
Tentu saja, pernyataan Santana membuat harga diri Mariam bagai diinjak-injak. Tak puas rupanya, Santana membuat Mariam menderita dengan kepergiannya. Kini ia justru datang dan menciptakan luka baru yang lebih nyata.
Alih-alih berdebat atau mempertahankan haknya, Mariam justru pasrah dengan apa yang Santana lakukan. Mati sudah rasa Mariam, kali ini air matanya pun kering tak keluar. Ada tekad lain di dalam dirinya.
"Baik, Mas. Kalau itu yang kamu inginkan," jawab Mariam penuh penerimaan. Bahkan Santana merasa heran, mengapa Mariam tak terlihat sedih kali ini. Mariam menutupi semua kelemahannya dengan langkah yakin.
"Aku bersyukur Allah menunjukkan lagi padaku, bagaimana keaslian orang yang telah aku cintai selama ini!" ujar Mariam dengan tatapan yang dingin.
Mariam lalu mengemasi barang-barang pribadinya dan juga barang-barang Shaka. Belum tahu kemana ia harus pergi karena semua ini sangat tiba-tiba. Sikap Santana yang sangat tidak adil terhadap dirinya dan shaka, justru membuat Mariam terdorong untuk segera meninggalkan rumah itu.
"Ibu ... Ayah, apa kita mau pindah rumah?" tanya bocah laki-laki yang baru saja keluar dari kamarnya. Shaka merasa heran melihat Marian yang sibuk mengemasi barang-barang. Dirinya terus bertanya namun, kedua orangtuanya tak mau menjawab.
"Shaka, dengar Ibu... mulai hari ini, kita akan pergi dari sini," ucap Mariam seraya memegangi kedua belah pipi mungil Shaka. Sementara Ayah yang sejak lama Shaka rindukan itu hanya diam tanpa sepatah kata. Bahkan Santana memalingkan wajah saat Shaka menatapnya penuh tanya.
"Bu, kita mau kemana? bukankah ini rumah kita?" tanya Shaka masih dengan kebingungannya. Mariam hanya tersenyum penuh kekuatan, lalu melanjutkan mengemas barang-barangnya. Air mata Mariam bahkan tak sudi menetes lagi kala itu.
Sudah terlalu banyak air mata yang terkuras karena besarnya harapan, luasnya keinginan dan baiknya prasangka. Kini Mariam sudah lelah dengan semua kelemahan itu. Tak mengapa jika kini dirinya harus terusir dalam kehinaan, suatu saat Mariam yakin keadaan akan membaik dan berpihak padanya.
Semua barang-barang sudah selesai dikemas, hanya pakaian dan bebrapa mainan milik Shaka. Mariam sadar rumah itu memang bukan miliknya, walau ada hak Shaka padanya. Kini tekad sudah bulat, sudah terlalu sering Santana mencampakan semua pengorbanan dan kesetiaannya.
"Sayang, berpamitanlah kepada Ayahmu," titah Mariam. Dengan wajah kecewa bocah itu lalu menyalami tangan Santana. Jangankan perduli, untuk sekedar memperlihatkan kesedihannyapun, Santana tidak.
"Ibu, kita mau kemana?" tanya Shaka yang kini tangannya telah terpaut pada tangan Mariam. Keduanya melangkah pergi dari rumah yang sempat menjadi tempat bernaung dari teriknya matahari dan hujan. Rumah yang sekaligus menjadi saksi hidup Mariam yang penuh getir dan kepahitan.
"Kemana saja, Nak. Asalkan bersama Shaka, Ibu sudah cukup bahagia," jawab Mariam memberikan senyuman pada Shaka. Shaka membalas senyuman sosok wanita yang menjadi kebanggaannya itu. Rasanya tak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi saat ini.
"Mariam!!" teriak Santana dari dalam rumah, lalu berlari ke tempat di mana Mariam, dan Shaka berdiri. Santana ingin mengucapkan sesuatu pada Mereka. Dengan ragu-ragu Santana mulai berbicara.
__ADS_1
"Mariam, apa semua ini akan membuat kalian membenciku?" tanya Santana lalu menundukkan wajahnya. Bagai menanti sebuah sesal yang disengaja. Bahkan ia masih bertanya tentang hal yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya.
Mariam saling bertatapan dengan Shaka, lalu berkata. "Tentu saja tidak, Mas. Kami bahkan tidak pernah berpikir untuk memiliki perasaan apapun lagi terhadapmu!" Tegas Mariam.
"Baiklah, Mariam. Aku sangat mengerti," imbuh Santana. Mariam hanya tersenyum penuh arti, dengan sorot mata yang tajam bagai mata pisau yang siap menghujam.
"Nikmatilah hidup yang kamu pilih, Mas. Kami harus pergi," lanjut Mariam. Mariam menuntun tangan mungil Shaka dan kali ini benar-benar melangkah pergi dan tidak menoleh lagi.
***
Menyusuri jalanan dengan hanya berjalan kaki. Sesekali Mariam menggendong Shaka yang tampak kelelahan. Tiba-tiba berhentilah dihadapannya, Denny yang membawa sepeda motor kesayangannya.
"Paman Denny...," ucap Shaka senang. Denny tersenyum pada Shaka dengan perasaan hancur dan tidak tega. Kehadiran Denny menghentikan langkah Mariam dan juga Shaka.
Mariam hanya diam saja kala itu. Sementara Denny menatap wajah mariam penuh nyeri. Menyaksikan wanita yang dicintanya berjalan terlunta-lunta.
Sepenajang perjalanan, Mariam dan Denny hanya diam saja. Ingin rasanya Denny meluapkan kesedihannya atas keadaan yang menimpa Mariam, dan shaka. Namun semuanya Denny tahan karena tak ingin memperkeruh suasana.
"Mau dibawa kemana kami, Mas?" tanya Mariam akhirnya membuka suara. Namun, Denny menjawabnya dengan sebuah pertanyaan. "Apa kamu sudah punya tujuan, Mariam?" ujarnya.
Mariam hanya diam dan menggelengkan kepala. Denny dapat melihat itu dari kaca spion sepeda motornya. "Tentu saja kamu tidak tahu," imbuh Denny.
Denny melajukan saja sepeda motornya itu ke arah rumahnya. Bukan sebuah kebetulan semata Denny bisa menemukan Mariam, dan Shaka yang terlunta-lunta. Rupanya ada tetangga Mariam yang lagi-lagi melaporkan pada Denny, bahwa telah terjadi seauatu pada Mariam juga putranya.
Sekitar 30 menit kemudian, sampailah mereka di depan rumah Denny. Tampak Ibu sudah menunggu di depan teras rumah dengan wajah cemas. Mariam merasa canggung dan tidak enak.
Mereka semua turun dan menyalami Ibu Denny. Shaka terlihat senang bertemu dengan ibu dari Denny tersebut. Dengan ramah wanita paruh baya itu menyambut mereka.
__ADS_1
"Masuklah, Nak. Bawa barang-barang kalian," ucap Ibu mempersilakan Mariam. Mariam tersenyum, saat itu dirinya tak ada daya untuk menolak, karena Mariam sendiri masih bingung harus ke mana.
Denny memberi isyarat agar Mariam, dan Shaka masuk lebih dahulu, lalu Denny yang membawakan barang-barangnya. Di dalam rumah itu, rupanya Ibu sudah menyiapkan makanan berupa nasi beserta lauk pauknya. Sengaja menyediakan itu untuk menyambut kedatangan Mariam, dan Shaka.
"Kemarilah Shaka," ucap Ibu Denny seraya membawa Shaka ke dalam pangkuannya. Shaka menurut dan langsung merasa nyaman dengan wanita paruh baya yang memberikan kesan sangat baik dan penyayang itu. Entah mengapa, untuk pertama kalinya kesepian yang bersemayam di hati Shaka seketika pupus kala itu.
"Nenek... apakah Shaka boleh memanggil Nenek?" tanya Shaka sopan. Denny tersenyum mendengar itu. Sementara Mariam masih diam dan malu-malu.
"Tentu saja,Shaka. Nenek kan memang nenekmu," ujar Ibu Denny seraya tersenyum. Shaka memeluk erat Nenek barunya itu dengan penuh haru. Shaka mengucapkan rasa terima kasihnya sembari menitikkan air mata.
"Denny... ajaklah mereka makan, Ibu akan melapor pada Rt. dan Rw. dulu," tandas Ibu lalu beranjak pergi. Denny mengajak Shaka, dan Mariam untuk makan.
"Mas, aku merasa tidak enak pada Ibu," cetus Mariam. Mariam memang masih terlihat gugup dan kaku di hadapan Ibu, dan Denny memaklumi hal itu. Denny meyakinkan Mariam untuk tetap tenang dan membiasakan diri.
Bersambung....
Guys... sambil menunggu kisah kelanjutan cerita dari Mariam, Denny, dan juga Shaka. Author mau ngajak kalian buat mampir juga nih di karya temannya author yang pastinya bikin kalian penasaran...👇👇👇
Judul: Mengejar Cinta Guru Tampan.
Karya : Ponn Ponn
Nayra baru saja putus dengan sang pacar justru dipertemukan dengan seorang pria tampan yang menjadi guru baru disekolahnya.
Nayra lama-kelamaan mulai jatuh Cinta dengan sang guru, walau umur mereka bedah jauh, tapi Nayra tidak peduli dengan itu, dia tetap akan terus mengejar Cintanya dengan sang guru tampan tersebut.
Akankah Cinta Nayra diterima? Atau justru Cintanya tersebut akan bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1