
"Meski waktu tidak dapat diputar kembali. Setidaknya kini, izinkan aku menjadi pelangi yang menghiasi langit hatimu. Seusai badai menerjang yang sempat aku ciptakan dan dengan sangar mematahkan banyak harapan."
Santana masih terngiang ucapan Shaka. Bocah itu meminta maaf, bahkan ketika dirinya sendirilah yang berada dalam duka nestapa. Menambah kekaguman pada sang ibu yang mendidiknya.
"Sayang, tidurlah! Hari sudah malam, kita masih punya waktu 2 hari di villa ini. Besok, Ayah dan juga ibu Davina akan mengajak Shaka bermain lagi," tutur Santana sembari berbaring menopang kepala dengan tangannya di samping Shaka.
"Baik, Ayah." Patuhnya.
Santana memberikan ciuman selamat malamnya pada Shaka. Lalu, ia beranjak pergi untuk menyusul Davina, ke kamar yang terpisah setelah Shaka tertidur. Dengan senyum yang terus terurai dan tarikan napas leganya, Santana menutup pintu kamar Shaka.
"Shaka sudah tidur, Mas?" tanya Davina dengan biasan senyum di bibir indahnya saat Santana tiba di kamar.
"Ya, dia sudah tidur. Sepertinya udara yang sejuk membuat Shaka cepat mengantuk." Jawab Santana.
"Apa, Mas juga mengantuk?" tanya Davina.
"Aku bukan Shaka, Sayang. Cuaca sejuk seperti ini justru membuatku ingin terus terjaga. Terutama saat di dekatmu."
Davina senyum tersipu malu. Santana membuatnya salah tingkah melulu. Kata-kata Santana bagai jerat pemikat yang membuatnya merasa terjebak di dalamnya.
"Apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Santana sembari tersenyum penuh arti.
"Katakan, apa kira-kira aku bisa melakukannya ...," jawab Davina dengan senyum yang merona.
"Tentu saja bisa. Semuanya tergantung padamu, apakah jawabanmu iya, atau tidak." Sorot mata Santana seperti sedang menggoda Davina.
"Sudah aku bilang, Mas. Katakan kamu mau apa?" Davina memukul dada Santana manja.
__ADS_1
"Benarkah kamu ingin tahu?" Santan berbisik di telinga Davina.
"Jangan berkelit! Kenapa kamu jadi menyebalkan!" protes Davina.
"Oh, kamu sudah tidak sabar rupanya. Baiklah, Sayang, mari kita mulai." Santana mulai memanjakan Davina dengan sentuhan-sentuhan kecil di seluruh tubuh indahnya.
Suasana syahdu nan romantis tercipta apik di ruangan kamar itu. Aroma tubuh yang saling berpadu, menyatu sempurna dengan manisnya madu-madu cinta. Indah malam pun semakin terasa ketika keduanya berada di puncak tertinggi surga dunia.
"Terima kasih, sudah menjadi istriku dan bersedia menerima Shaka tanpa cerca," ucap Santana sembari mengecup mesra kening Davina.
"Jangan terlalu sering berterima kasih, Mas. Aku takut kerendahan hatimu membuatku besar kepala."
"Kalau begitu ingatlah untuk tetap menjadi Davinaku. Davina yang baik hati serta tulus."
Davina tersenyum lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Santana yang tak berbungkus sehelai benang itu. Keduanya larut dalam pelukan malam penuh kehangatan. Luruh sudah segala perasaan.
***
"Tidak, Mas ... wanita hamil tidak selalu ngidam. Aku rasa itu hanya mitos yang sudah membudaya saja," sanggah Mariam.
"Hemm, jangan menahan diri! Aku ingin kamu mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan. Jangan takut, Sayang, sungguh aku pun ingin sedikit direpotkan seperti calon ayah lainnya."
"Mariam tertawa mendengar hal itu. Tawanya lepas seperti tak ada beban. Ia merasa lucu pada kata-kata dan permohonan Denny.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" ujar Denny.
"Lebih dari lucu, Mas. Kamu aneh sekali! Hati-hati kalau membuat keinginan. Nanti, kalau maumu dikabulkan dan kamu menjadi repot sungguhan, bagaimana?!" kata Mariam memberi peringatan.
__ADS_1
"Selama aku mampu melakukannya, kenapa tidak." Jawab Denny tak mau kalah.
"Kalau begitu aku ingin sesuatu!" tantang Mariam.
"Cepat katakan!" titah Denny tak sabar.
"Aku ingin mangga muda sekarang juga!"
"Apa? Ini sudah malam sayang. Sebentar lagi pukul 23.00. Mintalah yang lain saja, aku akan lakukan."
"Baru begitu saja, Mas sudah kerepotan," ejek Mariam.
Denny tersenyum sembari mengusap tengkuknya. Argumennya dipatahkan oleh Mariam.
Bersambung ....
Hey readers gumush. Sembari menunggu update selanjutnya, cus kita kepoin karya keren dari author kece yang satu ini ...
Judul : Begitulah Takdir
Author : Yuthika Sarah
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
__ADS_1
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?