Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 79 Maafkan Shaka, Ayah


__ADS_3

"Mariam, lihat apa yang aku bawa!" teriak Denny dengan antusias, saat dirinya sudah sampai di depan rumahnya.


"Ada apa, Mas?" mariam keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa. Mulanya ia mengira sesuatu terjadi, sebelum melihat ternyata Denny datang membawa kotak besar yang entah apa isinya.


Denny melemparkan senyuman. Sementara tangannya sibuk dengan kotak hadiah yang dibawanya. Ia pun menopang kotak hadiah itu dengan kedua tangannya. Membawanya ke dalam rumah dan menyerahkannya pada Mariam.


Marian mematung sesaat. Sebelum Denny mengulangi perkataannya untuk membuka hadiah itu. Mariam pun membukanya dengan hati-hati.


"Ini dari mana, Mas?" tanya Mariam sambil tersenyum senang.


"Kamu ingat, kakaknya Lita, yang aku ceritakan semalam?"


"Iya, Mas, aku ingat. Apa hadiah ini dari dia?"


"Benar, ini semua darinya. Dia berbohong padaku dengan mengatakan rumah makan kita mengalami kendala. Padahal, itu hanya akal-akalannya saja agar aku datang ke sana dan mengambil hadiah ini."


"Tapi, bagaiman dia tahu kalau kita akan segera punya bayi, Mas?"


"Entahlah kurasa in pekerjaan Umar dan Lita, yang sudah memberitahunya. Karena hanya mereka yang paling mungkin melakukannya.


"Wah, sudah lupakan dan lihatlah! Perlengkapan bayi ini sangat bagus dan lucu sekali, Mas. Aku rasa kita tidak perlu membelinya lagi," pungkas Mariam sembari tersenyum.


"Iya, Sayang ... baguslah jika kamu merasa senang." Ucap Denny.

__ADS_1


"Tentu saja, aku sangat senang. Sepertinya aku harus berterima kasih pada-"


"Jeky, Sayang, namanya adalah Jeky. Dia konyol dan menyebalkan, tapi sangat bisa diandalkan dalam pekerjaan."


Mariam tampak sumringah. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Denny. Denny mengecup pucuk kepala Mariam dengan penuh perasaan.


***


Sementara, di villa yang cukup besar itu Santana, dan Davina menikmati kebersamaannya. Sambil mengawasi Shaka yang sedsng asik bermain air di tepi kolam renang yang tersedia. Santana menceburkan dirinya ke dalam kolam renang itu.


"Ibu, kemari, Bu ... Ayo kita berenang bersama," teriak Shaka dari tepi kolam renang. Meski dirinya belum bisa berenang dan hanya berpegangan pada tepinya.


"Lanjutkan saja, Sayang. Ibu tidak mau, airnya dingin sekali," balas Davina.


"Mas, aku akan membuat makanan hangat untuk kalian," ucap Davina sembari berlalu.


"Baik, Sayang! Terima kasih." Sahut Santana sembari tetap sibuk mengajari putranya itu.


Di tengah aktifitas berenangnya. Tiba-tiba saja Shaka memeluk Santana dengan erat. Seperti tidak ingin melepaskan pelukannya.


Santana langsung menggendong Shaka dan membawanya naik dari kolam renang. Ia merasa khawatir dengan sikap Shaka. Mengapa bocah itu tiba-tiba memeluk dirinya seperti itu.


"Shaka, kenapa Nak? Apa ada yang sakit?" lirih Santana mencari tahu.

__ADS_1


Shaka hanya menggelengkan kepalanya kemudian terisak. Tangisnya luruh tak lagi dapat ia cegah. Semakin erat pula tangan mungil itu memeluk Santana.


"Ayah, apa Ayah sangat terluka saat Shaka berkata bahwa, Shaka sanggup hidup tanpa seribu ayah sepertimu?" ucap Shaka dalam sedu sedannya.


Santana meneguk saliva, rasa perih menjalar di dalam ruang hatinya. Napasnya terasa berat. Santana tersenyum mehan getirnya perasaan.


"Maafkan Shaka, Ayah. Shaka tidak bermaksud berkata begitu. Saat itu Shaka hanya merasa kasihan pada ibu," lanjut Shaka masih dengan tangisan yang terdengar pilu.


"Tidak, Nak. Ayah bahkan tidak keberatan pada semua kata-kata Shaka. Ayah mengerti kepahitan itu, semuanya salah Ayah. Sekarang mari kita lupakan dan jangan ingat-ingat lagi peristiwa pahit itu. Apa Shaka juga sudah memaafkan Ayah?"


Shaka mengangguk lalu memeluk Santana sekali lagi. Bocah itu ternyata memiliki ingatan yang sangat baik. Bahkan pada kata-kata yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain.


"Sudah, Nak ... Ayah tidak ingin Shaka bersedih lagi." Santana mencium pucuk kepala Shaka.


Mereka menyudahi saja aktifits berenangnya. Kemudian menikmati makanan yang telah selesai Davina siapkan. Sungguh Santana bersyukur mmiliki anak dengan pemikiran luar biasa seperti Shaka.


Bersambung ....


Hai guys mampir juga yuk di karya keren milik temanku yang pastinya menarik dan seru ....


Judul : Lelaki Bayaranku


Karya : Iren

__ADS_1



__ADS_2