apa yang kamu lakukan di sini?" ucap seorang laki-laki pengendara sepeda motor, yang ternyata adalah Denny.


Tubuh Mariam gemetar dan lemas. Kala itu hari mulai malam. Cahaya malam mulai temaram.


Denny menghampiri dan memeluk erat Mariam. Tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut kedua insan itu. Mariam membalas pelukan Denny dengan tangan lemasnya.


Cukup lama mereka saling berdekapan. Kemudian mereka saling melepaskan pelukannya, setelah sesak dan cemasnya tercurahkan. Jalan yang sepi itu menjadi saksi meluruhnya gumpalan rasa dan kekhawatiran.


"Bagaimana mungkin aku bisa jauh-jauh darimu, Mariam. Sedang sedetik pun tentangmu tak mampu pergi dari ingatanku," lirih Denny.


Mariam kembali menangis haru ketika Denny masih saja bertutur penuh cinta padanya, padahal saat itu hatinya tengah terluka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2