Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 20. Akad


__ADS_3

Ikhlas bukan perihal melepaskan saja tapi, ikhlas juga tentang menerima. Saat melepaskan menjadi suatu pilihan maka, kata ikhlas tentu bersemayam menjadi nyawa dalam sebuah kerelaan. Begitu juga tentang menerima sesuatu yang datang entah dari keinginan atau karena sebuah keharusan.


Hari yang dinanti-nantikan oleh Denny untuk mempersunting Mariam menjadi istri sahnya telah tiba. Semerbak harum bunga sedap malam menyeruak indra penciuman. Wangi melati pun tak terelakkan menambah syahdunya suasana.


Mariam tampak cantik dengan balutan kebaya putih berhijab santun layaknya seorang pengantin muslimah. Semua yang hadir memuji kecantikan sang ratu sehari itu. Denny terlihat tampan dengan paduan kemeja putih dan jas hitamnya.


Dikarenakan wali nasab Mariam tidak ada, maka wali hakim menjadi satu-satunya pilihan yang ada. Jantung Denny berdebar tak beraturan beberapa saat sebelum ijab qobul dilakukan. Bersyukur segala kegugupannya mampu ia redam.


SAH!


Ucap para saksi dengan lantang. Mencairkan tumpukan ketegangan di dalam dada Denny. Senyumnya kini benar-benar terpancar sampai pada sorot matanya, beradu serasi dengan sang mempelai pengantin wanita.


Suasana haru kembali terjadi saat Mariam di hadirkan untuk suaminya, Denny. Dengan hati yang sepenuhnya menerima ia mencium tangan Denny untuk pertama kalinya. Begitu pun sebuah kecupan di kening Mariam mendarat dengan sempurna diiringi lantunan doa-doa.


Denny tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya." Paman, hari ini paman tampan sekali," puji Shaka yang tak melepaskan gandengan tangan Denny. "Oh tidak begitu sayang, mulai sekarang panggil aku Ayah," tutur Denny seraya memeluk Shaka.


"Benarkah? apa sudah boleh?" tanya bocah itu seolah tak percaya. "Tentu saja, apalagi yang kau tunggu? katakanlah itu sekarang!" tandas Denny. "Baik, Ayah!" Shaka tak kuasa menahan rasa harunya, ia memeluk Denny erat sembari berurai air mata.


Mariam, Ibu Denny, dan semua yang hadir turut larut dalam keharuan saat itu. Seolah semua dapat merasakan apa yang Shaka rasakan. Penantiannya mendamba seorang ayah di siainya kini berakhir, meski Denny bukan ayah kandungnya.


Dari jarak sejauh mata memandang, Santana menyaksikan kebahagiaan dan segala rasa yang indah yang tertuang di sana. Malang baginya karena bukan dirinya yang menghadirkan itu untuk Mariam, dan Shaka. Apa kalian tahu bagaimana perasaannya?! Tentu saja tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Ada benih-benih kecewa yang tumbuh dan semakin memekar dalam diri Santana. Sayangnya ia tak bisa melakukan apa-apa atau menyalahkan siapa-siapa. Tak ada lagi yang tersisa dalam hidup Santana kecuali penyesalan dan rasa bersalah.


"Mas, apa kamu sengaja ingin melukai perasaanmu sendiri?" tutur Asih yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Santana. " Diamlah kamu, Asih! Apakah wanita yang tak punya hati sepertimu masih pantas berbicara tentang sebuah perasaan, hah?" bentak Santana. "Aku hanya kasihan padamu, Mas, kamu sungguh menyedihkan," seringai Asih sembari bersedekap.

__ADS_1


"Semua ini karena kamu dan Ayah dari anakmu itu," kesal Santana sembari menunjuk wajah Asih. "Hahaha... santailah, Mas. Dirimulah yang terlalu bodoh hingga mudah ditipu," ejek Asih.


Santana semakin merasa tidak berguna. Ingin sekali rasanya ia mencabik-cabik mulut Asih andai tak ada kesadaran dalam dirinya. Bahkan Asih tidak pernah sedikitpun merasa bersalah atas apa yang dia lakukan bersama Arifin terhadap Santana.


"Kamu membuatku muak, Asih! Satu hal lagi, dirimulah yang menyedihkan. Apa kamu tidak sadar? bahkan Ayah dari anakmu saja membuangmu. Dia lebih memilih menjebak laki-laki lain untuk menutupi kesalahannya, cih!" Santana berlalu meninggalkan Asih.


Asih melenguh nyeri mendemgar kata-kata yang terlontar dari mulut Santana. Memanglah benar apa yang dikatakan Santana itu. "Aargghh!" desis Asih merasakan kecamuk dalam pikirannya.


***


Hari-hari Shaka kini penuh kehangatan bersama Denny sebagai ayah sambungnya. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua mata putranya, membuat Mariam merasa tepat dengan pilihannya. Kini hatinya mantap dan siap menerima Denny dengan segenap jiwa raga sebagai suaminya.


"Shaka, malam ini tidurlah dengan Nenek. Biarkan Ayah dan Ibumu menikmati waktunya," bujuk Ibu Denny pada Shaka, membuat Mariam dan Denny tersipu malu. "Baik, Nenek" ucap Shaka patuh.


Ibu Denny mengantar Shaka ke dalam kamarnya. Denny memberikan tangannya pada Mariam untuk digandeng. Langkah beriringan dari dua insan itu masuk menuju peraduan.


Denny tak henti-hentinya memandangi wajah ayu istrinya sampai puas. Sesekali Mariam memberikan protesnya pada Denny karena merasa risih. Namun, momentum itu tak ingin Denny sia-siakan, ia justru sengaja membuat Mariam semakin salah tingkah.


"Mas, berhentilah memandangiku seperti itu," protes Mariam. "Tidak mau! Apa kamu lupa siapa aku sekarang?" ledek Denny membuat Mariam semakin tak bisa berkutik. "Baiklah, terserah Mas saja tapi, aku malu," cetus Mariam mebuat Denny terkekeh.


"Aku hanya senang memandangimu, Sayang. Setelah sekian lama menunggu akhirnya kamu menjadi milikku juga. Aku mencintaimu, Mariam" ungkap Denny penuh kesungguhan.


"Sudah jangan menggombal," pungkas Mariam seraya mengacak-acak rambut Denny. Tidak ada kebahagiaan yang setara kebahagiaan yang dirasakan oleh Denny kala itu. Bibir Denny tak henti-hentinya mengembangkan senyum di wajah tampannya.


"Baiklah, Sayang ayo kita tidur" ajak Denny. Ia lalu memberikan ciuman selamat malamnya di kening Mariam. Dengan jemari tangan yang saling bertautan keduanyapun tidur berbantal cinta berselimut kasih.

__ADS_1


Malam semakin pekat, mengusir cahaya yang terpancar dari gemintang dan sinar rembulan. Bagai nyanyian pengantar tidur bagi dua hati yang sedang dilanda asmara. Dunia seakan milik berdua yang lain hanya menyewa.


Lain halnya dengan Santana dan Asih yang hidup dalam permusuhan. Keduanya menjalin hubungan yang benar-benar tidak sehat. Hati mereka mengeras sehingga yang tampak pada wajah mereka hanyalah amarah saja.


"Ibu, kenapa Ayah selalu marah pada Ibu? tanya Dicky sembari memeluk Asih di tempat tidurnya. "Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam! pergi tidur," ketus Asih. Dicky memejamkan matanya dengan perasaan sedih.


"Maafkan Ibu, Dicky" batin Asih menangis meratapi nasibnya dan Dicky. "Kebodohan Ibu lah yang membuat hidup kita begini" sesal Asih. Kini di dalam rumah itu hanya ada penyesalan yang memenuhi setiap ruangan.


Di dalam kamar yang terpisah Santana tidur berbantal duka dengan potret wajah Mariam dan Shaka yang tergenggam erat di tangannya. Pilu menyelimuti malam-malamnya. Raganya kosong bagai rumah tak betuan.


Entah karma apa yang sedang dirinya tuai saat ini. Entah kesalahan yang mana yang mengantarkannya pada jalan buntu tentang sebuah pilihan. Andai dirinya tak sebodoh dulu yang mudah termakan fitnah, pastilah tak akan pernah ada rasa kecewa yang berlebihan pada dirinya sendiri dan juga keadaan.


Bersambung....


Teman-teman readers tersayang, sembari menunggu update selanjutnya kita mampir dulu yuk di karya teman author yang pastinya keren. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


Judul : Suamiku CEO Cilok


Karya : Tie Tik


Mempunyai cita-cita menjadi istri seorang CEO adalah mimpi sebagian besar seorang wanita, apalagi jika wanita tersebut seorang penulis novel online, pasti khayalannya melampaui batas wajar.


Shasa, itulah nama seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki cita-cita anehโ€”ia ingin nasibnya seperti salah satu tokoh film Hollywood yang memiliki suami seorang pemilik perusahaan besar, bahkan Shasa rela menolak lamaran dari anak pak lurah hanya karena cita-cita yang aneh. Akankah harapan Shasa terpenuhi? Mungkinkah Shasa menjadi istri seorang CEO muda seperti cita-citanya selama ini?


__ADS_1


__ADS_2