
Di dalam kamar!
Tidak biasanya Mariam, terus berbaring. Padahal, ia tidak sedang sakit. Hari itu suasana hatinya sedang tidak bersahabat.
"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Denny seraya menaruh tangannya di dahi Mariam, untuk memastikan suhu tubuhnya. Semuanya normal dan Mariam, tidak sedang demam.
Mariam tidak menjawab. Ia malah menarik selimutnya dan memiringkan tubuhnya sambil memalingkan wajah. Denny merasa bingung pada sikap Mariam.
"Mariam, apa kamu marah padaku?" tanya Denny dengan ekspresi bingung. Denny membuang napas kasar. Ia tidak mengerti mengapa Mariam, bersikap demikian.
"Aku sedang tidak ingin bicara, Mas. Tinggalkan aku sendiri!" Mariam bicara penuh penekanan. Ia tidak menoleh pada Denny, yang masih duduk di sampingnya.
"Baiklah, aku akan ke luar. Katakan saja jika kamu butuh sesuatu ... hmm," tutur Denny. Ia bergegas meninggalkan istrinya yang sedang bad mood itu.
"Dasar tidak peka!" umpat Mariam, ketika Denny sudah berada di ambang pintu. Namun, karena suara Mariam sangat pelan. Suara itu tidak dapat di dengar oleh Denny.
"Apa dia tidak tahu? Aku sedang ingin dimanja." Gerundal Mariam. Lalu, Mariam bangkit untuk duduk. Ia merasakan hal aneh pada dirinya, kepalanya sedikit pusing dan perutnya terasa mual.
Meski tanda itu pernah dialami sebelunnya. Namun, Mariam tidak sempat berpikir ke arah sana. Ia hanya merasa ada perubahan emosi yang cukup berbeda.
Segera ia berlari menuju kamar mandi. Mariam memuntahkan isi perutnya yang sudah mendesak karena mual. Hingga tubuhnya terasa lemas dan tidak berselera.
Di ruang tamu!
__ADS_1
Denny menyeruput secangkir teh. Ekspresi wajahnya datar. Pikirannya masih tak tenang mengingat sikap Mariam, yang berbeda dari biasanya.
"Ada apa, Den?" tanya Ibu mengagetkan Denny. Wanita paruh baya itu duduk di seblah Denny. Dengan senyum yang khas membuat Denny, merasa nyaman saat di dekatnya.
"A-anu, Bu. Mariam ... " katanya terputus. Denny menghadapkan tubuhnya ke arah Ibu.
"Ceritakan saja! Dari pada kamu bingung sendiri," ucap Ibu. Sepertinya ia mengerti kegelisan hati Denny.
"Itu, Bu ... aku sedang bingung pada sikap Mariam. Hari ini dia hanya berbaring seharian. Tidak mau makan dan bicara saja, sepertinya sangat malas.
Ibu tersenyum penuh makna. "Coba saja, Den, ajak dia makan mangga muda. Siapa tahu dia langsung mau," saran Ibu.
"Maksud Ibu? Bagaimana mungkin suasana hati seseorang, akan berubah hanya dengan mangga muda ... " ucap Denny lirih.
"Lakukan saja saran dari Ibu! Kamu mau melihat keajaiban tidak?" tegas Ibu. Entah apa maksud dari kalimat Ibu itu. Tapi, akhirnya Denny berusaha menjalankan saran darinya.
"Oke, semuanya sudah dapat. Aku akan menjalankan misiku." Ujar Denny dengan yakin.
20 menit kemudian!
"Sayang ... coba lihat, aku membawakan makanan yang segar untukmu," tutur Denny dengan sepiring mangga muda yang sudah ia kupas dan iris. Serta bumbu rujak yang tak lupa ia sajikan di sauce plate.
Mariam mengintip dari balik selimut. Perutnya memang sedang lapar. Tapi, ia tidak berselera makan karena rasa mual yang sedang ia alami.
__ADS_1
"Apa itu, Mas?" Mariam bangkit dan bergeser menghampiri Denny ke tepi ranjang. Denny meletakkan terlebih dahulu rujak mangga itu di atas meja samping tempat tidur.
"Lihat saja, apa kamu menginginkan itu?" Denny tersenyum. Ia melihat Mariam masih terdiam. Kemudian, Denny mengambil satu iris dan dibubuhkannya sedikit bumbu rujak yang tersedia.
"Buka mulutnya, Sayang!" perintah Denny. Mariam membuka mulutnya. Denny langsung menyuapkan rujak mangga itu pada Mariam.
Perlahan Mariam mengunyahnya. Lama-lama ia ketagihan pada rasa asam, manis, dan pedas. Yang berpadu sempurna dari rasa mangga muda dan bumbu rujak itu.
Tanpa aba-aba. Mariam langsung mengambil piring berisi rujak mangga itu. Lalu, ia menyantapnya dengan lahap.
Denny meringis melihat Mariam. Ia heran, mengapa Mariam begitu lahap menyantap mangga muda yang sangat masam itu. Namun, Denny membiarkan saja, asalkan Mariam senang.
Dalam waktu sekejap. Rujak mangga muda itu habis tak bersisa. Lagi, Denny meneguk saliva seraya meringis menyaksikan hal itu.
"Apa itu sangat enak, Sayang?" tanya Denny penasaran. Mariam hanya memberi jawaban dengan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih ya, Mas. Akhirnya, rasa mualku berkurang," tutur Mariam. Wajahya kini kembali berseri meski masih terlihat sedikit pucat.
"Sayang, apa kamu sedang hamil?" tanya Denny teringat tanda-tanda umum pada wanita hamil. Dengan antusias ia menunggu jawaban Mariam.
"Mariam menatap Denny. Wanita itu tersenyum tanpa kata. "Kalau iya, bagaimana?" goda Mariam.
Denny langsung sujud syukur. Ia melompat kegirangan. Lalu, tangisnya pecah melukiskan keharuan.
__ADS_1
"Terima kasih, ya Allah. Atas anugerah yang Engkau berikan." Ucap Denny lirih. Kemudian, Denny mengecup mesra pucuk kepala Mariam.
Bersambung....