Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 73 Aku Menerima Dengan Lapang Dada dan Bahagia


__ADS_3

Laki-laki itu menunggu dengan cemas. Ia duduk tak tenang sembari menopang dagu dengan tangannya. Sampai seorang dokter yang menanganinya keluar dari ruang perawatan.


"Bagaimana keadaan Raya, dok?"


"Apa Bapak keluarganya?"


"Iya, dok. Saya Hanif, kerabat dekatnya."


"Baik, Pak Hanif. Ibu Raya tidak apa-apa, hanya mengalami beberapa luka luar dan tidak terlalu parah. Mungkin besok sudah bisa dibawa pulang dan dilakukan perawatan lanjutan di rumah."


"Alhamdulillah, terima kasih, dok. Boleh saya ke dalam?"


"Sama-sama, Pak Hanif, silakan."


Laki-laki bernama Hanif itu masuk ke ruang rawat. Berjalan perlahan dan melihat Raya sudah siuman. Ia tersenyum dan mendekat ke arah Raya. Duduk di kursi yang tersedia untuk menunggu pasien.


Berbalut perban di beberapa bagian tubuhnya seperti lengan, kaki, dan juga kepala. Raya Membelalakan matanya saat mengetahui ada Hanif. Ia hedak duduk tapi, Hanif melarangnya.


"Tidak apa-apa, Raya. Berbaring saja," ujar Hanif memberi isyarat dengan tangannya agar Raya tidak banyak bergerak.


"Mas Hanif, bagaimana kamu bisa ada di sini, Mas?" tanya Raya sambil meringis menahan nyeri akibat luka.


"Aku yang menabrakmu, Ray. Tapi, sungguh aku tidak sengaja. Jalanannya begitu gelap hingga aku tidak melihat ada orang di depanku."


"Tidak apa-apa, Mas. Mas tenang saja, bahkan aku bersyukur jika saat itu aku mati saja," ucap Raya.


"Apa yang kamu katakan, Raya. Jangan bicara begitu, aku tidak keberatan jika memang harus berurusan dengan pihak berwajib, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku." Tutur Hanif.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku, Mas. Bukan tentang kecelakaan yang aku alami ini."


"Lalu, apa yang membuatmu putus asa, Raya? Apa suamimu itu berulah lagi?" tanya Hanif.


Raya hanya diam tidak menjawab. Namun, raut wajah dan sorot matanya menunjukkan kesedihan.


"Baiklah, kamu bisa cerita lain kali saja. Saat kamu sudah siap dan menginginkannya. Sekarang istirahatlah! Aku akan menunggumu di sini." Titah Hanif.


Raya memejamkan matanya tertidur, setelah beberapa saat mengobrol dengan Hanif. Sepertinya obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter mulai bereaksi. Hingga Raya benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya.


***


Di bilik rumah Davina!


Pagi ini, Davina sedang memasak di dapur. Menyiapkan sarapan sederhana untuk dirinya, juga santana, dan Ayah.


Ia membuat nasi goreng sosis, lengkap dengan kapri dan potongan wortel berbentuk dadu. Setelah itu, Davina juga membuat telur mata sapi sebagai topping. Lalu, teh manis hangat dan juga air putih sebagi minumannya.


"Selamat pagi, Sayangku. Apa yang sedang kamu lakukan," ucap Santana berbasa-basi seraya mencium tengkuk Davina.


"Pagi juga, Mas. Aku sedang menjahit ... tentu saja tidak! Aku sedang memasak menu sarapan untuk kita." Davina menjawab dengan sedikit gurawan.


Santana tersenyum lalu melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Davina. Ia menawarkan bantuan pada Davina. Lalu, dengan senang hati Davia memberinya pekerjaan untuk membawa makanan yang sudah siap untuk dihidangkan, ke meja makan.


Seperti yang diminta. Santana membantu istrinya dengan tulus. Kemudian, mereka menikmati sarapan paginya bersama sang ayah.


Kini melihat pada keadaan di dalam rumah Denny, dan Mariam!

__ADS_1


Denny sedang asik mengelus perut Mariam, yang kini mulai membuncit. Sesekali ia mencium dan mengajak berbicara calon bayinya di dalam sana. Rona bahagia di wajahnya kian kentara.


"Mas, jenis kelamin apa yang kamu harapkan dari calon anak kita?" tanya Mariam sembari mengelus kepala Denny yang menempel di perutnya.


"Apa saja aku terima. Bahkan bila aku harus mendapatkan 7 anak perempuan, atau 5 jagoan. Asalkan itu dari rahim istriku. Aku menerimanya dengan lapang dada dan bahagia."


Mariam tersenyum mendengar jawaban Denny. Ia beryukur, sejak masa kehamilannya, Denny semakin menunjukkan kasih sayang dan perhatian ekstra kepadanya. Namun, tetap memprioritaskan Shaka, sebagai anak kesayangannya juga. Hingga Shaka tidak merasa iri karena perhatian yang Shaka dapat, sama sekali tidak berkurang.


"Ayah ... Ibu, lihat ini! Shaka membuatnya untuk adik," ucap Shaka sembari menunjukkan sebuah gelang, yang ia buat dari benang sulam sisa, milik Nenek.


Denny terkejut dan langsung merubah posisinya. Ia salah tingkah karena kepergok sedang memeluk mesra Mariam. Untuk menghilangkan kegugupannya itu, Denny memberi pujian pada gelang buatan Shaka.


Bersambung ....


Bagaimana keseruan dari cerita selanjutnya? Stay tune ya, Sayangnya othor. Namun, sembari menunggu update selanjutnya. Mari kita mampir dulu ke karya keren milik teman othor.


Langung saja baca dan jangan lupa tinggalkan jejak, ya! ❤❤❤ cekidot ....


Karya : My Fierce Wife


Napen : Arandiah


Blurb :


Roy Xavier, Seorang pria dewasa berusia 36 tahun, yang biasa di panggil sekertaris Roy, Seorang sekertaris sang tuan muda Sean Agipratama, pemilik perusahaan SA Group, dengan parasnya Da yang tampan dan gagah, Roy tak pernah kekurangan pujian dari para kaum wanita, memiliki sifat yang dingin dan kaku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun. terce!


Siapa sangka, jika pria dingin itu malah terpikat oleh wanita yang menjadi rivalnya, Yolanda Jackson. Tapi yang lebih menyakitkan saat ia telah mencintai wanita tomboy itu adalah, ketika wanita yang ia cintai sudah memiliki pria yang ia cintai.

__ADS_1


Akankan sekertaris Roy bisa meluluhkan hati wanita yang ia cintai dan bisa mendapatkan wanita itu?



__ADS_2