
Mariam merasa apa yang di katakan Shaka pada Denny tidaklah tepat, maksud takutnya pada tetangga adalah ketakutan mengganggu kenyamanan dirinya dan Shaka, bukan takut digunjing semata.
Mau di apakan lagi? Shaka hanyalah bocah kecil yang pemahamannya belum sampai pada tahap itu. Akhirnya Mariam menyudahi kegiatan mengintipnya dan pergi ke kamar.
Suara hati Mariam....
Masih terngiang jelas di telingaku, ketika itu kamu berkata 'Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Mariam'. Bahkan masih aku rasakan lembutnya belaian dan hangatnya pelukanmu, Mas.
Bicaramu itu sungguh membuat aku menyerahkan seluruh hidupku padamu, tutur katamu membuat aku memberikan semua rasa percayaku padamu. Kini semua itu kamu ingkari, Mas. Kamu telah semena-mena meninggalkan aku dan buah hati kita, tanpa perduli dengan panjangnya penantianku menunggu dirimu kembali.
Bukan sedang mengeluh pada takdir yang Tuhan berikan atasku tapi, tidakkah ada sedikit saja rasa rindumu yang tersisa untuk kami, Mas? atau mungkin semua kata-kata dan janji manismu itu hanyalah gurauan untuk menghibur hatiku.
Teganya kamu membuat hidupku sebegini pilunya, sampai hatimu memperlakukan aku bagai sampah yang tak berguna. Kamu iris hatiku, kamu robek jantungku, kamu porak porandakan segala sesuatu yang telah aku tata dengan rapi, Mas.
Mas Santana, sejak kamu menyatakan kepergianmu yang sesungguhnya melalui secarik kertas itu, duniaku seoalah akan runtuh. Tiang-tiang yang menopang dan berdiri kokoh dalam istana hatiku kini telah luluh lantak oleh karena kamu, Mas.
Baiklah aku bisa menerima itu walau dengan hati yang sakit bagai tersayat sembilu. Tapi bagaimana dengan Shaka? bahkan dia masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa ayah kandungnya melarang dia untuk mencari dan menemuinya.
Adilkah ini untukku, Mas? atau cukup adilkah ini untuk Shaka yang tak berdosa, dan untuk Denny yang selalu tulus mencintaiku, bahkan sebelum kamu menginjakkan kaki di ruang hidupku?...
Apa kamu pikir hatiku ini adalah sebuah permainan yang bisa kamu mulai dan kamu akhiri sesukamu?
Kamu telah menghancurkan bukan hanya harapanku, Mas! tapi juga harapan putraku, putra kita, Shaka, Mas.
Tangis Mariam pecah bagai suara petir yang membidik bumi. Hancur, luluh, lantak, berserakan. Di sudut kamarnya, Mariam kembali menumpahkan tangisnya.
Jeritan hati Shaka....
Ya Allah, beri Shaka kesempatan walau hanya sekali saja dalam hidup Shaka, untuk bertemu Ayah dan memeluknya sebentar saja. Shaka sudah lelah memakai baju rindu ini dan ingin sekali saja menanggalkannya.
__ADS_1
Bocah kecil itu menjerit dalam hatinya manakala menatap wajah Denny yang sedang memeluk dirinya di dalam pangkuannya. Shaka berulang kali memandangi wajah Denny berharap orang yang kini sedang mendekapnya itu adalah ayahnya.
Denny berbisik lirih dalam hatinya....
Mariam, tidak adakah celah sedikit saja dalam hatimu yang memberi ruang untuk sebuah kehadiranku? aku sudah pernah bodoh sebelumnya, Mariam. Aku tak bisa mengekspresikan perasaanku sendiri, hingga laki-laki lain membawamu ke dalam hidupnya.
Semua itu tidak ku sesali, Mariam. Asalkan hidupmu bahagia tapi, melihat kenyataan yang berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku, kamu, dan mungkin Shaka harapkan, aku sudah tidak mampu lagi menahan diriku untuk terus diam.
Mariam, izinkan aku sekali ini saja membuktikan kesungguhan rasaku. Izinkan aku merangkai kembali butir-bitir cinta yang telah berserakan itu. Izinkan aku untuk sekali saja seumur hidupku membahagiakan kamu dan menjadi teman berceritamu, saat malam datang, saat pagi tiba, saat kapan saja kau menginginkannya.
Mungkin kita terlalu kejam pada diri sendiri, hingga untuk bahagia saja kita harus menjaga perasaan orang lain. Aku harap hatimu akan terbuka oleh ketukan cintaku yang begitu bergejolak.
Denny menghela napas panjang seraya mengusapkan tangannya lembut di atas kepala bocah kecil dalam pangkuannya itu.
"Paman...," ucap Shaka menyebut nama Denny dengan suara lirih.
"Ada apa Shaka?" jawab Denny membiaskan senyuman di bibirnya.
"Apa Shaka sungguh menginginkan itu?" tanya Denny memastikan.
Shaka menganggukkan kepalanya, tampak keseriusan di wajah bocah laki-laki berusia 6 tahun itu.
"Baiklah, nanti paman akan bicarakan hal ini dengan Ibumu, hem...," Denny tersenyum layaknya mendapat seribu dukungan.
"Baik, Paman."
Denny dan Shaka menyudahi lamunannya dan kembali bercengkerama dengan ceria. Mariam yang masih menangis di dalam kamarpun mendengar gelak tawa itu dari depan teras rumahnya. Mariampun lalu tersenyum dalam tangisan.
Seandainya tidak takut berdosa, ingin rasanya Mariam berkata bahwa takdir ini sungguh tidak adil. Namun, kesadaran Mariam cukup mendominasi kala itu, sehingga niatnya mengucapkan sesuatu yang tidak perlu itu ia urungkan.
__ADS_1
Bukannya Tuhan tidak pernah membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya? itu artinya dirinya adalah orang terpilih yang mampu untuk memikul beban ini.
Dalam sebuah penderitaan yang menimpa seseorang, setiap waktu selalu terasa panjang. Mariam berusaha menikmati saja waktu-waktu yang terasa panjang itu. Meski suara hatinya lantang menjerit, walau raganya lelah tak berdaya.
Tiba-tiba Mariam teringat, bahwa dirinya sedang mengukus kue bolu dalam dandangnya. Dengan sigap ia bergegas mengecek kompornya, dan benar saja bolu kukus mariam gosong hingga dandang pengukusnya mengeluarkan asap kehitaman dan nyaris meledak.
Mariam menjerit sembari terus menyebut-nyebut nama-Nya. Bersyukur suara Mariam terdengar sampai keluar, Denny pun berlari untuk melihat apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang Denny memberanikan diri mematikan api di kompor yang sudah mulai membesar.
Akhirnya Denny harus mendapati tangannya terkena sambaran api, walau api berhasil dipadamkan sebelum menyambar ke bilik rumah. Mariam terkesiap dan merasa sangat bersalah. Namun, Denny menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja walau luka bakar di tangannya terasa perih.
Dengan obat seadanya, Mariam mengolesi tangan Denny yang terbakar. Alih-alih merasa sakit, Denny justru mengembangkan senyuman di bibirnya. Shaka yang melihat hal itu ikut tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan mungilnya.
"Maafkan Mariam, Mas. Mariam lupa kalau sedang mengukus bolu," ujar Mariam sembari tetap sibuk mengolesi salep di tangan Denny yang terkena sambaran api.
"Apa kedatanganku begitu memukaumu? hingga dirimu tidak sadar bahwa kompormu masih menyala!" jawab Denny pura-pura ketus.
Mariam hanya mengulangi permintaan maafnya, sementara Denny tertawa di dalam hatinya.
"Ketahuilah Mariam, aku harus berterima kasih pada api itu," batin Denny sembari menyeringai.
Mariam yang tak menyadari bahwa Denny sedang bermain-main dengan kekhawatiran Mariam terhadapnya, terus merasa tidak enak hati lalu ketika Mariam selesai mengoleskan obat pada tangan Denny, ia tak sengaja melihat Denny tersenyum.
Barulah Mariam menyadari, sejak tadi Denny mempermainkannya.
"Apa sudah lebih baik, Mas?" tanya Mariam seraya merapatkan barisan gigi atas dan bawahnya hingga tercipta bunyi yang membuat ngilu.
"Rasanya panas sekali" sahut Denny asal.
"Ya, api itu memang sangat panas... karenanya jangan pernah bermain api!" tutup Mariam lalu beranjak dari hadapan Denny.
__ADS_1
Denny dan Shaka saling bertatapan, lalu keduanya kompak tertawa geli, melihat reaksi Mariam saat sadar dirinya dikerjai oleh Denny.
Bersambung....