
Santana mengambil selembar kertas dari tangan wanita itu. "Apa ini?" tanya Santana, lalu ia mempersilakan sang tamu untuk duduk terlebih dahulu.
"Ini catatan sederhana Mas, aku tidak mahir membuat laporannya dalam bentuk file yang lebih rapi" ucap si Wanita. "Baiklah, lupakan! Aku sedang tidak ingin membaca, tolong jelaskan saja padaku," pinta Santana. "Ini laporan penjualan kue-kue dan makanan ringan yang dibuat mbak Mariam," terang si Wanita.
"Apakah semuanya berjalan sesuai rencana?" tanya Santana sembari menyandarkan tubuh malasnya di sofa yang ia duduki. "Seperti yang diharapkan, Mas. Kerja sama kami baru berjalan beberapa minggu saja tapi, sudah memperlihatkan hasil yang sangat baik," jawab si Wanita.
"Bagus, pastikan Mariam terus mendapat pesanan!" tegas Santana. "Seperti permintaanmu, Mas, aku akan berusaha untuk terus memesan kue-kue buatan mbak Mariam, dan memasarkannya. Tapi kalau boleh aku tahu, untuk apa Mas melakukan semua ini? Bukankah kebutuhan mbak Mariam sudah ditanggung mas Denny sebagai suaminya?" kata wanita itu penasaran.
Santana menghela napas kasar. Dadanya sesak setiap kali diingatkan tentang Mariam, yang kini sudah menjadi istri orang lain. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang," Santana menundukkan wajahnya lesu, membuat si Wanita merasa tidak enak hati.
"M-Maaf Mas, aku tidak bermaksud...." gagap si Wanita. "Sudahlah, lupakan saja. Jika sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi, pulanglah! Aku sedang sibuk," tutur Santana.
"Sibuk? Sibuk apa dia? Sepertinya tidak ada yang dia lakukan," batin wanita itu bertanya-tanya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Santana mengagetkan si Wanita. "Eem ... tidak ada, Mas! Ya sudah aku pamit" wanita itu pergi tergopoh-gopoh.
"Dasar wanita! Selalu saja mencurigai semua hal," gerutu Santana. "Setidaknya sekarang aku bisa membantu Mariam, untuk mendapat penghasilan agar ia tak bertumpang tangan sepenuhnya pada Denny, untuk mencukupi kebutuhan Shaka. Karena aku tahu, di hati kecilnya Mariam, pasti ia merasa tidak enak pada Denny" lirihnya.
__ADS_1
Lalu, dengan kesendiriannya Santana kembali ke kamarnya. Menelentangkan tubuhnya sembari menatap langit-lagit kamar yang hampa seperti ruang hidupnya. Semakin lama semakin dalam matanyan kembali merasa kantuk dan ia pun tertidur.
***
Takdir hidup terkadang terlalu misterius untuk ditebak. Juga teramat dalam untuk bisa diselami sampai ke dasar. Sebab takdir adalah rahasia-Nya.
Begitu juga dengan jalan takdir yang harus dilalui oleh Santana, Mariam, Denny, dan juga Shaka. Tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka sebelimnya. Bahwa kenyataan yang mereka alami kini jauh dari perkiraan.
"Ayah, Shaka ingin naik balon udara. Kita akan terbang bersama Ibu, Yah!" Bocah itu sedang bermain di dalam mimpinya. Secercah rasa senang pun tersirat dari raut wajahnya.
Shaka membuka matanya perlahan lalu mengucek dengan kedua tangannya. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk. "Ada apa, Dicky? Kamu mengganggu mimpiku," protes Shaka.
"Sudah pagi, Shaka, ayo kita bangun!" ulang Dicky. Dengan rasa kantuk yang masih menyelimuti, Shaka akhirnya turun dari tempat tidur. Dua bocah laki-laki itu keluar beriringan dari dalam kamar.
"Ayah mau kemana? Mengapa Ayah tampan sekali?" berondong Shaka seraya menghambur ke dalam gendongan Denny, yang sudah mengenakan setelan rapi. Dicky tersenyum melihatnya, ada air mata yang tertahan di sudut matanya. "Ayah mau pergi sebentar untuk sebuah pekerjaan," terang Denny lalu mencium pipi Shaka dan menurunkannya dari gendongan.
__ADS_1
"Kalau saja ayahku menyayangi aku seperti ayahnya Shaka," Dicky berandai sembari menyembunyikan air mata di balik kedua tangan yang menutupi wajahnya. "Ada apa, Dicky? tanya Denny. Bocah itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo Dicky, kita bersiap. Nanti kita main ke tempat paman Umar, 'boleh kan Yah?" ujar Shaka bicara pada Dicky, dan Denny bersamaan. "Biklah, kalau begitu cepatlah kalian bersiap. Ayah akan mengantarkan kalian sekalian pergi mengurus pekerjaan Ayah."
Dua bocah itu pun segera berlari untuk mandi dan berganti pakaian. 15 menit kemudian keduanya sudah siap. Bocah-bocah itu terlihat tampan dan juga segar.
"Apa semua sudah siap?" tanya Denny yang sedari tadi sudah menunggu. "Siap, Ayah. Siap, Paman" kata Mereka. "Pamitlah dulu pada Ibu, dan Nenek," titah Denny. Lalu, mereka berjalan ke arah dapur di mana Mariam, dan juga Ibu Denny sedang berjibaku menata kue-kue pesanan yang lumayan banyak.
Setelah berpamitan dan meminta izin. Mereka pun pergi bersama Denny, ke rumah Umar dan Lita. Keduanya tampak begitu senang dan terus berceloteh sepanjang perjalanan.
Bersambung....
Es buah seger versus kopi pahit
Hey Readers, jangan pelit-pelit!
__ADS_1
Kasih dukungannya buat author, ya. Semua bentuk dukungan kalian, mulai dari membaca karya, memberi like, berkomentar, memberi vote dan hadiah. Merupakan apresiasi yang sangat berharga bagi author. Terima kasih untuk readers yang sudah setia membaca dan meninggalkan jejak dukungannya. Love u so much all ❤❤❤❤