Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 62. Bukan Rayuan


__ADS_3

6 Hari berlalu. Di akhir pekan Santana, mengajak Davina ke rumahnya. Ia bermaksud memperlihatkan keadaan bilik rumah yang nantinya akan mereka tinggali setelah menikah.


Davina menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dari mulai ruang depan, dapur hingga kamar yang tersedia di sana. Davina hanya berjalan tanpa suara, sesekali menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Apa ini?" Davina mengambil sobekan foto di sebauh sofa, setelah ia kembali ke ruang tamu.


"Cantik ...." ucap Davina mengomentari sobekan potret usang itu. Davina terus memperhatikan gambar yang telah sobek itu. Sampai tidak menyadari ketika Santana memanggilnya.


"Vin, serius sekali ... sedang apa, sih?" Santana bertanya dari jarak yang dekat sampai Davina, terperanjat kaget.


"I-Iya, Mas ... mengagetkan saja!" sahut Davina. Ia tidak sadar bahwa Santana, sudah memanggil dirinya untuk kesekian kalinya.


"Dia siapa?" tanya Davina sembari menunjukkan sobekan gambar wajah Mariam. Santana lupa merapikannya dan ternyata masih tergeletak di sofa. Maklum, Santana tinggal sendiri dan jarang beres-beres.


"Oh, itu ibunya Shaka," jawab Santana datar. Lalu, ia mengambil sobekan foto itu dari tangan Davina. Davina hanya mematung tanpa protes.


"Maaf, aku lupa merapikannya. Aku akan menyatukannya dengan foto lainnya," jelas Santana. Ia berlalu untuk menyimpan foto itu.

__ADS_1


"Foto lainnya? Memangnya ada berapa foto yang dia simpan?" Davina bertanya-tanya dalam hatinya.


Santana kembali setelah menyimpan sobekan foto itu. Ia tersenyum pada Davina. Seolah tidak terjadi apa-apa.


"Sampai serapi itu, ya? Kamu mengemas masa lalumu?" Davina menampakkan raut wajah yang cemburu.


"Tentu saja, bukankah harus rapi! Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa membuat indah suasana di dalam hatimu, sana." Santana menepis kemelut prasangka, yang sedang melintas di pikiran Davina.


"Kamu tahu, Mas? Aku lebih takut ketika kamu lebih pandai menyembunyikan ketimbang berterus terang," tutur Davina.


"Kamu tahu, Sayang. Aku melakukan apa yang menurutku adil. Percayalah, dia hanya masa laluku sementara kamu, masa depanku." Sanggah Santana.


"Semoga saja kamu bukan tukang gombal, Mas. Aku tidak ingin jatuh ke tangan perayu ulung. Karena biasanya, mereka memiliki banyak hati untuk disinggahi!" tegas Davina, masih dengan posisi menundukkan wajahnya.


"Aku bukan mereka, Davina. Kalau hatimu saja sudah mampu membuatku menetap. Untuk apa aku harus singgah di hati yang lain."


"Cukup, Mas! Jangan membuat anganku melambung terlalu tinggi. Aku takut, pasti akan sangat sakit rasanya saat aku terjatuh," pungkas Davina seraya tersenyum.

__ADS_1


"Aku malah berharap. Hatimu akan jatuh sejatuh-jatuhnya padaku, Vin. Aku berharap bisa menangkapmu hingga kamu tidak bisa lepas lagi."


Davina semakin salah tingkah. Wajahnya bersemu merah. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menimpali Santana.


"Kembali ke topik, Mas. Jadi, apa tujuanmu mengajak aku melihat-lihat rumah ini. Padahal, aku 'kan calon istrimu, bukan calon pembeli rumahmu," ujar Davina.


"Baiklah, kalau begitu mari kita bicarakan. Aku ingin kita tinggal di sini setelah menikah nanti. Apa kamu setuju?" ucap Santana.


"Sebenarnya, aku tidak masalah mau tinggal di mana saja, Mas. Tapi, bukankah rumah ini kamu bangun untuk Shaka? Aku tidak mau menjadi alasan bagi kamu, untuk melupakan hak-hak putramu, yang juga calon putraku."


"Jadi, kamu menolaknya?" tanya Santana dengan nada putus asa. Laki-laki itu merasa rendah saat mendengar kalimat yang dilontarkan Davina.


"Jelas tidak, Mas. Aku tidak sedang menolakmu. Tapi, aku sedang memikirkan hak calon putraku, Shaka."


Santana tidak jadi muram. Ia tersenyum dan merasa bangga pada calon istrinya itu. Ternyata Davina, cantik paras dan juga hatinya.


"Tapi, kita bisa menunggu sampai Shaka dewasa. Atau begini saja, kita akan bergantian tinggal di sini dan juga di rumah yang dekat toko." Lanjut Davina, memberi solusi yang sangat bijak.

__ADS_1


"Baiklah, Sayangku. Seperti yang kamu mau!" Santana memberi persetujuan.


Bersambung....


__ADS_2