Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 89 Keakraban


__ADS_3

Sampai tiba waktu sore. Tatkala matahari mulai condong ke ufuk barat. Santana, juga Davina memutuskan untuk pulang. Mereka mengajak Dicky ke rumah Davina, yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang.


"Shaka, apa kita akan sering main bersama?" tanya Dicky di penghujung pertemuan mereka.


"Tentu saja, Dicky. Kita akan sering bertemu dan bermain bersama." Sekali lagi mereka saling berpelukan.


Mereka pun pun berlalu pergi dari rumah Denny. Shaka, dan Dicky saling melambaikan tangan. Kali ini tanpa sebuah tangis yang menyesakkan. Hanya senyum yang menggambarkan sebuah pengharapan penuh keyakinan.


"Ayah, apa Ibu sakit?" tanya Shaka setelah semua tamu pergi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu akan baik-baik saja," jawab Denny menghibur Shaka.


Denny mengajak Shaka untuk kembali ke dalam. Ia mengajak Shaka bercengkerama sembari mengangkat tubuh bocah laki-laki itu di udara. Tawa lepas terdengar mengiringi hangatnya kebersamaan mereka.


***


Dicky sampai di rumah Davina. Ia langsung berlari ke dalam rumah besar itu. Sambil menanyakan apa saja yang ingin ia ketahui. "Ibu Davina, apa Dicky akan membuat Ibu Davina kerepotan?"


"Tentu saja tidak, Nak, asalkan Dicky menjadi anak yang baik dan patuh," Santana menjawab Dicky, mewakili Davina. Sementara, Davina hanya tersenyum dan sepakat pada jawabam santana.


"Dicky, beri salam pada kakekmu," titah Santana sembari mengenalkan Dicky pada ayah mertuanya tersebut.


"Apa kabar, Kakek?" kata Dicky seraya mencium punggung tangan Ayah Davina, yang sedari tadi sudah menyambutnya dengan memberikan senyuman hangatnya itu.


"Kakek baik, Nak. Apa ini yang namanya Dicky? Anak hebat yang akan tinggal di sini menemani Kakek ...," tutur Ayah Davina membesarkan hati Dicky.

__ADS_1


"Terima kasih, Kakek .... Ayah Santana, dan Ibu Davinalah yang hebat," sahut. Dicky dengan nada sendu.


"Kemarilah, mari Kakek tunjukkan sesuatu." Ayah Davina mengajak Dicky untuk ikut bersamanya.


"Apa yang akan kita lakukan, Kakek?"


"Kita akan menyiram tanaman," jawabnya sembari menyalakan selang untuk menyiram tanaman.


"Apa mereka akan merasa segar setelah disirami air?"


"Tentu saja, mereka juga makhluk hidup sama seperti kita. Butuh makanan dan juga minuman," jelas pria tua yang kini disebut Kakek tersebut.


"Benarkah? Apa mereka juga akan menangis seperti Dicky saat merasa sedih?"


"Ya, hanya saja, caranya beebeda. Mereka akan bertasbih dan meminta langsung kepada Tuhan seluruh alam, sementara kita justru sering melupakan-Nya."


"Karena hanya Allah yang mengerti jeritan mereka. Sedangkan kita, kita hanya bisa melihatnya. Kecuali, jika empati kita terhadap makhluk hidup sangat tinggi dan besar."


"Empati itu apa, Kek?"


"Semacam keadaan di mana kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bedanya, tanaman ini bukan orang tapi, sama saja mereka juga makhluk Allah."


"Jadi, mereka juga bisa menagis dan bersedih?"


"Ya, mereka akan layu dan kering jika tidak dirawat dan disirami. Seperti hati kita, ia akan terasa mati dan gersang jika tidak disirami dengan perasaan cinta dan kasih sayang."

__ADS_1


"Wah, begitu ya, Kek. Kalau begitu, biarkan Dicky memberikan mereka kasih sayang dengan menyiraminya setiap saat."


"Tidak setiap saat, Nak. Hanya beberapa kali saja di waktu yang diperlukan. Karena jika terus-menerus disirami juga tidak baik, terutama jika keadaan sedang terik."


"Mengapa sangat rumit, Kek?"


"Karena belum dikerjakan. Sesuatu yang hanya dibicarakan saja tidak akan selesai kecuali, diiringi dengan mengerjakannya."


"Baik, Kakek .... Dicky senang berteman dengan kakek." Keduanya pun tertawa dengan gembira.


Dalam kesepiannya, Ayah Davina kini memiliki teman untuk diajak mengobrol dan bermain. Meski Dicky tidak sepenuhnya mengerti pada apa yang ia bicarakan saat ini. Namun, suatu saat pasti Dicky akan mengerti. Menurut pengalamannya, saat kecil anak tidak selalu mengerti pada nasehat-nasehat yang diberikan tapi, mereka akan mengerti di kemudian hari. Saat usia mereka telah cukup untuk memahami.


Davina, dan juga Santana hanya memperhatikan keduanya sembari tersenyum. Untuk sekian waktu yang telah dilalui selama ayahnya tinggal di rumah Davina. Baru kali ini ia melihat lagi sebuah senyum dan tawa lepas ceria dari sang ayah. Sudah pasti, itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi Davina.


"Lihatlah, Mas! Ayah, dan juga Dicky terlihat sangat akrab," ujar Davina sembari tersenyum.


"Biarkan saja, itu akan lebih baik bagi keadaan hati keduanya." Jawab Santana.


Bersambung ....


Guys, terima kasih ya .... atas dukungannya selama ini. JANGAN lupa mampir juga di karya keren milik temanku yang pastinya sangat menarik untuk diikuti!


Judul : Tante CEO Love You


Karya : MomPutt

__ADS_1



__ADS_2