Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 15. Bolehkah Malam Ini Aku Merasa Bahagia?


__ADS_3

Byur ... pyar!


Guyuran satu ember air membasahi wajah Santanan yang sedang tidur, hingga membuat napasnya tersendat-sendat. Hendak membuka mata tapi, entah mengapa kala itu Santana merasa kesulitan. Ada yang dengan sengaja melakukan hal itu pada Santana.


"Rasakan olehmu, Ayah!" desis Dicky seraya menyeringai puas. Dicky memang tengah geram pada Santana, karena perlakuannya pada Asih. Hingga bocah itu berpikir untun bertindak demikian.


Tak berselang lama, Santana akhirnya bisa membuka mata dan bangun. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling dan mendapati dirinya sudah basah kuyup. Santana menggemeretakkan giginya merasa kesal.


"Dickyyy!" teriak Santana dengan suara menggelegar bak hantaman petir yang memecah bumi. Alih-alih mendekat Dicky justru berlari ke luar rumah. Asih yang mendengar suara santana penuh amarah, langsung menghampiri suaminya itu.


Dengan jantung yang berdegup sangat kencang, Asih berjalan perlahan karena takut. "Ada apa, Mas?" tanya Asih. " Apa kamu tidak lihat, Asih? yang dilakukan oleh anak nakal kesayanganmu itu sungguh kurang*jar?" maki Santana.


Namun, bukannya meminta maaf atau menenangkan Santana, Asih justru balik memaki. "Cukup, Mas! kalau bukan karena perlakuan kasar kamu terhadapku, pasti Dicky tidak akan melakukan itu". "Dasar perempuan tidak tahu diri," geram Santana.


Santana beranjak dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Asih. "Kamu sudah melihatnya, Asih. Apa yang terjadi pada Mariam, jangan sampai aku melakukan hal yang sama padamu, dan bocah si*lan itu!" ancam Santana berbisik di telingan Asih.


Asih terdiam mati kutu. Rasa geram dalam dada Asih sepertinya sedang berbanding setara dengan apa yang santana rasakan. Tampaknya tidak ada keharmonisan dalam bahtera rumah tangga mereka itu.


Santana membersihkan dirinya lalu berganti pakaian. Karena rasa lapar yang sudah menagih di dalam perutnya, Santana melihat apa yang tersedia di meja makan. Beberapa makanan sudah terhidang di sana.


"Asiiiih...," teriak Santana memanggil. "Ambilkan aku makanan," perintahnya saat melihat asih yang sudah ada di sandingnya. Meski perasaan Asih masih sangat kesal tapi, Asih menuruti saja permintaan Santana.


Satu centong nasi dan lauk pauknya, di suguhkan pada Santana. "Bukalah mulutmu," titah Santana. Asih pun menuruti lagi dan membuka mulutnya, Santana memberikan suapan pertamanya pada Asih.


Asih merasa senang dan tersenyum kala itu. "Ternyata dia masih perhatian terhadapku," batin Asih seraya mengunyah makanannya. " Baguslah, artinya makanan ini aman dan tidak diracuni," ujar Santana dalam hatinya.


"Mas, aku akan ke luar sebentar untuk mengajak Dicky makan bersama," kata Asih seraya bangkit dari duduknya. "Terserah kamu saja, Asih," tandas Santana sembari tetap meneruskan makannya. "Lagi pula aku tidak terlalu perduli," gumam Santana setelah Asih pergi.

__ADS_1


Asih berkeliling mencari Dicky, hingga ia menemukan Dicky sedang duduk dengan tatapan mata penuh amarah. Tangan Dicky memegang sebilah pisau dan menyayat-nyayat sebuah bola plastik miliknya. Entah apa yang sedang dipikirkan bocah itu, tapi perbuatannya membuat bergidik ngeri.


Tanpa pikir panjang, Asih langsung merebut pisau dari tangan Dicky. Dicky tersentak, tak menyadari bahwa ibunya sudah ada di sana. Asih menuntun tangan Dicky ke arah pulang sembari menasehati putranya itu.


"Jangan bersikap begitu, Dicky. Kalau Ayahmu tahu dia pasti akan marah," ujar Asih sambil terus berjalan menggandeng tangan Dicky. "Tentu saja, bukankah Ayah tidak bisa bersikap selain hanya marah saja," jawab Dicky.


"Dicky, jadilah anak yang manis jangan membuat Ayah kesal padamu," pungkas Asih. Wajah Dicky di tekuk, ia merasa tak senang pada nasehat yang diberikan oleh ibunya. Sampailah mereka di rumah, dan langsung menuju meja makan.


Syukurlah Santana sudah menyelesaikan makannya dan tidak ada di meja. Karena emosinya bisa tersulut kembali kalau sampai melihat Dicky di hadapannya. Kekesalan Santana pada Dicky, bisa membuat selera makannya hilang.


***


"Mariam, apa Shaka sudah tidur?" tanya Denny yang tak melihat keberadaan Shaka. Mariam memgangguk seraya tersenyum, lalu mereka bersantai bersama Ibu Denny menikmati syahdunya langit malam yang berselimut cahaya purnama. Seketika segala kegundahan hati yang sedang mereka rasakan kini perlahan membaik.


Hati yang nelangsa dijajah rasa yang kian kentara. kini semikan kembali bunga-bunga yang nyaris layu tak terpelihara. Hati Mariam, sedikit demi sedikit menemukan titik leganya.


"Ternyata benar, lebih baik berlapang dada melepaskan kepergian, ketimbang harus terluka karena menggenggam duri di tangan," Mariam berkata-kata dalam hatinya seraya menghembuskan napasnya dengan lega.


"Bu, bolehkah malam ini Mariam merasa bahagia?" tanya Mariam selepas Denny pergi. "Apa ada sesuatu yang menghalangi kamu untuk merasakan hal itu, Nak? jika ada segera singkirkan!" jawab Ibu. Mariam memeluk Ibu Denny dan dibalas oleh Ibu.


"Terima kasih, Bu," ucap Mariam lagi. "Sama-sama, Nak, sekarang tidurlah dengan nyenyak," sahut Ibu. Mariam melangkahkan kakinya menuju kamar, menyusul Shaka yang sudah lebih dulu tidur.


Cup! Mariam mendaratkan kecupan di kening Shaka sebelum akhirnya ia pun tertidur dengan lelapnya. Mariam berharap esok hari setelah ia kembali bangun untuk menghadapi kenyataan, ia mampu lebih adil dan tidak terlalu kejam terhadap dirinya sendiri.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi, Nenek," ucap Shaka memberi sapaan dengan sumringahnya senyuman. "Pagi, Shaka. Kemari Nak, biar Nenek tunjukkan sesuatu," Merangkul Shaka dan membimbingnya berjalan.

__ADS_1


"Nenek, kita mau kemana?" tanya Shaka tak sabar. Ibu Denny hanya tersenyum seolah sengaja membuat Shaka penasaran. Sampailah mereka di halaman rumah.


"Paman, Ali, Reyhan!" Shaka berlari menuju Denny yang ternyata membawa Ali dan Reyhan untuk menemui Shaka. Ketiga bocah itu saling melepas rindu seakan sudah lama tak bertemu. Sementara Denny merasa puas karena berhasil mengukir senyuman di bibir mungil ketiganya.


"Paman, apa paman sengaja membuat kejutan untuk Shaka? tanya Shaka lalu bergelayut di tangan Denny. "Tentu saja, lagi pula Ali dan Reyhan juga rindu dengan Shaka, benar kan?" tutur Denny seraya menoleh pada kedua teman Shaka. "Iya, Paman," kata keduanya sambil tersenyum.


"Mainlah bersama-sama ya, Nenek dan Paman akan membantu Ibumu di dalam," ucap Denny. "Baik, Paman ... Nenek, terimakasih," lalu mereka bermain di halaman rumah Denny yang cukup luas.


"Shaka, kamu sudah tahu belum? sekarang Dicky, dan Ibunya, tinggal di rumah kamu lho," tutur Ali. "Ah, masa sih? tidak mingkin, pasti kamu salah lihat," sanggah Shaka. "Ali benar, Shaka, mereka ada di sana bersama Ayah kamu," timpal Reyhan.


Shaka yang sedang merasa senang, seketika menjadi diam mengerutkan dahinya. Apa mungkin Ayahnya menjual rumah itu pada keluarga Dicky? pikiran bocah itu mulai tak tenang. Semua itu membuat Shaka lebih sering murung di sepanjang waktu bermain.


Bersambung....


Hai readers, sambil menunggu update selanjutnya kita mampir dulu yuk di karya temannya author... dijamain seru dan bikin penasaran...👇👇👇


Napen: isti shaburu


Karya: Romansa Dokter Ganteng dan Pelayan Cafe


Niat hati membantu Veronica sang pelayanan cafe cantik dan pendiam yang sedang kesulitan untuk biaya rumah sakit sang ibu dengan cara menikah secara siri.


Agam Arsenio sang dokter ganteng pujaan hati para dokter dan perawat serta pasien wanita malah jatuh cinta kepada Veronica.


Bagaimana kisah cinta mereka?


Apakah mereka akan menikah secara resmi?

__ADS_1


Natikan kisah gaje segaje-gajenya.



__ADS_2